Pertemuan Menteri Luar Negeri Troika Eropa Membahas JCPOA
Uni Eropa dan Troika Eropa, yang terdiri dari Jerman, Prancis, dan Inggris, pada awalnya memainkan peran penting dalam implementasi kesepakatan nuklir JCPOA, meskipun setelah penarikan AS dari perjanjian nuklir ini, kini mereka memainkan peran negatif dan tidak dapat dibela dalam mempertahankan dan memenuhi janji-janji mereka. Mereka sekarang telah mengambil sikap ganda dengan prospek berkuasanya Joe Biden.
Menyusul perkembangan terbaru, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas bertemu di Berlin pada hari Senin (23/11/2020) dengan mitranya dari Inggris dan Prancis Dominic Raab dan Jean-Yves Le Drian, yang berfokus pada pembicaraan kesepakatan nuklir Iran, dan menyatakan harapan bahwa peralihan kekuasaan di Amerika Serikat dapat membuka cakrawala baru untuk mempertahankan JCPOA. Ketiga pejabat Eropa itu juga meminta Iran untuk kembali ke implementasi penuh perjanjian JCPOA dan menghentikan apa yang disebut "pelanggaran JCPOA".
Pernyataan itu muncul ketika Eropa hampir tidak mengambil tindakan efektif untuk memenuhi komitmen mereka di bawah JCPOA dan untuk mengurangi dampak sanksi sepihak AS terhadap Iran sejak pemerintahan Trump keluar darinya. Uni Eropa dan Troika Eropa telah berulang kali mengklaim bahwa, mengingat peran penting dari Perjanjian Nuklir JCPOA dalam menjaga perdamaian dan keamanan regional dan internasional, mereka ingin perjanjian tersebut dipertahankan dan berjanji untuk melakukan yang terbaik. Namun, karena tekanan AS dan kurangnya kemauan, Eropa menolak untuk memenuhi kewajibannya, terutama penerapan mekanisme interaksi keuangan dan perdagangan yang efektif dengan Iran yang disebut Instex.
Pada dasarnya, mengkaji sikap negara-negara Eropa setelah penarikan Amerika Serikat dari JCPOA menunjukkan ketidakmampuan mereka yang dalam untuk memenuhi komitmennya terhadap Iran.
Pada saat yang sama, para pejabat senior di tiga negara Eropa ini telah berulang kali mengklaim bahwa Iran sedang mencari senjata nuklir, dan menekankan bahwa mereka akan mencegah hal ini terjadi. Padahal, berbagai laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejak pelaksanaan JCPOA dengan jelas menunjukkan bahwa Iran tidak menyimpang dari kegiatan nuklir damai, dan berkomitmen penuh pada perjanjian internasional ini. Tapi selama Eropa melanggar kewajibannya, Iran secara bertahap mengurangi komitmen JCPOA-nya.
Sekarang dengan mencermati bahwa Joe Biden akan mengambil alih kekuasaan sebagai presiden terpilih selama dua bulan lagi, negara-negara Eropa berharap Amerika Serikat akan mengambil langkah untuk mempertahankan JCPOA. Namun, Eropa telah mengambil pendekatan baru dan menginginkan kesepakatan nuklir JCPOA untuk membuka jalan bagi kesepakatan lebih lanjut dengan Iran mengenai masalah lain.
Dalam sebuah artikel, Catherine Ashton, mantan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa yang terlibat dalam pembicaraan nuklir dengan Iran selama masa jabatannya, merekomendasikan kepada Joe Biden untuk mempertahankan JCPOA.
Ashton menulis, "Biden harus menjadikan JCPOA kesepakatan pertama, bukan yang terakhir. Kesepakatan 2015 tidak pernah dimaksudkan sebagai titik akhir negosiasi. Perjanjian ini membahas masalah utama dan khusus, yaitu program pengayaan uranium Iran, dan itu relatif berhasil."
Dengan demikian, negara-negara Eropa memiliki sikap ganda, di satu sisi mereka mengklaim ingin menjaga JCPOA, dan di sisi lain, mereka mengambil posisi mengancam dan menuntut lebih. Pastinya, jika Eropa ingin melanjutkan pendekatan ini, mereka akan menghadapi penentangan serius dari Iran. Republik Islam Iran menganggap JCPOA hanya sebuah perjanjian untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran dan mengharapkan semua pihak dalam perjanjian ini untuk memenuhi kewajiban mereka.