Hari Aksara Internasional dan Kemajuan Iran
Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan tanggal 18 Shahrivar (8 September) sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy Day) atau Hari Internasional untuk Memberantas Buta Huruf. Penetapan hari tersebut berdasarkan hasil Konferensi Tingkat Menteri Negara-Negara Anggota PPB yang diselenggarakan UNESCO di Tehran, ibukota Iran, pada tanggal 17 November 1965.
Peringatan Hari Aksara Internasional pertama kali digelar pada tahun 1966 yang dilandasi oleh semangat untuk memberantas buta aksara di seluruh dunia. Oleh karena itu, hari tersebut diperingati oleh setiap negara untuk mengingatkan pentingnya melek huruf bagi semua masyarakat di seluruh dunia. Di banyak negara, buta huruf menjadi tantangan serius dan selalu diupayakan untuk pemberantasannya.
Salah satu indikator pertumbuhan masyarakat berperadaban di sebuah negara adalah tingkat pemanfaatan penduduk di negara itu dari kemampuan menulis dan membaca. Jelas bahwa pemberantasan buta aksara bukan hanya dalam kategori pengembangan budaya yang dianggap sebagai langkah pertama, namun juga sangat penting di bidang sosial, ekonomi dan politik. Setiap kali masyarakat bergerak maju ke arah literasi (keberaksaraan), maka tidak diragukan lagi bahwa perkembangan dan pendekatan masyarakat terhadap konsep pembangunan akan lebih cepat.
Setelah UNESCO menetapkan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional, negara-negara anggota PBB menetapkan perencanaan yang matang agar semua lapisan masyarakat di semua negara bisa terbebas dari buta aksara. Melalui program matang tersebut, buta huruf akan bisa diberantas secara bertahap.
Literasi (kemampuan membaca dan menulis) merupakan sarana utama untuk pengembangan ekonomi, sosial dan perlindungan lingkungan serta instrumen penting untuk memberantas kemiskinan dan memperluas lapangan kerja. Selain itu, melek aksara juga menjadi alat untuk mempromosikan kesetaraan gender, memperbaiki kesehatan keluarga, melindungi lingkungan dan mempromosikan partisipasi demokrasi. Literasi merupakan bagian terpadu dari pendidikan dan bertujuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan statistik terbaru yang diterbitkan UNESCO, tingkat melek huruf di dunia dalam 20 tahun lalu meningkat 10 persen. Melek huruf menurut organisasi tersebut adalah kemampuan membaca dan menulis. UNESCO menyebutkan, meskipun tingkat melek huruf di dunia mengalami perkembangan, namun hingga sekarang 758 juta orang masih buta huruf, di mana hampir dua pertiga dari mereka adalah perempuan.
Tahun ini, UNESCO akan memperingati Hari Aksara Internasional ke-50 dengan tema "Reading the Past, Writing the Future" menyusul upaya lima dekade nasional dan internasional untuk mendongkrak tingkat melek huruf di antara bangsa-bangsa dunia. Menurut data sebelumnya, terdapat lebih dari 126 juta anak yang tidak dapat membaca kalimat sederhana meskipun separuh dari mereka pernah bersekolah selama empat tahun.
Selain itu, terdapat 42% anak-anak dari keluarga miskin dan anak yang berada di wilayah konflik tidak bisa sekolah dan mereka akan menjadi "calon" buta-aksarawan baru. Oleh karena itu, strategi dan metode pelaksanaan pendidikan keaksaraan harus tetap dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi setiap negara.
Islam sangat menegaskan pentingnya pembelanjaran dan menuntut ilmu, bahkan ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Saw menyinggung hal ini dan menekankan tentang membaca. Dalam surat al-Alaq ayat 1-4, Allah Swt berfirman, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam."
Allah Swt dengan jelas menyebut "pengajaran" sebagai salah satu tujuan diutusnya Rasulullah Saw. Dalam surat al-Jumu`a ayat 2 disebutkan, "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
Mengingat salah satu misi diutusnya Nabi Muhammad Saw adalah mengajar dan belajar, maka Rasulullah Saw berulang kali menegaskan pentingnya ilmu, pembelajaran dan perannya untuk menyempurnakan kehidupan manusia. Beliau juga mencotohkan hal itu dalam perkataan dan perilaku beliau. Menurut Islam, pendidikan merupakan kebutuhan mutlak dan tidak mengenal waktu dan tempat.
Dalam sebuah riwayat terkenal disebutkan, "Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina." Hal ini dapat dipahami bahwa menurut Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban yang tidak dibatasi oleh tempat. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa "Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim." Riwayat-riwayat ini menjadi alasan kuat yang menunjukkan pentingnya pendidikan; belajar dan mengajar dalam Islam.
Pasca kemenangan Revolusi Islam, Imam Khomeini ra, pendiri Republik Islam Iran segera memerintahkan untuk memberantas buta huruf di masyarakat. Instruksi tersebut menunjukkan pemahaman beliau mengenai dampak buruk buta huruf yang menimbulkan banyak persoalan serius. Imam Khomeini mengatakan, pendidikan bagi semua adalah termasuk dari kebutuhan dasar bagi setiap bangsa, di mana pendidikan tidak hanya dalam satu barisan dengan kebutuhan kesehatan dan perumahan, bahkan lebih penting dari kedua hal itu.
Pencetus Revolusi Islam itu menambahkan, ini menjadi sumber rasa malu bahwa di sebuah negara tempat lahir ilmu pengetahuan dan sastra dan hidup di bawah bayang-bayang Islam –yang meyakini bahwa menuntut ilmu adalah wajib– namun tidak bisa membaca dan menulis. Kita harus mengubah budaya bergantung kita ini dengan budaya independen dan mandiri dalam konteks program jangka panjang. Semua warga yang buta aksara harus bangkit untuk belajar dan semua laki-laki dan perempuan yang melek huruf harus mengajar. Kementerian Pendidikan dengan segala fasilitasnya harus bangkit (untuk mengentaskan buta huruf).
