Sumber Ketegangan di Teluk Persia (2-Habis)
-
Perbandingan kekuatan militer Iran dan Inggris menurut Global Firepower.
Inggris adalah salah satu dari enam kekuatan besar dalam negosiasi nuklir dengan Iran. Meski Inggris mengecam penarikan AS dari kesepakatan nuklir JCPOA, tetapi ia selalu mendukung Washington dalam melawan Tehran.
Pasca penembakan drone Global Hawk AS oleh pasukan Iran, pemerintah Inggris – dalam sebuah tindakan provokatif dan ilegal – menyita kapal tanker Grace 1 yang mengangkut dua juta barel minyak mentah Iran pada 4 Juli 2019. Tanker ini dihentikan paksa di Selat Gibraltar dengan dalih melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.
Pada 20 Juli, Angkatan Laut Pasdaran menahan sebuah kapal tanker Inggris, Stena Impero di Selat Hormuz atas permintaan Badan Pelabuhan dan Maritim Provinsi Hormozgan karena tidak mematuhi hukum pelayaran internasional.
Pasca insiden ini, pemerintah Inggris mengambil langkah yang sama seperti AS yaitu mengerahkan kapal perang HMS Duncan ke Teluk Persia dengan maksud menggertak Republik Islam Iran. Namun ini tidak membuat Tehran takut, dan langkah London justru telah memperparah gejolak di kawasan.
Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi di wilayah Teluk Persia di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.
Pertama, perang terbatas antara Iran dan AS akan terjadi dan Inggris kemungkinan akan membantu sekutunya dalam bentrokan ini.
Beberapa insiden yang terjadi di kawasan – seperti penembakan drone AS yang melanggar wilayah Iran – menyeret kedua pihak di ambang perang, meskipun kemungkinannya sangat kecil.
Iran dengan menembak jatuh drone Global Hawk AS, telah membuktikan kekuatan pertahanannya dan mengingatkan bahwa biaya perang dengan Republik Islam akan sangat besar bagi pihak lawan. Sekutu-sekutu AS di Teluk Persia juga sangat rentan dalam menghadapi Iran dan kelompok-kelompok proksinya.
Oleh karena itu, Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan mundur dari perang Yaman, dan bahkan menurut beberapa media, sebuah delegasi dari Abu Dhabi telah berkunjung ke Tehran untuk melakukan pembicaraan dan menyerukan pengurangan tensi ketegangan dengan Iran.
Di Washington, Presiden Donald Trump sedang mempersiapkan diri untuk bertarung dalam pilpres Amerika dan ia sadar bahwa perang dengan Iran – karena memiliki biaya besar dan berlarut-larut – bisa menyebabkan kekalahannya dalam pemilu.
Republik Islam Iran berulang kali menekankan bahwa pihaknya tidak akan memulai perang apapun. Untuk itu, kecil kemungkinan perang akan pecah di Teluk Persia.
Ketua Pusat Studi Politik-Militer Rusia, Anatoly Tsyganok percaya bahwa kemungkinan pecahnya konfrontasi militer antara AS dan Iran sangat kecil. Di Washington dan Tehran, sama-sama ada pemahaman bahwa jika ketegangan ini sampai memicu konfrontasi militer, maka ia akan menjadi sebuah tragedi. Iran adalah bukan Irak dan memiliki 82 juta populasi, jumlah anggota Pasdaran dan Basij sangat banyak. AS dan sekutunya akan menderita kerugian politik yang sangat besar dalam perang ini. Jika ini terjadi, maka kondisi ekonomi dan sosial-politik di Amerika dan negara-negara Eropa bertambah buruk. Oleh sebab itu, kemungkinan serangan besar-besaran terhadap Iran di masa depan sangat kecil. Trump bersikap layaknya seorang pengusaha dan berusaha menenangkan Iran serta menyakinkannya untuk duduk di meja perundingan."
Kedua, upaya mediasi dari pihak ketiga sudah dilakukan untuk meredam ketegangan antara Washington-Tehran. Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi dan Menteri Luar Negeri Oman, Yusuf bin Alawi telah memulai upaya mediasi ini. Namun, kesuksesan mediasi ini sangat bergantung pada pendekatan AS dan Inggris di hadapan Iran.
