Kekalahan Aliansi Musuh Melawan Iran (2-habis)
https://parstoday.ir/id/radio/other-i73880-kekalahan_aliansi_musuh_melawan_iran_(2_habis)
Perang panjang dan skala penuh dipaksakan atas Iran pada tahun pertama pasca kemenangan Revolusi Islam. Perang delapan tahun ini merupakan sebuah ujian besar dari kegigihan bangsa Iran dalam menghadapi kesulitan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Sep 18, 2019 16:36 Asia/Jakarta
  • Rudal-rudal Iran yang ditampilkan dalam sebuah pameran di Tehran. (dok)
    Rudal-rudal Iran yang ditampilkan dalam sebuah pameran di Tehran. (dok)

Perang panjang dan skala penuh dipaksakan atas Iran pada tahun pertama pasca kemenangan Revolusi Islam. Perang delapan tahun ini merupakan sebuah ujian besar dari kegigihan bangsa Iran dalam menghadapi kesulitan.

Perjuangan panjang ini tercatat sebagai salah satu kebanggaan bangsa Iran dalam sejarah dan mereka memanfaatkan pengalaman era pertahanan suci sebagai peluang untuk membangun masa depan bangsa.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pertemuan, menyebut era pertahanan suci memberikan kehormatan kepada bangsa Iran.

"Meski biaya material dan moral dari agresi yang dipaksakan ini cukup besar, namun pencapaian bangsa Iran selama delapan tahun pertahanan suci jauh lebih besar dibanding biayanya… Pengalaman ini menunjukkan bahwa meski adanya kesulitan, tekanan, tidak adanya dana, dan persoalan-persoalan lain, kita tetap mampu melawan arogansi kekuatan dunia… berkat perlawanan bangsa Iran selama delapan tahun pertahanan suci, sekarang banyak tokoh dan pemikir di negara-negara Muslim dan non-Muslim punya keyakinan yang kuat tentang pertahanan gigih dengan tangan kosong," ujarnya.

Untuk itu rakyat Iran mengenang era perang pertahanan suci sebagai momen yang membanggakan. Mereka menampilkan persatuan dan kesolidan di hadapan musuh selama agresi sepihak itu. Semua elemen masyarakat baik militer, Pasdaran, pasukan relawan rakyat, dan polisi melawan agresi musuh dengan gigih.

Agresi sepihak ini memberikan banyak pelajaran berharga kepada rakyat Iran, dan mereka mulai menyadari tentang urgensitas meningkatkan kemampuan pertahanan dan kekuatan pencegahan di hadapan musuh. Hal ini kemudian memacu kemajuan yang signifikan di sektor pertahanan Iran.

Dengan pecahnya perang, negara-negara blok Timur dan Barat mulai memberlakukan sanksi militer terhadap Iran. Mereka bahkan melarang penjualan kawat berduri ke Iran atau produk-produk non-militer yang mungkin juga bisa dipakai untuk keperluan militer.

Pada masa itu, banyak peralatan militer yang dibeli dari Amerika Serikat sebelum revolusi dan sudah dibayar, juga diblokir dan tidak diserahkan ke Iran. Kondisi ini membuat rezim Saddam tambah semangat untuk menyerang Iran, di tambah lagi dengan perhitungan keliru AS tentang kemampuan pertahanan Iran dalam menghadapi serangan militer Ba'ath Irak.

Sebelum Revolusi Islam, industri pertahanan Iran hanya memproduksi senjata ringan dan bahkan tidak mampu memproduksi kawat berduri. Ribuan penasihat AS hadir di Iran dan seluruh urusan militer di sektor produksi alutsista, dan bahkan perbaikan dan perawatan perangkat militer berada di tangan asing.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan para komandan militer Iran.

Para insinyur dan ahli Iran tidak dilibatkan dalam kegiatan perbaikan dan perawatan alutsista dan peralatan yang dibeli dari Barat. Mereka bahkan dilarang untuk menyentuh peralatan tersebut.

Bapak Pencetus Revolusi Islam, Imam Khomeini ra sejak awal revolusi mengusung slogan "Kita Mampu" dan berulang kali menyebut sanksi dan agresi sepihak sebagai sebuah peluang istimewa untuk mandiri.

Imam Khomeini di salah satu pidatonya mengatakan, "Perang dan sanksi ekonomi serta pengusiran tenaga ahli asing adalah sebuah anugerah Tuhan, yang kita lalaikan selama ini. Sekarang jika pemerintah dan militer memboikot produk-produk dari kekuatan arogan serta meningkatkan usaha dan membuat terobosan, maka terbuka harapan untuk kemandirian negara dan membebaskan diri dari mengemis kepada musuh."

