Lintasan Sejarah 21 Desember 2017
Hari ini, Kamis tanggal 21 Desember 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 2 Rabiul Tsani 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 30 Azar 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Mu’taz Tewas
1143 tahun yang lalu, tanggal 2 Rabiul Tsani 296 HQ, Ibnu Mu’taz, seorang penyair dan sastrawan Arab zaman Dinasti Abbasiah, dibunuh atas perintah dari penguasa saat itu.
Ibnu Mu’taz dilahirkan di Samara. Irak, pada tahun 247 Hijriah, dan merupakan putra dari Mu’taz , khalifah Dinasti Abbasiah ke-13. Ibnu Mu’taz adalah seorang pencinta sastra dan syair sehingga rumahnya menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dan sastrawan.
Setelah kematian khalifah Muktafa, Ibnu Mu’taz diangkat menjadi khalifah, namun mendapatkan penentangan dari sekelompok orang sehingga akhirnya terguling. Setelah itu, Muqtadar Abbasi naik ke kursi kekhalifahan dan atas perintahnya pula, Ibnu Mu’taz dibunuh. Karya Ibnu Mu’taz berjudul, “Asy’aarul Muluk” dan “Kitaabul Badii’“.
Teks Perjanjian Segi Tiga Diserahkan ke Majlis Iran
76 tahun yang lalu, tanggal 30 Azar 1320 HS, teks perjanjian segi tiga antara Iran, Uni Soviet dan Inggris diserahkan ke Majlis Iran.
Langkah paling penting yang diambil oleh Kabinet Mohammad Ali Foroughi setelah Mohammad Reza Pahlevi berkuasa, pasca Perang Dunia II dan kehadiran pasukan Sekutu di Iran, adalah penandatanganan perjanjian antara Iran, Uni Soviet dan Inggris. Teks perjanjian itu diserahkan ke Majlis Iran pada 30 Azar 1320 HS.
Dalam perjanjian ini disebutkan mengenai Uni Soviet dan Inggris harus menghormati kedaulatan Iran, tapi pada saat yang sama Iran harus memberikan kemudahan kepada Uni Soviet dan Inggris selama perang dan penempatan pasukan militer Sekutu di Iran tanpa batas waktu.
Perjanjian ini, sekalipun secara lahiriah tidak merugikan Iran, tapi kehadiran pasukan Sekutu untuk waktu yang lama di Iran, serta kerugian akibat harus mengalokasikan dana membuat kehidupan rakyat miskin menjadi semakin sulit. Setelah perang berakhir, sekalipun Uni Soviet telah berjanji menarik pasukannya dari Iran, tapi mereka selalu mencari alasan untuk tetap berada di Iran. Tapi setelah pemerintah Iran melakukan pengaduan ke organisasi-organisasi internasional, pasukan Soviet akhirnya siap meninggalkan Iran.
PLO Didirikan
53 tahun yang lalu, tanggal 21 Desember 1964, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) didirikan.
Ketika didirikan, PLO terdiri dari delapan kelompok gerilyawan dan sejumlah lembaga pendidikan, sosial, kedokteran, budaya, dan keuangan. Setahun kemudian, divisi militer PLO yang diberi nama Kelompok Fatah memulai aktivitas mereka.
Pada tahun 1974, PLO diterima sebagai anggota pengamat dalam PBB dan hingga tahun 1982, organisasi ini berhasil menjalin hubungan resmi dengan lebih dari 100 negara. Namun kemudian, sejalan dengan semakin kerasnya aksi represi rezim Zionis terhadap aktivis PLO, organisasi ini mengubah taktik perjuangannya dengan diplomasi.
Hal ini terlihat dengan kesediaan pemimpin PLO, Yaser Arafat, untuk menandatangani perjanjian Oslo pada bulan September tahun 1993 yang isinya memberikan pengakuan secara resmi atas keberadaan negara Israel, dengan kompensasi pemberian status otonomi kepada Palestina oleh Zionis. Namun, Zionis ternyata tidak memperdulikan isi perjanjian tersebut dan hingga kini terus melakukan pembunuhan dan teror terhadap warga Palestina.