Saat Cina Geram atas Sikap AS Kobarkan Instabilitas di Asia Timur
Militer Cina menuding pemerintah Amerika Serikat sengaja mengobarkan instabilitas di kawasan Asia Timur dengan mengirim kapal perang ke kawasan ini.
Zhang Chunhui, juru bicara Pusat Komando militer Cina di timur negara ini di statemennya mengatakan, kapal perang Amerika tengah lalu lalang di Selat Taiwan dan dengan sengaja meningkatkan tensi di kawasan ini serta mengancam perdamaian dan stabilitas.
Zhang menambahkan, angkatan udara dan laut Cina mendeteksi dan mengawasi kapal perang USS Mustin Amerika yang diklaim tengah melakukan patroli dan lalu lalang normal dari Selat Taiwan.
Petinggi Cina ini menambahkan, Amerika tengah unjuk kekuatan dan memanfaatkan Taiwan sebagai alat untuk meraih ambisi strategisnya serta Beijing menentang keras langkah seperti ini.
Aksi petualangan Amerika di Asia Timur termasuk di wilayah tetangga Cina di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan sejak beberapa tahun lalu hingga kini menjadi salah satu kendala politik utama antara Beijing dan Washington.
Penyeberangan sistematis kapal perang Amerika dari Selat Taiwan dan program penjualan senjata ke wilayah ini termasuk isu yang meningkatkan tensi antara Cina dan AS di Asia Timur.
Keputusan terbaru Deplu Amerika untuk menjual 100 sistem Harpoon kepada Taiwan senilai lebih dari 2,37 miliar dolar telah meningkatkan tensi baru antara Cina dan Amerika dan dapat memperdalam konflik antara kedua negara.
Menurut Cina, langkah Amerika Serikat menjual senjata kepada Taiwan melanggar kebijakan utama Cina Raya dan masalah ini tidak dapat ditanggung oleh Beijing.
Amerika di permainan penjualan senjata dengan Taiwan selain meningkatkan sahamnya di pasar senjata dan peralatan perang di Asia Timur, juga ingin merusak kemampuan dan fokus strategis Cina sehingga mampu mengendalikan peningkatan kemampuan Beijing di bidang ekonomi, perdagangan dan teknologi.
Statemen Zhang Chunhui terkait bahwa Amerika dengan mengirim kapal perangnya ke Selat Taiwan telah berubah menjadi pemain negatif dan pengobar instabilitas. Aksi Amerika ini menurut Zhang dapat meningkatkan sensitifitas keamanan di kawasan strategis ini bagi Cina.
Di antara dampak kebijakan berbahaya Amerika ini adalah mendorong Cina untuk mengambil langkah-langkah perlawanan di Selat Taiwan termasuk memperkuat militer dan kemampuan perangnya di kawasan ini. Dengan demikian hal ini akan meningkatkan instabilitas syaraf di kawasan.
Seorang pakar kelautan Cina mengatakan, "Amerika memiliki kehadiran luas di kawasan ini dan Beijng selain menghadapi kondisi ini juga menempatkan instalasi pertahanan untuk menjaga perairan di kawasan ini."
Terlepas dari persaingan dan konflik antara Amerika Serikat dan Cina dalam beberapa dekade terakhir, tetapi selama era Donald Trump, ketegangan dalam hubungan antara kedua negara semakin meningkat, yang juga berdampak sangat negatif pada hubungan perdagangan mereka. Perang dagang terhadap Cina sejak Maret 2018 menjadi alat bagi Gedung Putih untuk menyerang kekuatan dan kapasitas ekonomi Cina, negara yang diprediksi akan menyalip ekonomi Amerika di tahun-tahun mendatang.
Pemerintah Cina berharap di era Jie Biden, presiden baru Amerika, tensi di hubungan kedua negara dan petualangan Gedung Putih di Asia Timur akan menurun. (MF)