Kehancuran Daesh, Hadiah untuk Bangsa Regional
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i47339-kehancuran_daesh_hadiah_untuk_bangsa_regional
Jihad tanpa henti para pejuang dan pasukan pembela Haram Ahlul Bait as akhirnya membuahkan hasil.
(last modified 2026-02-23T09:56:34+00:00 )
Nov 27, 2017 12:50 Asia/Jakarta

Jihad tanpa henti para pejuang dan pasukan pembela Haram Ahlul Bait as akhirnya membuahkan hasil.

Komandan Unit Quds Pasdaran Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani pada Selasa (21/11/2017) mengumumkan berakhirnya kehidupan pohon terkutuk Daesh melalui sebuah surat kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Mayjen Soleimani mengatakan, "Operasi pembebasan al-Bukamal, benteng terakhir Daesh, telah selesai dan bendera geng Amerika-Zionis ini telah diturunkan, dan bendera Suriah dikibarkan."

Lalu, bagaimana Daesh bisa muncul? Ini adalah pertanyaan yang menghantui pikiran banyak analis. Berbagai teori dijabarkan dengan basis ideologis dan politik, dan bahkan dalam bentuk teori sejarah dengan akar kolonialisme. Namun, banyak analis menekankan – berdasarkan dokumen dan bukti – peran Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel dalam kemunculan gerakan takfiri Daesh. Dengan demikian, penyebab munculnya kelompok teroris dan takfiri ini harus dirunut dalam invasi AS ke Irak.

Pasca runtuhnya rezim Ba'ath Saddam dan kehadiran pasukan AS di Irak, serta kekacauan di negara itu, para teroris Al Qaeda memanfaatkan kekacauan ini dan mengumumkan cabang barunya di Irak di bawah pimpinan seorang perwira intelijen Ba'ath, Abu Musab al-Zarqawi, yang punya pengaruh di kalangan petinggi Al Qaeda.

Zarqawi – sesuai dengan skenario baru yang disiapkan untuknya – meluncurkan serangan teror besar-besaran terhadap markas militer dan para pejabat militer dan politik serta tokoh agama Irak demi mencegah terbentuknya sebuah pemerintahan baru. Dia dan kelompoknya membunuh sejumlah besar Muslim Syiah dan Sunni di negara tersebut. Proyek Zarqawi kemudian dilanjutkan oleh Abu Omar al-Baghdadi dan Abu Bakr al-Baghdadi atas nama Negara Islam Irak. Dengan pecahnya krisis Suriah, kata "Syam" juga disematkan ke dalam nama kelompok ini dan terbentuklah ISIS atau Daesh.

Abu Bakr al-Baghdadi

Daesh mampu menduduki berbagai wilayah di Suriah dan Irak dengan dukungan material dan intelijen dari AS dan beberapa negara di wilayah Timur Tengah. Pada Juni 2014, Daesh – dengan dukungan beberapa negara regional, termasuk Arab Saudi dan Qatar – mampu menduduki daerah-daerah strategis di Irak seperti, Provinsi Nainawa, Salah al-Din, al-Anbar, serta sebagian daerah di Provinsi Diyala dan Kirkuk, dan bahkan pinggiran kota Baghdad.

Daesh – seperti kanker ganas – dengan cepat berkembang untuk melaksanakan konspirasi yang dirancang oleh AS dan Israel yaitu; memecah negara-negara kawasan dan mematahkan benteng perlawanan di Suriah dan Lebanon. Mereka bergerak di bawah bendera hitam Daesh, yang tidak lain hanyalah sebuah penipuan atas nama Islam.

Fitnah dan huru-hara besar ini bertujuan untuk mengobarkan api perang atas nama Negara Islam Irak dan Syam. Pada awal-awal manuvernya, Daesh berhasil mengelabui puluhan ribu pemuda Irak dan Suriah dan kemudian bergerak untuk menduduki ratusan ribu kilometer persegi wilayah, yang terdiri dari ribuan desa, kota, dan pusat provinsi di Irak dan Suriah.

