Nowruz dan Gaya Hidup (3-habis)
Safieh Golrokhsar, penyair Tajikistan menyebut Nowruz dan musim semi sangat menyihir. Ia mengatakan, “Saya sangat menyukai musim semi. Karena dapat merasakan mukjizat alam. Saya mulai mengucapkan puisi di usia 12 tahun dan tepat di musim semi. Sampai usia itu, saya selalu mendaki gunung dan mengambil rumput pertama yang tumbuh, begitu juga bunga. Saya mengetahui setiap nama bunga. Saya tahu kapan dan di mana ia mekar.
Suatu waktu kami dibawa ke gunung untuk memetik bunga. Bulan Farvardin, bulan pertama di musim semi. Bayangkan betapa indahnya gunung-gunung Tajikistan di bulan itu. Tiba-tiba saya seperti tidak melihat siapapun dan mendengar suara apapun di sana. Saya seperti terbawa sesuatu kekuatan menuju tempat yang penuh bunga warna-warni. Saya hanya memandang tempat itu. Teman-teman sekolah berteriak-teriak memanggilku, tapi saya tidak mendengar. Ketika kami kembali ke rumah, yang pertama kulakukan adalah menuliskan apa saja yang ada dalam ingatanku. Sejak saat itu saya merasa bukan diriku sendiri.”
Apa yang dikatakan oleh penyair Tajikistan itu benar. Musim semi membawa kita bersamanya. Keindahannya telah membius dan membuat kita terpana. Betapa beruntungnya para seniman yang dapat merasakannya. Para penyair, pelukis dan pemusik senantiasa mendapat ilham dari alam lalu mencipta karya-karya abadi. Puisi yang indah dan lugas, kanvas yang berwarna-warni dan musik yang mendayu-dayu.
Perilaku sosial dan gaya hidup mengikuti cara pandang kita tentang kehidupan itu sendiri. Apa tujuan kehidupan? Setiap tujuan yang kita tetapkan secara alami akan mengusulkan satu gaya hidup yang sesuai dengan kita. Gaya hidup merupakan bagian inti dari sebuah peradaban. Karena peradaban itu sendiri terdiri dari dua bagian; pertama merupakan alat atau perkakas dan yang kedua adalah hakiki. Bagian pertama berupa nilai-nilai yang biasanya untuk menentukan kemajuan sebuah negara seperti sains, industri, penemuan, politik, ekonomi dan lain-lain.
Sementara bagian hakiki adalah hal-hal yang membentuk kehidupan itu sendiri dan itulah gaya hidup. Hal-hal seperti keluarga, pernikahan, model rumah, pakaian, makanan, pekerjaan dan lain-lain. Begitu juga perilaku masyarakat di bidang politik, olahraga, media dan bagaimana berperilaku dengan orang tua, anak dan istri. Termasuk juga dengan bagaimana melakukan perjalanan, bersikap dengan orang, etnis dan agama lain. Semua ini merupakan daftar panjang yang membentuk sebuah peradaban manusia, sekaligus bagaimana menilai sebuah peradaban kembali pada variabel-variabel ini.
Adat dan tata krama Nowruz merupakan manifestasi dari gaya hidup Iran yang islami. Sebelumnya telah dikatakan bahwa segala yang terjadi dalam perayaan Nowruz bertujuan menguatkan pondasi keluarga dan hubungan sosial. Dalam budaya Iran dan begitu juga dengan perintah agama disebutkan agar dalam menyelenggarakan perayaan harus ada upaya silaturahmi, menjauhi sikap pamer dan iri atas apa yang dimiliki orang lain. Lalai akan pesan mulia Nowruz ini akan membuatnya hanya sekadar perayaan berulang, formalitas dan melelahkan.
Ada hal penting dalam perayaan Nowruz yang perlu disinggung. Ketika seseorang yang merayakan Nowruz memahami perubahan lahiriah di alam dan sampai pada perubahan batinnya, maka adat dan tata krama Nowruz dapat menjadi satu perubahan budaya. Nowruz dapat menjadi pengikat antara kita di masa kini dengan mereka yang telah meninggalkan kita dan generasi mendatang. Karena gaya hidup Iran yang islami di perayaan Nowruz dapat menjadi teladan bagi orang lain.
Perayaan Nowruz dapat mengkilapkan ruh manusia. Menghempaskan keletihan dari jiwa manusia. Para peneliti kontemporer menyebut salah satu variabel pembeda gaya hidup yang satu dengan lainnya adalah semangat masyarakat dan bagaimana mereka ceria menjalani kehidupannya. Di sini pentingnya memperkenalkan budaya Nowruz kepada orang lain. Karena ini sebuah peradaban yang dimulai dengan perayaan di musim semi. Sebuah perayaan untuk mengumpulkan anggota keluarga.