Ayatullah Khamenei juga selalu menekankan masalah kemandirian dan mengingatkan masyarakat tentang pentingnya hal ini. Dalam sebuah pidatonya di kota Shiraz, Rahbar mengatakan, "Mereka (AS) mengancam kita dengan sanksi ekonomi. Mereka memberlakukan berbagai jenis sanksi, tetapi Iran tidak menderita kerugian. Kami menggunakan sanksi untuk membuat kemajuan lebih lanjut. Suatu ketika kami membutuhkan senjata, tetapi mereka menolak untuk menjual senjata yang paling primitif sekalipun kepada kami. Kami mengambil keuntungan dari sanksi ini, dan orang yang sama yang menjatuhkan sanksi pada kami sekarang sangat khawatir bahwa Iran berubah menjadi kekuatan regional.

Semua kemajuan ini dicapai berkat sanksi mereka. Sanksi itu tidak membahayakan kita. Kami berhasil mengubah sanksi menjadi peluang. Sama seperti hari ini, kami tidak takut dengan sanksi yang dijatuhkan Barat. Atas bantuan Allah Swt, bangsa Iran akan melakukan upaya yang sangat serius dalam menghadapi semua sanksi dan embargo ekonomi dan meningkatkan kemajuannya beberapa kali lipat."

Kegiatan Angkatan Bersenjata Iran di bidang teknis dan produksi peralatan militer dimulai sejak pecahnya perang yang dipaksakan. Di masa-masa akhir perang, mereka sudah mampu memproduksi rudal jarak pendek permukaan ke-permukaan dan mencapai kemajuan yang signifikan di bidang ini.

Para pejuang Iran di era perang pertahanan suci.

Saat ini nama Iran berada di antara segelintir negara dunia yang mampu menguasai teknologi rudal. Iran membuat lompatan besar dalam memproduksi berbagai jenis rudal balistik dan non-balistik, rudal presisi tinggi permukaan ke-permukaan, rudal anti-radar, rudal supersonik, rudal laser, rudal pintar cruise, dan rudal-rudal lain.

Iran mencatat kemajuan lain di bidang pertahanan seperti produksi berbagai jenis radar jarak pendek dan jauh, sistem perang elektronik dan cyber, pengembangan industri telekomunikasi dan produksi berbagai jenis radio militer, penguatan dan pengembangan industri optik, dan produksi berbagai jenis teropong biasa dan malam hari untuk keperluan militer. Produk-produk tersebut bahkan sudah diekspor.

Sebagian dari pencapaian itu bahkan masih menjadi monopoli beberapa negara maju di dunia.

Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, termasuk militer, mencapai kemandirian dengan melokalkan industri pertahanan. Langkah strategis ini sangat penting bagi sektor pertahanan negara. Memiliki kekuatan militer dan pertahanan yang sesuai dengan prinsip-prinsip pertahanan konvensional adalah hak sah semua negara.

Hari ini Republik Islam Iran memiliki kekuatan defensif dan ofensif di darat, laut, dan udara untuk menangkal ancaman musuh. Saat ini lembaga-lembaga studi strategis dunia menempatkan kekuatan militer Iran sebagai bagian dari kekuatan penentu.

Mengenai kekuatan pertahanan Iran, seorang pakar Rusia, Maxim Shevchenko menuturkan, "Iran memiliki tentara yang paling mumpuni di wilayah Timur Tengah dan angkatan bersenjata negara itu berhasil memproduksi berbagai jenis senjata canggih. Kita menyaksikan penggunaan senjata tersebut dalam latihan-latihan pasukan Iran."

Iran memanfaatkan pengalaman era perang untuk meningkatkan kekuatan militernya yang sesuai dengan kebutuhan. Saat ini Angkatan Bersenjata Iran memiliki kesiapan penuh untuk meladeni gertakan musuh.

Kemajuan Iran di bidang drone telah menempatkannya di antara lima negara maju dunia di bidang teknologi drone. Iran juga menjadi negara kedua dunia yang mampu memproduksi drone anti-radar.

Seorang analis politik Iran, Shahab Shaabani Nia menuturkan, "Republik Islam Iran dikenal sebagai kekuatan rudal keempat di dunia. Dengan melihat fakta ini, setiap musuh yang berniat menyerang Iran, mereka perlu memperhitungkan kekuatan misil Iran dan menganalisa dampak-dampak buruk dari serangan balasan rudal Iran."

Hari ini keamanan dan stabilitas Iran di wilayah yang penuh gejolak, merupakan salah satu dari kebanggaan Republik Islam yang sedang dirong-rong oleh kekuatan arogan. (RM)