Kejahatan Daesh

Para teroris Daesh menduduki atau menghancurkan ribuan pabrik dan infrastruktur penting di kedua negara tersebut, termasuk jalan raya, jembatan, kilang dan sumur minyak, jaringan pipa minyak dan gas, pembangkit listrik, dan properti-properti lain. Mereka juga meledakkan atau membakar kota-kota penting bersama warisan sejarah dan peradaban besar umat manusia.

AS dan rezim Zionis – sebagai sutradara krisis dan pemasok senjata untuk kelompok-kelompok teroris – memanfaatkan proyek perang proksi di Timur Tengah untuk menyebarkan kekacauan serta menghancurkan sumber daya dan landasan material dan spiritual dunia Islam.

Kemajuan mengejutkan dan cepat para monster Daesh di Irak, telah menyeret negara ini di ambang sebuah genosida sektarian dan penghancuran tempat-tempat suci di Samarra, Karbala, Najaf dan Kazimain, sampai Marja' Besar Syiah Irak, Ayatullah Sayid Ali Sistani mengeluarkan fatwa jihad kifai dan menyelamatkan Irak dari sebuah konspirasi dan fitnah besar.

Di tengah kondisi kritis ini, Republik Islam Iran juga mengambil langkah-langkah di bawah arahan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan para pejabat negara khususnya Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) untuk mengatasi ancaman keamanan di sekitar wilayah Iran dan dampaknya terhadap keamanan nasional.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Dalam konteks ini, Tehran – melalui koordinasi dengan pemerintah Baghdad – mulai memberikan bantuan konsultasi militer kepada Irak dan sebuah strategi yang tepat untuk melawan penyebaran pengaruh Daesh. Strategi ini kemudian dilaksanakan dengan melibatkan militer Irak dan pasukan relawan rakyat. Pada waktu itu, kelompok teroris Daesh sudah berada di pinggiran Baghdad dan posisi mereka hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Makam Suci Kazimain di utara Ibukota Irak.

Setelah periode ini, pasukan Irak dan relawan rakyat al-Hashd al-Shaabi mencapai kemenangan atas Daesh. Pasukan Irak berhasil mengendalikan rute dari Baghdad ke Samarra, yang merupakan mukaddimah untuk pembebasan banyak daerah di Provinsi Salah al-Din. Perlawanan ini kemudian berhasil membebaskan daerah-daerah penting seperti kota al-Ramadi, Ibukota Provinsi al-Anbar pada 28 Desember 2015.

Perlawanan ini benar-benar telah mengubah perimbangan baik di Irak maupun di Suriah. Operasi menumpas teroris Daesh dengan melibatkan semua pasukan terus diintensifkan dan menyebabkan terbebasnya kota Fallujah. Setelah tiga tahun pendudukan Mosul, pemerintah Irak berhasil merebut kembali semua wilayahnya dari kelompok teroris Daesh, dan benteng terakhir mereka di al-Qa'im juga jatuh. Daesh memiliki rencana komprehensif untuk menghancurkan Islam dan secara khusus menyerang Republik Islam Iran dan menciptakan kekacauan di wilayah Iran.

Lembaga think tank RAND dalam sebuah laporan yang disusun oleh James Dobbins pada Juli 2016 menulis, "Ketika para diplomat senior AS, Rusia, Arab Saudi, Turki, Iran dan Uni Eropa berkumpul untuk melakukan dialog dengan tujuan merancang solusi politik untuk konflik Suriah di Wina, kita tidak dapat optimis untuk menemukan solusi bagi perang empat tahun yang menyiksa ini."

Think tank RAND dalam menjelaskan strateginya, mengatakan bahwa proses itu mungkin saja memakan waktu bertahun-tahun. Dalam rentang ini, masing-masing kelompok harus memerintah di wilayah yang dikuasainya. Ini berarti bahwa Suriah secara praktis akan dipecah untuk sementara. Dari sudut pandang think tank ini, wilayah yang diduduki Daesh akan tetap berada di bawah pemerintahan internasional, sampai Suriah bersatu kembali.

