Kehadiran Militer Iran di Suriah
Setelah munculnya gerakan revolusioner dan kebangkitan Islam di wilayah yang disebut Barat sebagai Musim Semi Arab, Amerika Serikat berpendapat bahwa protes tersebut harus memasuki fase pemberontakan militer. Dengan pandangan itu, AS mulai mempersenjatai kubu oposisi Suriah pada 5 Februari 2012.
Kelompok-kelompok seperti Daesh, Ahrar al-Sham, Front al-Nusra, dan bahkan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dibentuk tepat pada tahun 2012 setelah pernyataan Henry Kissinger dan api perang yang kian membara.
Kissinger – sebagai seorang ahli teori di bidang militer dan politik – menekankan bahwa pemerintahan Bashar al-Assad harus digulingkan dengan cara apapun dari dalam, bahkan sesuai dengan teori perang. Suriah dari aspek strategis berkedudukan di poros perlawanan di Timur Tengah dan selalu menjadi salah satu sasaran utama AS dan rezim Zionis Israel dalam konflik Arab-Israel.
Mengingat transformasi terbaru di Timur Tengah, posisi Suriah menjadi semakin penting bagi Barat. Negara ini terletak di persimpangan geopolitik kawasan dan sangat strategis karena perbatasannya dengan Yordania, Israel, Lebanon, Turki, dan Irak, serta lokasinya di persimpangan jalur air dan jalur energi regional. Kerja sama militer yang ekstensif dengan Rusia melalui pembangunan sebuah pangkalan militer di Tartus di sepanjang Laut Mediterania juga merupakan faktor penting lainnya, yang dianggap sebagai benteng utama Timur Tengah di Suriah.
Oleh karena itu, Barat melihat Suriah sebagai jembatan untuk tujuan jangka panjangnya. Namun, hal yang membuat kedudukan ini semakin penting adalah bahwa Iran dalam sebuah kesepakatan permanen dengan Suriah dan Rusia memainkan peran utama, yang sejalan dengan strategi anti-Zionis. Dalam proses ini, Hizbullah Lebanon memainkan peran kunci dalam kebijakan luar negeri Iran dan Suriah, dan mampu memukul Israel secara politik dan militer.
Dari aspek keamanan, hubungan Iran dan Suriah pada dasarnya sangat vital bagi kedua belah pihak. Oleh sebab itu, setelah terjadinya krisis di Suriah, Iran memberikan dukungan penuh kepada pemerintah Bashar al-Assad untuk melawan ancaman tersebut dan membentuk sebuah aliansi dengan Rusia dan Cina untuk mencegah dominasi Barat di kawasan. Tehran kemudian menyusun kebijakan luar negerinya yang sejalan dengan tujuan tersebut.
Mengingat pertimbangan ini, dimensi strategis terpenting Suriah bagi Republik Islam Iran dapat dikaji dan dianalisa dari dua aspek berikut; pertama, mencegah terealisasinya tujuan Barat untuk melemahkan poros perlawanan, dan kedua, melawan skenario jahat Israel untuk disintegrasi negara-negara kawasan. Meski tentara tertekan dan Daesh menduduki sebagian besar wilayah Suriah, namun negara ini dengan bantuan Iran dan Rusia, dapat berdiri teguh melawan konspirasi Barat, dan perlawanan ini sekarang menjadi salah satu pilar struktur keamanan di Timur Tengah.
Banyak pengamat dan analis percaya bahwa dukungan Tehran kepada pemerintah Damaskus akan berkurang secara bertahap, dan Iran akan mengubah pendiriannya minimal untuk mendapatkan posisi di pemerintahan baru Suriah, tapi yang terjadi adalah bahwa Iran tidak hanya mengurangi dukungannya untuk Suriah, tapi justru membuat semua pihak terkejut dengan dukungan penuhnya.
Di Suriah sekarang sedang terjadi dua proses perang dan perdamaian secara bersamaan, dan peran kunci Iran benar-benar kentara dalam kedua proses ini. Peran ini dengan kerja sama Rusia dan Turki, menjadi lebih menonjol dalam proses perundingan Astana.