Imam Khomeini lebih lanjut menuturkan, "Wahai saudara-saudaraku seiman! Harus ada mobilisasi untuk menghapus kekurangan yang menyakitkan ini. Akar kekurangan ini harus dicerabut. Para imam shalat jamaah harus mengajak semua warga kota dan desa. Dan di masjid, orang-orang yang bisa membaca dan menulis harus mengajar saudara dan saudari mereka dan jangan menunggu langkah-langkah dari pemerintah. Di dalam rumah, anggota keluarga yang melek aksara harus mengajari anggota keluarga lain yang buta aksara. Orang-orang yang buta huruf tidak boleh menolak instruksi sini."
Menyusul instruksi Imam Khomeini tersebut, Gerakan Literasi mulai beraktivitas pada tanggal 7 Dey 1358 Hs. Gerakan ini mendirikan berbagai kelas dan fasilitasnya di seluruh pelosok Iran. Sebelum Revolusi Islam, Iran termasuk salah satu negara di dunia yang buta huruf. Sebab, banyak warga negara ini yang buta huruf, sementara jumlah warga yang berpendidikan tinggi sangat sedikit.
Pasca kemenangan Revolusi Islam dan pembentukan Gerakan Literasi, Republik Islam Iran mengambil langkah-langkah efektif terkait pengentasan buta aksara. Saat ini lebih dari 93 persen warga Iran telah melek huruf. Setelah 37 tahun berlalu sejak Revolusi Islam, Iran berhasil meraih berbagai prestasi gemilang di berbagai sektor sains dan teknologi. Prestasi-prestasi ini diraih ketika Iran menghadapi berbagai persoalan seperti perang yang dipaksakan rezim Saddam Irak selama delapan tahun dan sanksi-sanksi ekonomi.
Pencapaian teknologi nuklir damai merupakan salah satu prestasi besar Republik Islam. Sekarang, Iran telah menjadi negara nuklir dan secara praktis menjadi anggota klub nuklir dunia. Meskipun di bawah berbagai sanksi dan ancaman, namun Iran berhasil mencapai siklus bahan bakar nuklir (pengayaan) secara sempurna. Dari sisi sains dan teknologi, Iran berada di urutan 7-8 negara maju dunia. Prestasi ini berkat upaya tak kenal lelah para pemuda dan pakar Iran.
Selain itu, Republik Islam merupakan satu-satunya negara di kawasan yang memiliki kemampuan lokal untuk memproduksi dan meluncurkan satelit dengan berbagai tujuan. Seiring berlalunya waktu, Iran akan meningkatkan kemampuannya tersebut. Selain mencapai kemajuan teknologi di bidang nuklir dan peluncuran satelit, Republik Islam juga mencapai kemajuan di sektor nanoteknologi, di antaranya; di sektor produksi dan penimbunan energi, peningkatan produktivitas pertanian, detoksifikasi air, diagnosa penyakit, pemberian obat, penimbunan makanan, pembersihan udara, pengendalian hama dan lain-lain.
Di bidang teknologi dan riset Sel Punca (stem cell), Iran masuk sebagai salah satu dari 10 negara terbaik dunia. Para ahli dan peneliti Iran telah mampu menggunakan Sel Punca untuk mencangkok tulang otak, kulit dan memperbaiki jaringan jantung yang rusak. Selain itu, Iran juga mengkloning Sel Punca di institut riset Royan dan Isfahan. Para ahli Iran juga menggunakan Sel Punca untuk transplantasi kornea. Sel Punca juga diperbanyak untuk mengobati kanker atau kerusakan jaringan jantung, saraf, dan sel-sel tulang serta perbaikan tulang belakang yang cedera.
Produksi dan kloning Sel Punca Embrio adalah bagian dari prestasi besar Iran di bidang teknologi modern. Di Iran, Sel Punca Embrio dan kloning telah berubah menjadi ilmu pengetahunan lokal. Kloning hewan seperti kambing, domba, sapi dalam beberapa tahun terakhir, telah mengantarkan Iran menjadi bagian dari negara-negara yang aktif di bidang Sel Punca.
Medis nuklir, obat rekombinasi, kemajuan dalam produksi obat anti-kanker, pengobatan cedera tulang belakang menggunakan sel Schwann (Schwann Cells) dan produksi sukses obat anti-Aids (Immunomodulator Drug/IMOD) adalah di antara prestasi berharga para peneliti dan ilmuwan Iran di bidang ilmu medis.
Perlu dicatat bahwa perempuan Iran memiliki saham besar dalam kemajuan dan prestasi sains di negara ini. Kebanyakan yang keterima di jurusan bidang tersebut adalah para mahasiswi. Oleh karena itu, jumlah perempuan terdidik dan menjadi ilmuwan Iran di berbagai bidang, sangat mengagumkam.
Berdasarkan perkiraan SCImago Journal Rank, Iran akan menempati urutan ke-4 dunia pada tahun 2018 dalam menyajikan artikel ilmiah, inovasi ilmiah dan industri serta teknis di tingkat dunia. Hal ini mengingat kelanjutan percepatan kemajuan ilmu pengetahuan dan penelitian di Iran. The SCImago Journal & Country Rank adalah sebuah portal yang menjadi indikator jurnal dan karya ilmiah berbagai negara yang dikembangkan berdasarkan database Scopus (Elsevier B.V.).