Lintasan Sejarah 28 Maret 2023
Hari ini, Selasa, 28 Maret 2023 bertepatan dengan 6 Ramadan 1444 Hijriah Qamariah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 8 Farvardin 1402 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini.
Abu Ali Sallar Wafat
Tanggal 6 Ramadan 463 HQ, Hamzah bin Abdullah Sallar, seorang ulama muslim abad ke-5 Hijriah, meninggal dunia di kota Tabriz, barat daya Iran.
Hamzah bin Abdullah Sallar dijuluki dengan nama Abu Ali. Abu Ali merupakan salah satu murid terkenal dari Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha Alamul Huda, dua ulama besar pada masa itu.
Karya Abu Ali Sallar yang paling terkenal adalah kitab berjudul "al-Marasim al-Alawiyah wal al-Ahkam an-Nabawiyah". Selain itu, dia juga menulis sepuluh jilid kitab fiqih berjudul "Jawami'ul Fiqih".
Rakyat Bangkit Melawan Shah Pahlevi di Arbain Syuhada Tabriz
Tanggal 8 Farvardin 1357 HS, rakyat bangkit melawan Shah Pahlevi di peringatan Arbain syuhada Tabriz.
Menyusul publikasi tulisan yang menghina Imam Khomeini ra di surat kabar Ettelaat pada 17 Dey 1356 Hs dan munculnya Kebangkitan 19 Dey di kota Qom, akhirnya warga Iran di seluruh penjuru negeri mulai melakukan demonstrasi menentang rezim Shah Pahlevi. Aksi demo ulama dan rakyat Qom mendukung Imam Khomeini ra, pemimpin mereka yang diasingkan dan protes mereka atas kelancangan terhadap ulama besar ini berujung pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan rezim Shah. Represi itu mengakibatkan jatuhnya banyak korban; baik yang syahid maupun yang cedera.
Mendekati peringatan 40 hari syuhada 19 Dey di Qom, kota Tabriz pada 29 Bahman 1356 menyelenggarakan peringatan yang diikuti secara luas oleh rakyat kota ini. Tapi peringatan ini dirusak oleh serangan yang dilakukan oleh aparat keamanan rezim Shah dengan senjata lengkap dan terjadilah tragedi kemanusiaan yang lebih buruk dari yang terjadi di Qom. Beberapa waktu berlalu dan ketika mendekati peringatan 40 hari tragedi tersebut, rakyat Iran di penjuru negeri melakukan aksi unjuk rasa. Sementara rakyat Tabriz sendiri melakukan aksinya pada 8 Farvardin 1357 HS.
Protes yang dilakukan rakyat semakin meluas. Ayatullah Sadouqi mengajak para pedagang menutup pasar dan bergabung dengan masyarakat di masjid Jami Yazd. Pertemuan akbar ini dimulai dengan pidato dan dilanjutkan dengan aksi turun ke jalan. Namun seperti yang sudah-sudah, aparat keamanan dengan senjata lengkap menyerang warga dan banyak korban berguguran. Peringatan Arbain Syuhada Tabriz juga dilakukan di kota-kota seperti Ahvaz dan Jahrom. Di dua kota ini, militer Shah juga melakukan serangan membabi-buta.
Peristiwa ini membuat pergerakan Revolusi Islam semakin cepat yang berujung pada kemenangannya pada 22 Bahman 1357 HS.
Kelompok Pro-monarki Spanyol Merebut Kekuasaan
Tanggal 28 Maret 1939, kelompok pro-monarki Spanyol di bawah pimpinan Jenderal Fransesco Franco berhasil mengalahkan kelompok pro-republik yang sempat berkuasa beberapa tahun di negeri matador itu.
Kemenangan kelompok pro-monarki itu ditandai dengan jatuhnya Madrid, ibukota Spanyol, ke tangan mereka. Kemenangan jenderal Franco ini mengembalikan sistem kerajaan di Spanyol sekaligus mengawali masa panjang diktatorisme di negara itu.
Sebelumnya, kelompok pro-republik menguasai Spanyol ketika mereka berhasil memaksa Raja Alfonso XIII mengundurkan diri dari jabatannya sebagai raja. Akan tetapi, masa kekuasaan kaum republikan ini berbarengan dengan krisis keamanan dalam negeri Spanyol. Hal inilah yang mendorong Jenderal Franco untuk tampil memimpin kelompok militer merebut kekuasaan dengan dalih untuk mengembalikan situasi keamanan di Spanyol. Saat itu, Jenderal Franco mendapatkan bantuan dari Nazi Jerman dan Fasis Italia.
Kelompok republikan sendiri mendapatkan bantuan dari negara-negara sekutu. Akhirnya, perang saudara berakhir dengan kemenangan Jenderal Franco yang kemudian mengangkat dirinya sebagai penguasa Spanyol. Franco berkuasa dengan menggunakan politik tangan besi di Spanyol selama 36 tahun.