Strategi Iran Atasi Gejolak dan Sambut Tahun Baru
Tahun 1396 HS (21 Maret 2017-20 Maret 2018) bagi Iran adalah tahun yang sarat manifestasi persatuan dan solidaritas rakyat dalam menghadapi ancaman dan konspirasi musuh. Rakyat Iran melewati tahun ini dengan kegemilangan dalam menghadapi segala bentuk konspirasi dan fitnah musuh dengan kekuatan penuh.
Republik Islam Iran sejak awal kemenangan revolusi sampai hari ini, selalu melawan fitnah dan konspirasi musuh, dan membuktikan kekuatannya dalam menghadapi musuh dengan semangat revolusioner.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar tahun lalu dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa rakyat Iran harus kokoh di hadapan ancaman, namun kekuatan tidak hanya ditentukan oleh senjata, tapi ilmu pengetahuan, iman, ketabahan dan identitas revolusi, Islam dan Al Quran. Jelas bahwa menjaga identitas Islam dan menjalankan perintah Al Quran harus menjadi prioritas umat Islam.
Terkait hal ini, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, pasca kemenangan besar dalam perang melawan kelompok teroris Daesh di Suriah dan Irak, saat bertemu dengan para tamu peserta "Konferensi Internasional Pecinta Ahlul Bait dan Isu Takfiri" mengatakan, sudah sekitar 40 tahun, konspirasi, tekanan dan sanksi Amerika Serikat serta Zionis dilancarkan terhadap Iran.
Rahbar menuturkan, di tengah seluruh tekanan ini kami mengumumkan bahwa Republik Islam Iran di manapun diperlukan untuk melawan kekufuran dan imperialis, akan membantu dan dalam hal ini tidak membutuhkan izin pihak manapun.
Musuh-musuh rakyat Iran terutama Amerika di tahun 1396 HS berupaya menjerumuskan Iran ke dalam perpecahan dengan menciptakan kerusuhan terencana dan melancarkan provokasi di dalam negeri untuk merusak Iran.
Dengan mengandalkan gambaran yang cacat dan salah tentang Iran dan rakyatnya, seluruh kekuatan dan upaya propaganda dilakukan musuh untuk mematikan momen kemenangan Revolusi Islam Iran pada 22 Bahman 1396 HS.
Akan tetapi bangsa Iran dengan kesadaran dan pengenalan yang baik terhadap musuh, setelah hampir 40 tahun tetap berhasil menggagalkan konspirasi dan fitnah musuh, dan perlawanan ini sekarang telah berubah menjadi benteng yang kokoh bagi Republik Islam Iran.
Pada 22 Bahman 1396 HS (11 Februari 2018), peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran ke-39 lautan warga Iran menunjukkan kekuatan dan kesiapannya di hadapan musuh. Mereka dengan lantang kepada para pemfitnah mengatakan, sampai kapanpun kami tidak akan membiarkan kekuatan-kekuatan menyimpang, melemahkan pilar revolusi.
Kehadiran luas rakyat Iran dalam pawai akbar 22 Bahman pada kenyataannya merupakan jawaban tegas terhadap ancaman dan penghinaan yang dilakukan Amerika. Aksi serentak rakyat Iran mendukung Revolusi Islam itu adalah kekuatan lunak dalam menghadapi musuh. Sebagaimana disampaikan Rahbar, tekad dan kesadaran rakyat Iran, telah menciptakan momen besar yang mengejutkan. Saat itu, rakyat Iran kembali berhasil membuat musuh putus asa.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, rakyat Iran secara praktis telah menunjukkan kepada musuh bahwa Revolusi Islam tetap hidup, dinamis, dan mereka tetap setia kepada cita-cita Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran dengan meneriakkan slogan-slogan dan kehadiran luasnya.
Rakyat Iran dalam pawai bersejarah 9 Dey (peringatan kemenangan rakyat Iran atas para perusuh pasca pilpres tahun 2009) yang merupakan bukti persatuan dan kesetiaan pada Revolusi Islam, menunjukkan bahwa mereka mengenal dengan baik siapa musuh dan memukul gerakan-gerakan musuh di dalam negeri.
Kehadiran luas rakyat Iran dalam pawai 9 Dey 1396 HS (30 Desember 2017) menjadi saksi sejarah bahwa mereka selalu siap membela revolusi, pemerintahan Islam dan Rahbar.
Kehadiran bersejarah itu, disebut Rahbar sebagai salah satu puncak kegemilangan rakyat yang tak terlupakan dan sebuah manuver kebangkitan kesadaran, pengenalan posisi dan gerakan yang bersandar pada iman dan tekad. Kehadiran spontan rakyat Iran dalam pawai 9 Dey 1388 HS atau 30 Desember 2009 realitasnya adalah sebuah manifestasi persatuan dan kesadaran rakyat dalam menghadapi konspirasi musuh.
Rangkaian peristiwa Fitnah 1388 HS di Iran sebenarnya dirancang atas skenario penggulingan pemerintahan Islam di Iran. Oleh karena itu, kerusuhan yang sempat meluas di jalan-jalan Iran pasca pilpres periode ke-10 negara ini, tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa, tapi sebuah fenomena berbeda yang dirancang mengikuti model revolusi tenang atau lebih dikenal sebagai "revolusi beludru" yang pernah terjadi di Cekoslowakia.
