Nowruz, Manifestasi Pemikiran Iran (2-Habis)
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i53948-nowruz_manifestasi_pemikiran_iran_(2_habis)
Nowruz adalah hari kebahagiaan alam dan manusia, serta hari untuk bergembira menyambut datangnya musim semi. Nowruz adalah hari untuk mengingat kembali sebuah kenangan besar; kenangan persahabatan manusia dengan alam. Nowruz dengan tradisinya yang unik, merefleksikan keragaman budaya di Iran dan ia membawa satu pesan tentang pemikiran bangsa Iran.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Mar 26, 2018 15:33 Asia/Jakarta

Nowruz adalah hari kebahagiaan alam dan manusia, serta hari untuk bergembira menyambut datangnya musim semi. Nowruz adalah hari untuk mengingat kembali sebuah kenangan besar; kenangan persahabatan manusia dengan alam. Nowruz dengan tradisinya yang unik, merefleksikan keragaman budaya di Iran dan ia membawa satu pesan tentang pemikiran bangsa Iran.

Melestarikan dan memuliakan alam, selalu menjadi tugas besar bagi orang-orang Iran selama ribuan tahun. Selama Imperium Achaemenid, orang-orang Iran menaruh perhatian khusus untuk membangun taman dan merawat tanaman. Di antara kebun itu adalah Taman Persepolis dan Taman Pasargadae. Seorang sejarawan dan tentara Yunani, Xenophon berkata bahwa pada suatu hari, Raja Cyrus mengajak komandan Yunani untuk menyaksikan kebunnya dan menjelaskan kepadanya tentang teknik menanam pohon.

Pasargadae

Para pakar mitologi dan budaya terkemuka Iran, baik generasi pertama maupun peneliti kontemporer, telah mengkaji tradisi perayaan Nowruz sampai ke akar-akarnya. Penelitian mereka mencatat ada keterkaitan erat antara salah satu perayaan tertua di dunia (Nowruz) dengan alam. Sebenarnya, temuan ini menunjukkan pentingnya alam dalam kepercayaan dan pemikiran para penyelenggara hari besar ini.

Dalam kepercayaan bangsa Iran, sebagian dari alasan menghormati alam adalah karena alam itu sendiri. Para leluhur mereka percaya bahwa manusia tidak seharusnya merusak alam dan mereka perlu bersahabat dengan alam. Mereka harus mengambil keberkahan dan ketenangan dari alam, serta melestarikan alam dan tidak merusak strukturnya.

Dalam pemikiran Iran, mencemari air dan tanah dianggap sebagai perbuatan dosa di hampir semua literatur mereka. Mengotori unsur-unsur alam sangat tercela dan merupakan dosa besar yang akan memperoleh hukuman berat baik di dunia maupun di akhirat kelak. Orang-orang Iran menganggap penebangan pohon sebagai kejahatan dan bahkan menarik daun pohon hingga lepas sebagai perbuatan dosa. Penebangan pohon hanya mungkin dilakukan dalam kondisi khusus, yang sudah diatur oleh undang-undang.

Jadi, hadirnya undang-undang semacam itu telah menghalangi masyarakat Iran untuk mencemari dan mengotori alam, sehingga mereka terjaga dari penyakit menular yang menjangkiti masyarakat lain. Orang Persia kuno percaya bahwa kebahagiaan merupakan salah satu tujuan hidup dan ia bukan milik manusia semata. Mereka menganggap salah satu cara untuk mencapai keselamatan adalah menjaga ketenangan alam.

Orang Persia kuno memandang satu-satunya cara untuk terjaga dari musibah adalah memperhatikan aturan dan sistem alam semesta. Pemikiran Iran mengatakan bahwa untuk memecahkan persoalan sosial sekalipun, manusia tidak memiliki pilihan selain memperhatikan aturan ekologis dan norma-norma alam.

Setelah masuknya Islam ke Iran, masyarakat masih mempertahankan pandangan sakral tentang alam. Mereka tampaknya memandang alam dan unsur-unsurnya memiliki sifat suci, dan pribadi mereka – sebagai ciptaan Tuhan dan tanda-tanda dari keberadaan-Nya – memiliki hubungan dengan alam. Tentu saja, unsur-unsur alam di sini bukan tampilan fisik mereka, namun dari segi hakikat yang tersembunyi di baliknya, di mana merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan.

al-Qur'an

Dalam al-Qur'an, ada tiga pandangan yang tampaknya kontradiktif tentang alam, namun semua itu pada dasarnya merupakan tiga unsur pelengkap dalam sebuah teori yang sempurna. Pandangan pertama, alam adalah sarana penunjang bagi pembentukan dimensi material dan spiritual, dan dengan kata lain ibu manusia. Dalam teori kedua, nilai dan kedudukan alam ditinjau dari segi ontologis, di mana lebih rendah dari dimensi spiritual manusia. Dan teori ketiga dan sangat penting, manusia bertugas untuk melestarikan dan menundukkan alam.

Dari tiga perspektif ini dapat disimpulkan bahwa alam merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Semua perubahan di alam selama musim semi, mengajak manusia untuk berpikir dan merenung tentang kekuasaan dan keagungan Sang Pencipta. Setiap fenomena semesta dapat menjadi media pembelajaran dan petunjuk bagi manusia sehingga mereka juga terbangun dari tidur lelap sepanjang hidupnya.