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif justru dikenai sanksi oleh pemerintah AS setelah kunjungan PM Irak dan menlu Oman ke Tehran. Ini menunjukkan bahwa Washington tidak ingin meninggalkan pendekatan konfrontatifnya terhadap Tehran. Jadi, tidak ada harapan bahwa ketegangan antara AS-Iran akan mereda dan kemudian berdampak pada situasi di Teluk Persia.
Ketiga adalah perundingan. Iran dan Inggris mungkin saja melakukan negosiasi terkait pembebasan tanker minyak dan upaya mengurangi ketegangan. Akan tetapi, sama sekali tidak ada sinyal bahwa Tehran akan mengamini permintaan Gedung Putih untuk berunding.
Masalah ketidakpercayaan mendominasi hubungan Iran dan AS. Langkah-langkah Trump telah memperbesar jurang ketidakpercayaan Tehran pada Washington. Trump bersikeras agar Iran mau merundingkan masalah rudal dan pengaruh regionalnya. Tehran pasti menolak membicarakan sesuatu yang akan menciderai kepentingan dan keamanannya.
Kekuatan rudal Iran untuk tujuan pertahanan dan mencegah musuh memaksakan kehendaknya kepada negara ini. Ia telah memaksa musuh mengambil langkah mundur dalam menghadapi tekad perlawanan Iran.
Dan keempat, perang verbal dan ketegangan terkait jalur pasokan minyak di Selat Hormuz antara Iran dan kekuatan-kekuatan asing terutama AS dan Inggris akan terus berlanjut. Kejadian ini kemungkinan besar bakal terjadi, karena AS masih mempertahankan pendekatan bermusuhan terhadap Iran, seperti menjatuhkan sanksi atas Menlu Zarif.
AS juga sedang berusaha untuk membentuk koalisi yang diklaim untuk keamanan maritim di Teluk Persia. Inggris sudah memastikan untuk bergabung dengan koalisi ini.
Perang verbal ini juga akan terus berkobar antara Iran dan Eropa, karena pihak Eropa enggan memenuhi komitmennya di bawah kesepakatan nuklir, dan sebagai aksi balasan, Iran terus mengurangi komitmen nuklirnya.
Troika Eropa sekarang sedang berusaha meyakinkan Iran agar menghentikan langkah-langkah mengurangi komitmen nuklirnya. Prancis dan Jerman ditunjuk untuk menyukseskan upaya meyakinkan Iran ini. Eropa menjanjikan konsesi yang kecil dengan tujuan untuk memperoleh konsesi yang besar dari Tehran.
Eropa memperkenalkan Instrumen untuk Mendukung Pertukaran Perdagangan (INSTEX), ketimbang memenuhi komitmennya untuk membeli minyak dan membatalkan sanksi-sanksi perbankan terhadap Iran.
INSTEX tidak mampu menangkal sanksi AS terhadap Iran, karena instrumen ini tidak memungkinkan Tehran untuk menjual minyak atau membawa pulang uang dari hasil penjualan minyak.
Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Iran untuk kembali ke posisi awal dalam JCPOA dengan imbalan Eropa akan mencegah penerapan sanksi-sanksi baru AS. Namun ini sudah terlambat, karena AS telah melaksanakan semua sanksinya, di mana negara itu menjatuhkan sanksi terhadap 1.000 individu dan entitas Iran sampai hari ini.
Pada dasarnya, AS lebih memilih Teluk Persia yang penuh gejolak ketimbang stabilitas di wilayah itu. Ketegangan ini akan meningkatkan penjualan senjata AS ke negara-negara Arab di kawasan.
Pengiriman kapal perang dan opsi pembentukan koalisi keamanan maritim juga dapat menambah ketegangan di Teluk Persia. Hasan al-Hardan dalam sebuah analisa di surat kabar al-Anba' menulis, "Misi utama Inggris mengerahkan kapal perusak ke Teluk Persia adalah untuk memperketat blokade terhadap Iran, memperkenalkan Tehran sebagai ancaman bagi jalur pelayaran internasional, memeras negara-negara Arab di Teluk Persia, mendorong mereka untuk membeli senjata, dan meminta bayaran sebagai upah dukungan."
Republik Islam Iran akan mempertahankan strategi perlawanan aktif untuk menghadapi manuver AS dan Inggris. Iran mengandalkan potensi dalam negeri untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dan menangkal perang psikologis musuh. (RM)