Babak Baru Safari Menlu AS ke Eropa
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo setelah tiga pekan dilaporkan memulai babak baru kunjungan ke Eropa. Selama safari ini, Pompeo akan mengunjungi empat negara Eropa tengah dan timur.
Praha merupakan destinasi pertama Pempeo di safari Eropanya. Menlu Amerika setelah dari Republik Ceko akan bertolak ke Slovania, Austria dan Polandia. Penempatan pasukan Amerika di Polandia, jaringan internet 5G dan tidak bergantung pada energi Rusia merupakan agenda kunjungan Pompeo ke Eropa tengah. Selain itu, agenda lain menlu AS adalah menebar permusuhan terhadap Cina dan Rusia.
Menlu AS di kunjungan tiga pekan lalu ke Eropa dan kunjungannya ke Inggris serta Denmark ingin menarik dukungan kedua negara ini untuk tidak bekerja sama dengan perusahaan Huawei Cina di proyek jaringan internet 5G. Pompeo di Denmark juga membujuk negara ini menentang penempatan pipa gas di proyek Nord Stream-2 di perairan mereka.
Proyek pipa gas Nord Stream-2 di samping Nord Stream-1 akan mengirim lebih besar gas Rusia ke Jerman dan negara-negara Eropa. Keuntungan pipa gas ini adalah ketergantungan Jerman dan negara Eropa lainnya pengimpor gas Rusia terhadap pipa gas yang melintasi Ukraina akan berkurang.
Proyek pipa gas Nord Stream-2 bertentangan dengan kebijakan strategis AS di Eropa dan dimaksudkan untuk menebar perselisihan antara Rusia dan Eropa. Amerika senantiasa membutuhkan musuh strategis untuk tetap eksis di Eropa. Pengembangan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Eropa timur ditujukan untuk memblokade Rusia di pebatasannya.
Kini Amerika di Eropa tidak dapat lagi mengandalkan Jerman, Prancis dan Inggris serta membutuhkan mitra baru yang dapat dipercaya. Mantan menteri pertahanan AS, Donald Rumsfeld setelah Jerman dan Prancis menolak menyertai Amerika di invasi ke Irak, berbicara mengenai Eropa lama dan baru serta menilai era Eropa lama telah berakhir.
Mantan presiden Barack Obama menggulirkan rencana perisai rudal di Polandia dan Republik Ceko untuk mengubah perisai keamanan Amerika dari Barat ke Timur Eropa. Rencana tersebut mendapat penentangan dan ancaman dari Rusia serta sikap Jerman dan Prancis yang menolak menyertai Amerika di implementasi rencananya tersebut. Kondisi ini memaksa Washington untuk mengkaji kembali rencananya.
Presiden Amerika, Donald Trump lebih serius mencari sekutu baru di Eropa dengan menebar Cinaphobia dan Russiaphobia. Trump saat ini ingin merealisasikan pengurangan militer Amerika di Jerman dan merelokasi sebagian dari pasukan tersebut ke Polandia. Rencananya selama kunjungan Pompeo ke Polandia akan ditandatangani kesepakatan terkait masalah ini. Sepertinya jika Joe Biden memenangkan pilpres mendatang, tidak akan ada perubahan strategis di padangan Amerika terhadap Eropa dan Rusia.
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas setelah pengumumkan sikap Trump terkait pengurangan pasukan Amerika di Jerman mengatakan, tensi saat ini antara Jerman dan Amerika Serikat tidak akan terselesaikan meski Donald Trump kalah di pemilu presiden mendatang.
Lebih lanjut Maas mengungkapkan, Siapapun yang berpikir bahwa kemitraan transatlantik akan kembali ke keadaan semula dengan kehadiran seorang presiden Demokrat di Amerika Serikat tengah meremehkan perubahan struktural. “Hubungan transatlantik sangat penting serta perlu untuk tetap dipertahankan, dan kami bekerja untuk memastikan bahwa mereka memiliki masa depan. Tapi dengan cara mereka sekarang, kebutuhan kedua pihak tidak lagi dapat dijamin,” ungkap Maas.
Cinaphobia juga menjadi bagian lain dari kebijakan strategis Amerika di Eropa. Cina setelah berhasil merebut sebagian besar pasar Eropa, ingin mengembangkan jaringan internet 5G. Sementara AS yang terlibat konfrontasi dengan Cina mulai melawan pengembangan teknologi baru yang dikembangkan perusahaan Cina di Eropa, di saat mayoritas negara Eropa memiliki hubungan luas dengan Beijing.(MF)