Pengaruh kuat alam dalam budaya Iran merupakan contoh tepat bagi para pecinta alam di dunia dan memiliki perhatian lebih kepada gaya hidup warga Iran dalam perayaan Nowruz. Dalam sejarah budaya Iran, penanggalan selalu berhubungan erat dengan pengertian dan kandungan alam. Cara pandang ini sangat khusus terkait peradaban Iran yang berseiring antara simbol-simbol dan anasir kehidupan. Awal tahun baru yang bersamaan dengan musim semi dan tumbuhnya tanaman setelah musim dingin.
Dalam gaya hidup Iran, Nowruz banyak memiliki adat dan tata krama yang berpuncak pada penghormatan kepada manusia sebagai pemberian alam. Menjaga lingkungan hidup merupakan salah satu kebutuhan penting manusia untuk melanjutkan kehidupannya di atas bumi. Setiap kesalahan yang dilakukan terhadap lingkungan hidup, bakal terjadi kerugian yang tidak dapat ditebus. Karena itu berarti bahaya besar mengancam keselamatan makhluk hidup, termasuk manusia sendiri.
Perayaan Nowruz juga memberikan pesan untuk menghormati lingkungan hidup dan merawat pemberian alam ini. Tanggal 15 Isfand (bulan kedua belas dalam penanggalan Iran) dalam kalender resmi Iran ditetapkan sebagai Hari Tanam Pohon. Itu berarti dua pekan sebelum tibanya tahun baru dan musim semi, warga Iran melakukan penanaman pohon di seluruh negeri. Menanam pohon sangat penting, sehingga Rasulullah Saw bersabda, “Bila ada tunas di tangan kalian dan kiamat segera tiba, dan kalian hanya punya waktu menanamnya, maka lakukanlah itu.”
Sudah barang tentu perilaku warga Iran menjelang tahun baru merupakan gaya hidup yang positif. Bahkan boleh dikata warga Iran menjaga hampir semua tata krama dalam perayaan Nowruz. Menjelang tahun baru, rakyat Iran menanti tumbuhnya kacang-kacangan yang akan digunakan dalam acara pergantian tahun. Selain itu, menyiapkan taplak Nowruz yang berisikan tujuh ragam tanaman yang dimulai dengan huruf S pada hakikat untuk cara bersyukur atas produk-produk pertanian dan menghormati para petani.
Namun menghidupkan kembali tradisi dan adat di perayaan hari Nowruz harus tetap diperhatikan jangan sampai melampaui batas dan terjatuh pada khurafat. Karena bertentangan dengan gaya hidup Iran yang islami. Jelas, setiap tradisi, baik sekalipun, dalam perjalanan waktu ada kemungkinan dimasuki hal-hal khurafat. Dalam perayaan Nowruz juga ada khurafat yang menyebut ada hari naas, sehingga pada hari itu orang-orang harus keluar rumah seharian. Ini tidak dapat diterima oleh syariat dan akal manusia.
Ayatullah Syahid Muthahhari seorang ahli fiqih dan filsuf juga mencatat masalah khurafat dalam perayaan Nowruz. Beliau mengatakan, “Al-Quran dalam banyak ayat secara transparan mengatakan bahwa sumber dari keburukan daan naas tidak keluar dari wujud manusia itu sendiri. Yakni, mungkin saja manusia memiliki pemikiran dan akidah yang buruk. Bila pemikiran dan akidahnya dipenuhi khurafat, maka keburukannya pada kebodohan yang dimilikinya. Keburukan ini tidak berada di tempat lain, selain dalam moral yang bobrok. Keburukan itu pada perbuatan buruk, tidak pada yang lain.”
Dengan demikian, kita melihat bahwa perayaan Nowruz yang dilakukan olah rakyat Iran dan tibanya musim semi bukan pengulangan perayaan tradisi kuno saja, tapi sumber perubahan dan berkah yang banyak dalam kehidupan saat ini manusia. Tentu saja itu dapat diraih dengan penelitian detil terkait akar, cara merayakan dan hasilnya. Dengan begitu, perayaan Nowruz mengajarkan bagaimana hidup yang lebih baik di tahun baru dan memberikan warna lain bagi gaya hidup kita.
Dalam kondisi demikian, musim semi yang menjadi tonggak perubahan alam berada di setiap musim. Setiap hari bagi manusia harus menjadi Nowruz atau Hari Baru. Hari dimana tunas-tunas mulai muncul di tangkai pohon. Dan semua itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah.