Klaim Baru Pompeo terhadap Iran dan Jawaban Tehran
https://parstoday.ir/id/news/world-i88533-klaim_baru_pompeo_terhadap_iran_dan_jawaban_tehran
Beberapa roket Katyusha menghantam zona hijau Baghdad yang menjadi tempat kantor pemerintah dan kedutaan besar, termasuk Kedutaan Besar AS.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Des 22, 2020 17:42 Asia/Jakarta
  • Menlu AS, Mike Pompeo
    Menlu AS, Mike Pompeo

Beberapa roket Katyusha menghantam zona hijau Baghdad yang menjadi tempat kantor pemerintah dan kedutaan besar, termasuk Kedutaan Besar AS.

Serangan roket tersebut merusak beberapa bangunan dan kendaraan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.

Tidak lama setelah terjadi serangan tersebut, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di akun Twitternya hari Senin mencuit, "Militan yang didukung Iran secara sembrono menyerang Baghdad dan melukai warga sipil Irak. Rakyat Irak harus menuntut para penyerang. Para penjahat ini harus mengakhiri tindakan destabilisasi yang dilakukannya,".

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menjawab  klaim Pompeo di akun Twetternya dengan mengatakan, "Kami secara keras membantah tuduhan anti-Iran dari Pompeo yang secara terbuka bertujuan untuk menciptakan ketegangan. Iran menolak serangan apa pun terhadap fasilitas diplomatik. Kehadiran militer AS selama ini justru sumber ketidakstabilan di kawasan.Tidak ada distorsi yang dapat membebaskan Amerika Serikat dari kejahatannya."

Di penghujung periode kepresidenan Trump, Amerika Serikat terus mencari alasan untuk melanjutkan petualangannya dengan memutarbalikkan fakta, setelah mengalami kekalahan politik fatal di kawasan. Iran, Irak, Afghanistan, Yaman dan Lebanon menjadi  arena kekalahan Amerika Serikat dalam menjalankan kebijakan luar negerinya.

 

Saeed Khatibzadeh

 

Pompeo membuat klaim infaktual terhadap Iran dan menuding komandan pasukan Al Hashd Al-Shaabi sebagai pihak yang berada di balik serangan Minggu malam. Padahal, serangan tersebut sengaja dirancang oleh Amerika Serikat sendiri untuk membenarkan keberadaan pasukannya di Irak.

Qais al-Khazali, sekretaris jenderal Asa'ib Ahl al-Haq dan pemimpin faksi al-Sadiqun di parlemen Irak mengatakan bahwa kedutaan AS saat ini di Baghdad bukanlah kedutaan sahabat Irak, karena langkah Washington bertentangan dengan undang-undang parlemen Irak yang menegaskan pengusiran pasukan AS dari negaranya.

Dia menambahkan bahwa kekuatan militer kedutaan AS yang besar dan sejumlah besar senjata menengah dan berat di kedutaan telah mengubahnya menjadi barak militer yang dapat digunakan untuk menargetkan arus politik Irak dan membahayakan keamanan ibu kotanya.

Faktanya, Amerika Serikatlah yang saat ini menciptakan ketidakamanan dan melancarkan serangan roket dan mortir ke pusat-pusat diplomatik di Baghdad demi membenarkan keberadaan pasukannya. Kini, AS perlu menjaga kelangsungan hidup militernya di Irak yang semakin terancam. Di sisi lain, AS berusaha melemahkan Al-Hashd Al-Shaabi dengan menghasut opini publik Irak supaya menentang keberadaan pasukan relawan rakyat itu.

Destabilisasi kawasan oleh Amerika Serikat memperkuat spekulasi bahwa Gedung Putih yang saat ini diwakili oleh Mike Pompeo terus berupaya menciptakan ketegangan, keresahan, dan perselisihan di negara-negara yang menjadi poros perlawanan.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas diplomatik dan pemukiman tidak dapat diterima, tapi  menlu AS terus-menerus menuding Al-Hashd Al-Shaabi sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam serangan tersebut, tanpa menyodorkan bukti faktual satu pun.(PH)