Jun 25, 2016 09:48 Asia/Jakarta

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan ada banyak amalan serta doa yang bersumber dari para imam maksum as untuk diamalkan di penghujung bulan puasa. Mengenai keagungan bulan Ramadan itu sendiri, Rasulullah Saw bersabda, “Ramadan adalah sebuah bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya pengampunan, dan penghujungnya ijabah doa dan kebebasan dari api neraka.”

Pada dasarnya, rahmat Allah Swt turun kepada hamba-Nya pada sepuluh hari pertama, sementara pertengahan bulan ini adalah waktu untuk bertaubat dan memohon ampunan dari dosa, dan sepuluh hari terakhir adalah masa untuk memetik hasil.

 

Setelah seseorang menikmati rahmat Tuhan sebagai sebuah kesempatan yang sangat berharga, maka pada sepuluh hari kedua ia juga akan mendapat kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampunan, dan pada sepuluh hari terakhir ia menyampaikan hajat-hajatnya dan menunggu jawaban dari Allah Swt. Oleh sebab itu, Rasul Saw mengambil jarak dari semua kenikmatan dunia selama sepuluh hari terakhir dan memilih beri'tikaf di masjid. Beliau menaruh perhatian khusus terhadap masalah i'tikaf dan bersabda, “Barang siapa yang beri'tikaf selama 10 hari pada bulan Ramadan, maka pahalanya sama seperti dua kali haji dan dua kali umrah.

 

Rasul Saw awalnya melakukan i'tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadan, dan kemudian pada sepuluh hari kedua dan terakhir pada sepuluh hari ketiga bulan tersebut. Namun, beliau kemudian secara rutin beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga akhir hayatnya. Ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasul Saw melipat tempat tidurnya dan sepenuhnya mempersiapkan diri untuk beribadah dan beliau melakukannya dalam sebuah tenda yang dipersiapkan untukibadah.

 

Dalam sebuah riwayat, Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Penentuan kadar (sesuatu) pada malam ke-19, pengesahan pada malam ke-21, dan penetapan kadar untuk satu tahun pada malam ke-23.” Oleh karena itu, kaum Muslim tidak boleh lalai saat musim panen tiba dan memberi perhatian khusus untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan sebagaimana diteladani oleh Rasulullah Saw. Setiap detik di sepanjang Ramadan tentu sangat bernilai, namun sepuluh hari terakhir adalah musim untuk menuai hasil dan kaum Muslim tidak boleh melupakan hal itu.

 

Syeikh Kulaini dalam kitabnya Ushul al-Kafi, menukil sebuah doa dari Imam Shadiqas yang dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Doa tersebut adalah;

 

أَعُوذُ بِجَلالِ وَجْهِکَ الْکَرِیمِ أَنْ یَنْقَضِیَ عَنِّی شَهْرُ رَمَضَانَ أَوْ یَطْلُعَ الْفَجْرُ مِنْ لَیْلَتِی هَذِهِ وَ لَکَ قِبَلِی ذَنْبٌ أَوْ تَبِعَةٌ تُعَذِّبُنِی عَلَیْهِ.

 

Aku berlindung kepada keagungan wajah-Mu yang mulia, hendaknya jangan sampai bulan Ramadan berlalu atau fajar malamku ini terbit sedangkan Engkau masih memiliki tagihan atasku atau (aku masih berlumuran) dosa yang karenanya Engkau akan menyiksaku.

 

Dalam sebuah doa yang lain, Imam Shadiq as juga berkata;

 

اللَّهُمَّ أَدِّ عَنَّا حَقَّ مَا مَضَی مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ اغْفِرْ لَنَا تَقْصِیرَنَا فِیهِ وَ تَسَلَّمْهُ مِنَّا مَقْبُولا وَ لا تُؤَاخِذْنَا بِإِسْرَافِنَا عَلَی أَنْفُسِنَا وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْمَرْحُومِینَ وَ لا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِینَ

 

Ya Allah! Tunaikanlah hak kami yang telah lewat dari bulan Ramadan, ampunilah kelalaian kami di dalamnya, terimalah (bulan Ramadan) dari kami dengan sebuah penerimaan, janganlah Engkau menyiksa kami karena sikap berlebih-lebihan atas diri kami,jadikan kami dari golongan yang memperoleh rahmat dan jangan Engkau jadikan kami dari mereka yang tidak mendapatkannya.

