Ketika AS Mulai Menuduh Intervensi Asing dalam Pemilu Presiden
-
Pemilu presiden Amerika Serikat
Kurang dari 100 hari tersisa sampai pemilihan presiden AS. Sementara pemilu presiden sangat dipengaruhi oleh krisis Corona dan krisis rasial di Amerika Serikat, beberapa pejabat intelijen AS justru memperingatkan campur tangan asing.
William Ivanina, Direktur Pusat Keamanan Nasional dan Kontra-Intelijen AS dalam sebuah pernyataan menekankan bahwa "para musuh berusaha mencuri korespondensi internal kampanye dan kandidat pemilu serta menyusup ke infrastruktur pemilu AS". Menurutnya, "Cina, Rusia, dan Iran adalah perhatian utama kami, sekalipun beberapa negara lain dan aktivis siber non-pemerintah juga dapat membahayakan proses pemilihan umum di negara kita."
Ucapan ini disampaikan, padahal dalam kenyataannya bahwa selama abad yang lalu, Amerika Serikat yang telah berulang kali ikut campur dalam proses pemilihan umum di banyak negara di dunia. Berbagai intervensi ini bahkan sering disertai dengan langkah-langkah militer dan keamanan untuk mengganggu pemilu, memanipulasi hasil pemilu, atau bahkan kudeta untuk menggulingkan pemerintah terpilih. Dalam beberapa dekade terakhir, intervensi Amerika di negara-negara lain lebih lunak tetapi lebih efektif dalam bentuk Revolusi Warna. Dengan kata lain, para pejabat pemerintah AS saat ini prihatin dengan apa yang terjadi di negara mereka yang telah digunakan oleh pemerintah AS sebelumnya untuk negara-negara lain selama bertahun-tahun.
David Shimer, akademisi di Universitas Yale dalam sebuah artikel berjudul "Ketika CIA Mengintervensi Pemilu Negara Lain" di majalah Foreign Affairs menulis, "Selama dua tahun terakhir, saya telah mewawancarai lebih dari 130 pejabat tentang sejarah 100 tahun campur tangan pemilu terselubung atau upaya asing untuk memanipulasi suara demokratis. Saya menemukan bahwa pada abad ke-21, pejabat senior keamanan nasional Washington setidaknya telah dua kali mempertimbangkan menggunakan CIA untuk ikut campur dalam pemilihan umum negara lain. Satu contoh pada tahun 2000 di Serbia yang mengarah pada keberhasilan ... dan yang lain, di Irak pada tahun 2005, CIA gagal."
Namun yang lebih penting, angka pengaruh negara-negara lain pada pola pikir Amerika telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Monopoli jaringan informasi Amerika telah dipatahkan dan suara media asing, khususnya jaringan sosial, telah masuk ke dalam Amerika Serikat. Karena alasan ini, publikasi narasi yang berbeda dengan yang ada di media arus utama di Amerika Serikat telah menarik perhatian sebagian besar opini publik Amerika.
Di sisi lain, meningkatnya ketidakpuasan terhadap keadaan Amerika Serikat saat ini dan meningkatnya protes terhadap ketidakefisienan sistem pemerintahan AS telah meningkatkan rasa haus para pemilih Amerika untuk mendengar pendapat yang berbeda.
Sampai dua dekade lalu, kebanyakan orang Amerika menganggap diri mereka makmur dan memiliki sistem pemerintahan yang efisien, sehingga mereka tidak perlu mendengarkan pendapat yang lain. Tetapi terungkapnya keresahan ekonomi dan sosial yang meluas, khususnya kekhawatiran tentang pendalaman berbagai ketidaksetaraan dalam masyarakat ini, telah mengarah pada pesan kritis terhadap sistem politik yang mengatur Amerika Serikat dan cita-cita egaliter, bahkan pesan yang berasal dari luar Amerika Serikat.
Jadi, alih-alih menghasut permusuhan asing untuk mengintimidasi para penentang di dalam negeri, para pejabat pemerintah AS harusnya menghilangkan kondisi yang melemahkan legitimasi sistem politik yang berkuasa dan memulihkan kepercayaan publik terhadap sistem ini melalui reformasi mendasar.