Dokumenter Iran dalam Memory of The World
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i19486-dokumenter_iran_dalam_memory_of_the_world
Film dokumenter adalah sebuah tontonan yang menampilkan kehidupan nyata manusia atau lingkungan kehidupan mereka dan umumnya tanpa struktur naratif dan melibatkan para aktor profesional.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 03, 2016 07:13 Asia/Jakarta

Film dokumenter adalah sebuah tontonan yang menampilkan kehidupan nyata manusia atau lingkungan kehidupan mereka dan umumnya tanpa struktur naratif dan melibatkan para aktor profesional.

Film jenis ini menggunakan unsur-unsur faktual dan tentu saja bisa memanfaatkan unsur cerita dan tidak mengandung cerita fiktif untuk mendramatisir sebuah peristiwa. Kalau pun ada unsur tertentu yang ditambah, tentu ia tidak seperti drama yang umumnya ditayangkan di bioskop untuk tujuan komersial. Akan tetapi ia tetap bersandar pada realitas.

Saat ini film dokumenter memiliki nilai dan peran yang sangat luas di dunia dan sebagai media yang efektif dan dinamis di bidang pendidikan, ia menyajikan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran manusia terhadap dirinya, masyarakat, lingkungan hidup, alam, pengembangan dan promosi budaya, dan secara umum pengenalan dunia.

Film dokumenter mengejar esensi dan tujuan non-komersial dan unsur hiburan tidak terlalu ditonjolkan, tapi lebih banyak memberi pengetahuan dan wawasan. Film-film jenis ini karena menghidupkan nilai-nilai budaya juga dikenal sebagai sinema yang sehat. Ia juga dikenal sebagai sinema independen karena relatif terlepas dari motif ekonomi dan kerumitan yang ada dalam film-film komersial.

Perbedaan mendasar film dokumenter dengan film fiksi biasanya kalau film fiksi terpaku pada sebuah peristiwa dan ada campur tangan sutradara untuk kepentingan setting kejadian, sementara film dokumenter menjelaskan realitas yang sebenarnya tanpa interpretasi imajinatif. Perbedaan fundamental ini memunculkan metode-medote yang berbeda untuk memproduksinya. Sutradara film dokumenter dituntut untuk menjelaskan konten yang sebenarnya dan menampilkan karya yang sama menarik dengan film fiksi.

Genre dokumenter dianggap sebagai sebuah karya yang sakral, karena membutuhkan konsistensi, komitmen, serta integritas yang tinggi. Bahkan, beberapa pengamat perfilman menilai dokumenter lebih sulit dibuat ketimbang film fiksi. Sutradara Orizon Astonia adalah salah satu dari banyak pembuat film yang menganggap dokumenter sebagai karya seni yang lebih hakiki ketimbang film berskenario.

John Grierson bisa disebut sebagai pelopor film dokumenter Inggris, di mana ia sangat kreatif dalam mengangkat realitas kehidupan ke layar lebar. Ia berpendapat dokumenter merupakan cara kreatif merepresentasikan realitas dan untuk tujuan itu, ia menekankan agar film memiliki nilai estetika dan berpengaruh secara sosial. Grierson mendefinisikan dokumenter sebagai, ”creative treatment of actuality,” namun demikian kebebasan berkreasi hanya diizinkan selama terikat pada prinsip bahwa dokumenter adalah sesuatu yang bukan fiksi murni.

Grierson telah menuliskan prinsip-prinsip dokumenter dan mengatakan bahwa dokumenter adalah cara artistik mengungkapkan kebenaran yang biasanya tersembunyi. Menurutnya, film dokumenter terdiri dari fakta-fakta kehidupan nyata yang belum dimanipulasi oleh manusia dan disimpan dalam bentuk aslinya. Pada prinsip pertama, Grierson menyatakan bahwa kapasitas sinema dapat digunakan untuk mengamati dunia sekitar dan mencari apa yang kita inginkan untuk film dalam sebuah bentuk seni baru dan kritis.

Apa yang membuat dokumenter berbeda dengan film-film studio adalah fakta bahwa film studio mengabaikan kemungkinan menyingkap layar kepada dunia nyata. Sebaliknya film studio menggunakan latar belakang manipulatif, sementara dokumenter menampilkan peristiwa-peristiwa yang hidup dan kisah-kisah kehidupan.

Pada prinsip kedua, Grierson mengatakan bahwa dengan memiliki aktor asli (lokal) dan lokasi yang sebenarnya di mana peristiwa itu terjadi atau berlangsung, lebih efektif daripada harus melatih aktor untuk bertindak dengan cara tertentu atau membangun set berdasarkan asumsi. Pada prinsip ketiga, ia mengatakan, "Kami percaya bahwa bahan dan cerita-cerita yang diambil dari kehidupan nyata dan kejadian nyata, bisa ditampilkan lebih indah daripada naskah."

Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) baru-baru ini mengukuhkan empat dokumenter televisi Iran sebagai warisan dokumenter ingatan dunia atau Memory of the World. Dalam sidang Komisi Nasional Memory of World Program yang digelar di Tehran atas usulan Lembaga Penyiaran Nasional Republik Islam Iran (IRIB), empat dokumenter televisi Iran masing-masing, 'Memory and Legacy,' 'Freedom Bridge,' 'The Wind in the Desert Alone' dan 'Iran's Children' ditetapkan sebagai warisan dokumenter ingatan dunia. Keempat serial dokumenter tersebut sudah tayang selama bertahun-tahun di berbagai chanel IRIB.

Pada dasarnya, Memory of the World yang menjadi program UNESCO ini bertujuan melestarikan kekayaan bangsa-bangsa di dunia dalam bentuk warisan budaya terdokumentasi, karena mengandung nilai tinggi. Dokumen asli ini dapat berbentuk manuskrip, benda bersejarah, film, foto, dan lain-lain. Program Memory of the World ini diluncurkan oleh UNESCO pada tahun 1992 untuk melestarikan koleksi arsip di seluruh dunia dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya-bahaya yang mengancam warisan dokumenter dunia.

UNESCO ingin memastikan bahwa informasi tentang arsip tersebut terdistribusi dengan baik. Selain itu, Program Memory of the World bertujuan untuk melindungi warisan budaya dalam bentuk dokumen dan membantu jaringan para ahli untuk saling bertukar informasi dan mendapatkan sumber daya serta akses menuju material dokumen.

Warisan dokumenter Iran yang sudah masuk dalam Program Memory of the World antara lain; “Bayasanghori Shahnameh” (Prince Bayasanghor’s Book of the Kings), "Wafq Nameh Rab’ I-Rashidi" (Rab I-Rashidi Endowment), "Administrative Documents of Astan-e Quds Razavi in the Safavid Era," "Al-Tafhim li Awa'il Sana'at al-Tanjim karya Abu Rayhan al-Biruni," dan "Collection of Nezami’s Panj Ganj."

Dokumenter televisi, "Memory and Legacy" diproduksi selama tahun 1978-1979 oleh sutradara dokumenter Iran, Mostafa Razzaq-Karimi dan Farhad Varharam. Film ini mengkaji asal-usul Iran dan peradaban berbagai suku sampai era kontemporer. Perkawinan yang tepat antara gambar dan musik dalam film ini telah menciptakan momen-momen yang luar biasa dan menjadi salah satu dokumenter terbaik Iran pada dekade 1970-an.

Tanpa adanya pengenalan yang baik tentang masyarakat, film dokumenter akan menjadi sebuah fenomena yang sempit, personal, dan kebetulan belaka. Dan jika tanpa memperhatikan kejadian-kejadian penting di masyarakat, film dokumenter tentu akan memiliki banyak kekurangan. Peristiwa-peristiwa seperti, perang dan konflik antar negara, merupakan salah satu tema penting bagi para pembuat film dokumenter. Mereka dapat menghadirkan sebuah gambaran yang jelas dan nyata tentang keberanian dan kepahlawanan bangsa-bangsa di masa perang kepada generasi mendatang.

Dokumenter "Freedom Bridge" mengisahkan tentang pembebasan kota Khorramshahr dan pembangunan sebuah jembatan di atas Sungai Karoon di Iran, yang kemudian populer dengan Jembatan Pembebasan. Film ini diproduksi oleh chanel satu IRIB antara tahun 1980 sampai 1982. Ia menjadi salah satu dokumen gambar terpenting selama masa perang, di mana awalnya tayang di bioskop-bioskop dan kemudian di layar televisi.

Film "The Wind in the Desert Alone" menceritakan tentang sekelompok kecil peneliti yang melakukan perjalanan berbahaya ke gurun di Iran Tengah. Mereka mencoba berbagai rute untuk mengeksplorasi alam. Bersama dengan tiupan angin, kita akan dibawa ke sebuah gurun di Provinsi Semnan dan Kavir Loot. "The Wind in the Desert Alone" adalah salah satu film petualangan terbaik tentang padang pasir dan diproduksi oleh chanel satu IRIB pada tahun 1997 sampai 1998.

Sementara "Iran Children" diproduksi oleh chanel dua IRIB antara tahun 1995 sampai 1997 dan menggambarkan beberapa aspek budaya di Iran. Film ini memiliki 52 episode yang disutradarai oleh Nasser Taqvaei, Mohammadreza Aslani, Khosrow Sinaei, Farhad Motamen, Farhad Mehranfar, dan Mohammadreza Moqadassian.