Perubahan musim merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Swt yang paling nyata. Berbagai ajaran agama Ilahi menyinggung kebaruan dan keindahan musim semi sebagai pelajaran bagi manusia. Berkah, pencerahan, keselamatan, perdamaian, dan segala sesuatu yang menunjukkan kebaikan dan kebersihan tercermin dalam musim semi.

Dalam literatur Islam, alam semesta adalah ciptaan Allah Swt dan manifestasi rahmat-Nya yang tidak terbatas. Dalam surat an-Nakhl ayat 65, Allah berfirman, "Allah menurunkan dari langit air hujan dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah mati. Sesungguhnya pada yang demikian ini benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mendengarkan pelajaran."

Akhirnya, studi tentang kepercayaan masyarakat di berbagai belahan dunia dan cara mereka menjaga lingkungan, dapat menjadi instrumen budaya yang tepat untuk melindungi lingkungan hidup. Mendorong masyarakat dunia untuk memperhatikan lingkungan sekitar dengan menghidupkan beberapa tradisi dan adat-istiadat, dapat mengurangi tingkat kerusakan lingkungan, karena cara para leluhur kita memperlakukan alam dibarengi dengan rasa hormat dan damai.

Sebagaimana di tengah masyarakat Iran, menghormati alam tampil dalam bentuknya yang paling indah dan megah. Cara yang bersumber dari pemikiran Iran ini, telah menjadi salah satu sumber budaya yang paling progresif di dunia, dan ia dapat menjadi model bagi bangsa-bangsa lain dan para pemerhati lingkungan hidup di dunia.

Selain cara yang dipraktekkan oleh bangsa-bangsa beradab dalam melestarikan alam, kepercayaan, budaya, dan agama juga dapat menjadi sarana untuk memberikan wawasan dan pemahaman yang baik tentang alam, karena manusia masa lampau melihat Tuhan dari kemegahan alam.

Kini, kita akan melanjutkan perkenalan kita dengan para pujangga besar Persia, di mana karya-karya mereka telah mempengaruhi seluruh kehidupan dan pemikiran rakyat Iran. Jalaluddin Muhammad Maulawi adalah salah satu 'arif besar di sepanjang masa, di mana pandangan dan pemikiran irfaninya tertuang dalam kitab Matsnawi. Ketika ia berbicara tentang musim semi, Maulawi melukiskannya sedemikian rupa sehingga manusia tiba-tiba mendapati dirinya berada di tengah alam dan menyaksikan tanda-tanda pencipta alam.

Maulawi menjadikan sabda Nabi Muhammad Saw sebagai basis pemikirannya, di mana menganjurkan orang-orang mukmin untuk menikmati angin sepoi musim semi dan tidak membiarkan rasa takut merasuki hati karena dinginnya angin sepoi ini. Ia telah menghidupkan kembali alam dan pepohonan, dan juga memberi oksigen segar kepada tubuh manusia. Pandangan Maulawi tentang musim semi dan Nowruz telah mempengaruhi pemikiran orang-orang Iran, dan ritual perayaan Nowruz menemukan dimensi spiritual. Dengan demikian, Nowruz dari sebuah perayaan kuno dan nasional, telah menjadi sebuah perayaan Iran-Islami.

Haft Sin

Saadi adalah seorang penyair yang memiliki kehidupan sosial yang dinamis. Sebagian besar penyair Iran adalah orang-orang yang menjauhi keramaian dan sangat jarang berkelana, tapi Saadi mungkin satu-satunya penyair yang aktif bergaul dan hangat. Oleh karena itu, hubungan sosial, hikmah amali, dan akhlak memiliki kedudukan yang tinggi dalam pandangan dunia penyair Iran ini.

Karya-karya Saadi mengandung nasehat dan petuah yang bijak dan hal ini telah mempengaruhi pemikiran orang-orang Iran mengenai Nowruz. Saadi menganggap Nowruz dan musim semi sebagai media untuk memetik pelajaran, dan dengan prinsip-prinsip hikmah dan moral yang ia ajarkan, Saadi ikut memperkaya pemikiran Iran dengan perilaku dan tradisi sosial yang baik. Dengan mengikuti Saadi, banyak warga Iran memandang semua fenomena dan peristiwa alam sebagai media untuk memetik pelajaran.

Khayyam, adalah seorang penyair Iran lainnya di mana pandangannya tentang kehidupan dan cara memperlakukan musim semi dan Nowruz, telah mempengaruhi pandangan kebanyakan orang Iran terhadap musim semi dan Nowruz. Dalam puisinya, Khayyam mengajak orang lain untuk memanfaatkan peluang yang datang seperti musim semi dan menggunakannya dengan baik serta merenungi bahwa waktu sangat cepat berlalu.

Setiap orang Iran yang terpengaruh oleh pemikiran ini, merayakan Nowruz dengan segala kemegahannya dan memandangnya sebagai sebuah ritual yang cepat berlalu. Jadi, masyarakat harus memanfaatkan kesempatan ini dan menikmati indahnya kehidupan. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk memahami pesan universal Nowruz, karena tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi, dengan filosofinya yang mendalam. Pesan Nowruz adalah interaksi sosial, solidaritas, persatuan, keadilan sosial, sukacita, persahabatan, kebahagiaan, kedamaian, dan kemakmuran bagi umat manusia.