Menurut think tank RAND, kasus Suriah mirip dengan Jerman pasca tahun 1945, di mana terpecah menjadi empat wilayah dan terpisah selama 45 tahun sebelum negara itu bersatu kembali. Hal yang sama bisa dilakukan di Suriah. Namun, nasib Suriah dan Irak, tidak diputuskan di think tank Amerika, tapi dalam pertarungan nyata di lapangan dengan Daesh.

Washington telah menghabiskan lebih dari 2 miliar dolar selama tujuh tahun terakhir untuk membiayai kelompok-kelompok bersenjata di Suriah. Tapi, perang melawan terorisme dan kemenangan besar di al-Bukamal dan Deir Ezzor telah menggagalkan konspirasi AS. Oleh karena itu, Mayjen Soleimani menekankan, "Saya yakin bahwa perlawanan pemerintah Irak dan Suriah dan ketahanan militer dan pemuda di kedua negara itu, khususnya al-Hashd al-Shaabi dan pemuda Muslim lainnya di negara-negara lain, di samping kehadiran kuat Hizbullah yang dipimpin oleh Sayid Hasan Nasrallah, memainkan peran kunci dalam mengalahkan fitnah berbahaya ini."

Dalam salah satu pidatonya, Mayjen Soleimani mengatakan, "Ketika pihak lawan tidak membedakan lagi antara warga biasa dengan tentara, dan hanya berpikir untuk membunuh, dan tidak peduli berapa banyak orang yang tidak bersalah terbunuh, maka diplomasi sudah tidak ada gunanya, tapi kita harus berjihad melawan mereka."

Mayjen Soleimani

Ketika menggambarkan kejahatan dan tragedi yang diciptakan oleh kelompok syaitan ini, Mayjen Soleimani menuturkan, "... Dalam peristiwa ini, telah terjadi kejahatan yang sangat mengerikan yang tidak bisa diungkapkan termasuk, memenggal anak-anak atau mengupas kulit orang dewasa hidup-hidup di hadapan keluarganya, menawan wanita dan perempuan tak berdosa dan kemudian memperkosa mereka, membakar orang hidup-hidup dan menyembelih orang secara massal."

Semua peristiwa pahit ini telah menjawab alasan kehadiran Iran untuk menghadapi musuh kemanusiaan ini. Semua kejahatan ini dirancang dan dilaksanakan oleh para pemimpin dan lembaga-lembaga pemerintah AS, sesuai dengan pengakuan pejabat tertinggi Amerika, yang saat ini sedang memimpin negara tersebut.

Apa yang ditulis oleh Mayjen Soleimani, tidak membutuhkan penafsiran dan penjabaran lagi, karena petaka dan tragedi besar ini telah berbicara tentang tujuan konspirasi dan hakikat yang sebenarnya dari Daesh. Oleh karena itu, harus dikatakan bahwa kemenangan ini tidak hanya untuk Iran, Suriah, Irak dan Rusia, tapi juga hadiah berharga bagi masyarakat di Timur Tengah dan semua orang yang pernah merasakan getirnya konflik. Kehancuran Daesh di Suriah harus menjadi awal babak baru untuk memperkuat wacana dialog politik, yang jauh dari pemikiran takfiri Daesh demi mencapai keamanan dan perdamaian di seluruh penjuru Suriah.

Sekarang dan setelah hancurnya Daesh di Suriah dan Irak, Presiden Iran, Rusia dan Turki – sebagai tiga negara yang menggagas perundingan Astana – bertemu di kota Sochi, Rusia untuk mengambil langkah penting lainnya. Sebuah Langkah yang dapat menjadi pijakan bagi perdamaian dan stabilitas permanen di Suriah pasca Daesh, meskipun jalan sulit masih menghadang.