Kritik MSF untuk Anggota Tetap DK-PBB
Dokter Lintas Batas (MSF) mengkritik serangan terhadap fasilitas medis mereka di berbagai daerah konflik di dunia, dan mengatakan kebanyakan serangan itu melibatkan negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Presiden MSF, Dokter Joanne Liu pada sidang Dewan Keamanan PBB, Selasa (3/5/2016) memaparkan laporan tentang peningkatan serangan terhadap fasilitas kesehatan organisasi itu di berbagai belahan dunia, khususnya di Afghanistan dan Yaman.
"Meskipun anggota tetap Dewan Keamanan bertanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan keamanan, namun empat dari lima anggota tetap Dewan ini merupakan penanggung jawab utama atas serangan terhadap struktur kesehatan selama setahun terakhir," ujarnya.
Dokter Joanne menilai koalisi pimpinan Amerika Serikat di Afghanistan dan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman, termasuk kelompok yang bertanggung jawab dalam serangan ke rumah sakit dan pusat kesehatan milik Dokter Lintas Batas. Ia menyarankan semua negara khususnya anggota tetap Dewan Keamanan untuk berkomitmen terhadap hukum internasional.
Berdasarkan laporan MSF, rumah sakit dan klinik kesehatan milik organisasi itu di Kunduz, Afghanistan dan Sirwah, Yaman diserang selama satu tahun terakhir. Selain itu, puluhan rumah sakit lain di daerah-daerah konflik terutama Suriah juga menjadi sasaran serangan yang melibatkan anggota tetap Dewan Keamanan.
Dalam serangan Saudi terhadap rumah sakit MSF di Yaman pada Oktober lalu saja, puluhan orang tewas dan luka-luka serta tiga rumah sakit hancur. Akibat serangan itu, 200 ribu orang kehilangan akses pada pelayanan kesehatan.
Serangan terhadap rumah sakit milik Dokter Lintas Batas meningkat pada tahun 2015, padahal tindakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dalam laporannya juga memverifikasi ratusan serangan terhadap tenaga medis yang bertugas di negara konflik dalam satu tahun terakhir. Organisasi itu menyatakan banyak fasilitas kesehatan milik ICRC di daerah konflik termasuk Suriah, Yaman, dan Afghanistan mengalami kerusakan atau hancur.
Presiden ICRC, Peter Maurer menggarisbawahi pentingnya hukum kemanusiaan internasional, serta menyerukan AS dan semua pihak dalam konflik bersenjata untuk mematuhi kewajiban mereka dan mengembangkan langkah-langkah efektif untuk melindungi kehidupan warga sipil. Ia juga mendesak anggota tetap Dewan Keamanan untuk mencegah kekerasan terhadap tenaga medis, fasilitas dan transportasi, serta personil kemanusiaan yang terlibat dalam tugas-tugas medis.
Menurut para pengamat, selama negara-negara seperti, AS, Inggris, dan Perancis masih memegang kendali di Dewan Keamanan, dan meraup keuntungan dari pertempuran di Suriah, Yaman, dan Afghanistan, maka warga sipil di negara-negara konflik akan tetap menjadi korban konspirasi jahat Barat.
Laporan Dokter Lintas Batas dan ICRC paling tidak dapat mengungkap peran kekuatan-kekuatan arogan dan antek-anteknya dalam melakukan kejahatan perang. (RM)