 

Rasulullah Saw dalam sebuah khutbah di penghujung bulan Sya’ban bersabda, “Wahai manusia! Barangsiapa melakukan shalat sunnah di bulan ini, Allah akan mencatat baginya kebebasan dari api neraka. Dan Barang siapa melakukan shalat fardhu, baginya ganjaran 70 kali shalat fardhu di bulan yang lain.” Seorang Mukmin yang sudah pernah merasakan kenikmatan dalam mengerjakan shalat fardhu, maka ia akan terdorong untuk mempererat hubungannya dengan Allah Swt melalui amalan sunnah. Ia bersungguh-sungguh mengerjakan shalat sunnah untuk meraih perhatian Tuhan. Imam Ali Ridha as berkata, “Tunaikanlah shalat sunnah dengan indah, dan ketahuilah bahwa ia akan menjadi hadiah di sisi Allah.” (Bihar al-Anwar, jilid 87)

 

Shalat tajahud memiliki keutamaan yang lebih besar di antara amalan-amalan sunnah yang lain. Allah Swt menyebut orang-orang yang terbangun di malam hari dengan bahasa yang indah dan berfirman, “Lambung mereka selalu jauh dari tempat tidur untuk berdoa kepada Allah, dengan rasa takut dari murka-Nya dan mengharapkan kasih sayang-Nya. Mereka pun selalu menafkahkan harta yang Kami karuniakan di jalan kebaikan.” (As-Sajda, ayat 16). Allah Swt kemudian memberikan pahala yang besar kepada mereka yang menghidupkan malamnya dengan ibadah dan berfirman, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan.

 

Dalam sebuah hadis Qudsi tentang shalat tahajud, Allah Swt berfirman, “Hambaku tidak memperlihatkan kecintaan terhadap sesuatu yang lebih dicintai dari perkara yang sudah aku wajibkan atasnya,dan ia datang dengan shalat sunnah demi meraih cinta-Ku sehingga Aku juga mencintainya. Saat Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya ketika ia mendengar, Aku akan menjadi matanya ketika ia melihat, Aku akan menjadi lisannya ketika ia berbicara, Aku akan menjadi tangannya ketika ia memukul, dan Aku akan menjadi kakinya ketika ia melangkah. Aku akan mengabulkan doanya saat ia meminta kepada-Ku, dan jika ia memohon kepada-Ku, Aku akan memenuhinya.” (Ushul al-Kafi, jilid 2)

 

Para guru besar akhlak memberikan berbagai penjelasan ketika menafsirkan hadis tersebut. Allamah Majlisi, penulis kitab Bihar al-Anwar mengatakan, “Seorang hamba akan berakhlak dengan akhlak Allah dan Allah menjadi sangat mulia di matanya sehingga ia menyerahkan segala urusannya kepada Sang Khalik. Ia juga mengabaikan tuntutan-tuntutan nafsunya dan pada akhirnya ia tidak melihat kecuali sesuatu yang dicintai oleh Allah. Ia tidak mendengar sesuatu kecuali atas keinginan dan kerelaan Allah, ia tidak mengerjakan sesuatu kecuali pekerjaan yang bisa mendekatkannya kepada Allah, dan ia tidak melangkahkan kakinya kecuali di jalan yang diridhai oleh Allah.”

 

Selama beberapa tahun terakhir, kaum Muslim di banyak negara Islam harus menjalani puasa di musim panas. Kondisi ini menuntut kesabaran ekstra semua orang untuk bisa menyempurnakan amal ibadahnya. Di Iran sendiri, puasa tahun ini kembali jatuh pada musim panas dan suhu udara di beberapa kota mencapai lebih dari 45 derajat celcius. Akan tetapi, kondisi ini tidak mengendurkan semangat masyarakat untuk menjalani ibadah puasa dan rutinitas mereka.

 

Sebut saja, Hidayatullah, seorang pekerja di pabrik roti tradisional Iran di Kota Semnan, ia harus duduk di depan tungku pembakar roti dengan suhu yang menyengat. Hidayatullah berkisah, “Sungguh sulit menjalani puasa di tengah terpaan hawa panas dari tungku pembakar roti ini, tapi puasa membawa banyak berkah dalam hidup terutama di tengah kondisi sulit.” Pengalaman serupa juga dituturkan oleh Ostad Asad. Ia adalah seorang tukang las pada sebuah bangunan yang sedang dalam tahap pengerjaan. Ostad Asad harus berjalan ke setiap sudut rangka bangunan untuk menyambung besi-besi yang baru ditata.

 

Suhu udara terasa cukup panas dan ditambah lagi dengan uap panas yang dipancarkan oleh besi bangunan. Namun Ostad Asad tekun menjalani pekerjaannya dan ia tidak peduli dengan terik matahari. Ia berkisah, “Benar, sangat sulit melakukan pekerjaan ini di tengah suhu panas dan bulan puasa, tapi tidak ada yang tak mungkin. Menjalani puasa dalam kondisi seperti ini merupakan sebuah anugerah dari Allah sehingga hamba-Nya memahami bahwa kalau ada kemauan, pasti ada jalan.”

 

Seorang filosof Iran, Gholam Hossein Ebrahimi Dinani mengenai puasa di musim panas berkata, “Tidak mudah menjalani puasa di musim panas, tapi memikul beban itu akan membuat manusia mencapai derajat yang tinggi dan kesempurnaan. Shalat dan puasa di bulan Ramadan secara lahir tampak seperti sebuah beban, namun beban ini justru akan membuat manusia semakin dekat dengan kebahagiaan.”