Gerakan rakyat Iran ini terjadi di saat Amerika sedang berusaha mengucilkan pemerintahan Islam Iran dan membuat rakyat Iran putus asa serta melemahkan partisipasi politik mereka. Tak dipungkiri gerakan itu berhasil merusak kalkulasi Amerika.
Amerika selama bertahun-tahun pasca kemenangan Revolusi Islam Iran selalu berusaha melemahkan pemerintahan dan memecah belah rakyat Iran. Amerika berupaya menciptakan konflik politik internal Iran dan melemahkan rakyat. Akan tetapi perlawanan rakyat Iran atas gerakan-gerakan fitnah di dalam negeri pasca pilpres tahun 2009 dan terulangnya kerusuhan serupa pada Dey 1396 HS (30 Desember 2017) di beberapa kota Iran, telah membuktikan bahwa rakyat dengan kesolidannya adalah kekuatan asli dan pilar penting eksistensi revolusi dan pemerintahan Islam Iran.
Pada Desember 2017 selama beberapa hari sejumlah warga kota Iran menggelar demonstrasi memprotes kinerja pemerintah periode ke-11 dalam mengatasi masalah pencucian uang yang dilakukan sejumlah lembaga keuangan dan melambungnya harga-harga bahan pokok, korupsi dan lemahnya pengawasan pemerintah. Beberapa demonstrasi warga berubah menjadi kerusuhan karena ditunggangi sekelompok orang bayaran asing.
Namun berkat kehadiran luas rakyat Iran yang disertai kesadaran mereaksi manuver musuh, kembali berhasil menggagalkan upaya perpecahan dari dalam. Seperti yang diungkapkan Rahbar, pertempuran ini adalah pertempuran antara rakyat dengan anti-rakyat, pertempuran Iran dengan anti-Iran dan pertempuran Islam dengan anti-Islam, dan setelah ini pun akan berlanjut.
Sehubungan dengan penggunaan berbagai jenis senjata untuk menyerang Iran dalam beberapa tahun terakhir, Rahbar menuturkan, selama beberapa tahun ini, sebagian kalangan seperti pemerintah Amerika, dengan tegas menunjukkan permusuhan terhadap rakyat Iran dan senjata sebagian pihak disembunyikan di balik sarung tangan beludru, tapi seluruh konspirasi ini justru semakin memperkuat rasa percaya diri rakyat dan pejabat pemerintah, serta membuka jalan untuk menghadapi senjata-senjata musuh tersebut.
Bukti-bukti yang ditemukan pasca kerusuhan menunjukkan bahwa gerakan-gerakan fitnah, Dey 1396 HS (30 Desember 2017) juga merupakan bagian dari sebuah skenario besar dan upaya penggulingan pemerintahan Islam di Iran, namun gagal.
Ayatullah Khamenei dalam peringatan peristiwa bersejarah baiat Angkatan Udara Iran kepada Imam Khomeini pada 19 Bahman 1357 HS (21 Januari 1979), saat bertemu jajaran pejabat dan pasukan Angkatan Udara Iran, menjelaskan dimensi dan akar konspirasi itu. Ia mengatakan, bukti dan temuan-temuan intelijen menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut terorganisir dengan baik dan diciptakan oleh sebuah segitiga aktif.
Rahbar menambahkan, pimpinan pertama segitiga ini adalah Amerika dan rezim Zionis Israel yang menyusun rencana, dan dalam beberapa bulan mengkaji rencana itu. Mereka merancang agar gerakan bermula dari kota-kota kecil lalu merembet ke pusat. Menurut Rahbar, pimpinan kedua segitiga ini adalah salah satu pemerintahan kaya di Teluk Persia yang menjamin dana gerakan, dan pimpinan ketiga adalah boneka-boneka organisasi munafikin pembunuh, MKO yang telah bersiap sejak beberapa bulan sebelumnya.
Isyarat Rahbar bahwa kerusuhan di Iran terorganisir dengan baik dan dikendalikan oleh dua pusat komando yang berada di negara tentangga Iran, semakin memperjelas apa sebenarnya di balik tirai konspirasi tersebut. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa pencarian sebab dan pelaku kerusuhan ini tidak boleh mengabaikan anasir-anasir asing dan skenario luar negeri.
Bahmannejad, salah seorang pengamat politik Iran mengatakan, fitnah punya dua sumber, dalam negeri dan luar negeri, fitnah adalah salah satu metode yang kerap dipakai imperialis dunia untuk menggulingkan pemerintahan negara lain.
Ia percaya, musuh sampai pada kesimpulan bahwa untuk menggulingkan pemerintahan Islam Iran perlu digunakan aktor-aktor dalam negeri, oleh karena itu perwakilan-perwakilan khusus Amerika di seluruh dunia ditugaskan melatih sejumlah orang dan kelompok tertentu untuk melancarkan aksi ini.
Menurut Bahmannejad, hari ini, sanksi dan tekanan atas rakyat Iran yang dilakukan oleh kubu imperialis dunia disertai dengan himpitan politik dan krisis ekonomi, adalah sumber munculnya fitnah bahwa rakyat lelah dengan pemerintahan Islam Iran. Akan tetapi heroisme rakyat Iran dalam peristiwa-peristiwa besar semacam 9 Dey dan 22 Bahman, membuktikan kuatnya semangat revolusi dan menjadi manifestasi persatuan dan kesadaran rakyat Iran dalam menghadapi segala bentuk ancaman musuh.