Menurut surat kabar Rai al-Youm, tidak dapat dikatakan bahwa sikap keras dan agresif rezim Zionis Israel dalam menghadapi transformasi di Suriah dan Lebanon, terlepas dari strategi kontroversial Amerika dalam melawan Iran. Benjamin Netanyahu khawatir tentang kemenangan di Suriah, Irak dan Lebanon, sebab perimbangan regional sedang berubah. Suriah secara cepat terus berubah dan menemukan kekuatannya dengan bantuan Iran dan Rusia.
Washington dan Tel Aviv memahami persoalan ini. Kantor PM Israel dalam sebuah statemen yang dirilis pada Selasa lalu, menumpahkan semua kemarahannya dan menyatakan bahwa Israel dalam kondisi apapun akan bertindak sesuai dengan kepentingan keamanannya di Suriah. Pernyataan ini mengacu pada ucapan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, yang menekankan legitimasi kehadiran Iran di Suriah, dan mengatakan Moskow belum berjanji untuk penarikan pasukan pendukung Iran dari Suriah.
Sikap Israel terhadap kehadiran Iran di Suriah di sampaikan ketika Menteri Pertahanan AS James Mattis mengumumkan akan mempertahankan pasukan Amerika di Suriah dengan dalih memerangi kelompok teroris Daesh. Tidak diragukan lagi, transformasi ini membawa pesan yang jelas untuk rezim Zionis, dan Tel Aviv tidak dapat mengabaikannya. Isi dari pesan-pesan ini adalah bahwa era di mana Israel menganggap tidak ada hambatan apapun untuk proyek ekspansionisnya di kawasan, telah berakhir.
Vladimir Evseev, Kepala Departemen Integrasi Eurasia dan Pengembangan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) dalam sebuah wawancara dengan situs The Institute for Iran-Eurasia Studies (IRAS), mengatakan, "Rusia benar-benar tidak siap untuk memilih negara lain sebagai pengganti Iran di Suriah." Iran dan Rusia sekarang memiliki definisi bersama terkait kebijakan keamanan di kawasan. Jadi, Israel tidak dalam posisi untuk mengambil tindakan praktis di bidang ini atau untuk menghapus Iran dari kehadirannya di Suriah.
Pemerintah Damaskus akan memutuskan tentang siapa yang seharusnya berada di Suriah. Dalam hal ini, Tehran, Moskow, dan Damaskus telah mengeluarkan banyak biaya dan tenaga untuk mempertahankan poros perlawanan terhadap skenario Amerika-Zionis. Sebagai hasil dari upaya ini, skenario Amerika-Zionis – yang digunakan untuk melemahkan koalisi ini, memisahkan antara Iran dan sekutunya, menghancurkan perlawanan Lebanon dan Palestina serta menghapus isu Palestina – telah gagal.
Hossein Jaberi Ansari, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Arab dan Afrika dan juru runding senior dalam perundingan Astana, mengatakan kepada IRNA pada Selasa lalu bahwa hubungan Tehran-Moskow penting untuk mengakhiri krisis Suriah. Sekarang, rezim Zionis dan AS sedang menghadapi menguatnya poros perlawanan, dan koalisi Iran, Suriah dan Rusia telah lebih kuat dari sebelumnya.
Dari aspek kemanusiaan dan moral, kehadiran Iran di Suriah dan Irak juga dapat dikaitkan dengan alasan-alasan ideologis dan inti dari keyakinan Republik Islam Iran. Menurut Pasal 154 Konstitusi Iran, Republik Islam menganggap pembelaan terhadap kaum tertindas dunia dari kebijakan dan tindakan arogansi global dan tentara bayaran mereka sebagai bagian dari tugas utama negara ini.
Iran tidak dapat bersikap acuh terhadap tindakan arogansi global dan hanya memikirkan kepentingan nasional jangka pendeknya, serta mengabaikan konspirasi tersebut.
Dari segi dampak keamanan di wilayah sekitar Iran, juga dapat dikatakan bahwa Irak dan Suriah memiliki kepentingan strategis yang besar bagi Iran, dan jatuhnya kedua negara tersebut ke tangan teroris Takfiri dan pendukung Barat dan Arab mereka, pasti akan membawa malapetaka bagi Iran dan kawasan.
Serangan teroris Daesh di Tehran pada Juni lalu dan tembakan rudal Iran ke posisi Daesh di wilayah Suriah, menunjukkan pentingnya untuk memerangi kelompok teroris di luar perbatasan Iran, terutama di Irak dan Suriah, dan kehancuran mereka tentu akan menghadirkan keamanan kolektif di Timur Tengah.