Lintasan Sejarah 18 September 2018
Hari ini, Selasa tanggal 18 September 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 8 Muharam 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Shahrivar 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Pertemuan Imam Husein as dengan Umar bin Saad
1378 tahun yang lalu, tanggal 8 Muharam 61 HQ, Imam Husein as melakukan pertemuan dengan Umar bin Saad.
Imam Husein berkata, "Wahai anak Saad! Apakah engkau datang menemuiku dan tidak memiliki keluhan pada-Nya?"
Ibnu Saad mengatakan, "Jika aku memisahkan diri dari kelompok ini, maka rumahku akan rusak, kekayaanku akan dirampas, dan aku mengkhawatirkan anggota keluargaku dari kemarahan Ibnu Ziyad."
Imam Husein berkata, "Bagaimana dengan dirimu sendiri? Allah akan segera mengambil jiwamu dan engkau tidak akan terampuni di Hari Kiamat ... Apakah engkau mengira akan sampai pada pemerintahan Rey dan Gorgan? Demi Allah! Tidaklah demikian, karena engkau tidak akan pernah sampai pada keinginanmu."
Manchuria Diduduki Jepang
87 tahun yang lalu, tanggal 18 September 1931, kawasan Manchuria di timur laut Cina, diduduki oleh tentara Jepang.
Pendudukan Manchuria yang memiliki luas wilayah lebih dari satu juta kilometer persegi itu ditengarai sebagai permulaan perang antara Cina dan Jepang. Setelah menduduki Manchuria, Jepang menempatkan pemerintahan boneka Mancheko. Sampai tahun-tahun awal perang Dunia Kedua, sebagian besar wilayah timur dan selatan Cina diduduki oleh Jepang.
Pada peristiwa perang Dunia Kedua, Cina mendapat dukungan sekutu dalam melawan Jepang. Menyusul kekalahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua tersebut di tahun 1945, tentara Jepang pun meninggalkan seluruh wilayah Cina, termasuk Manchuria.
Pesan Imam Khomeini ra Menyusul Gempa Bumi Tabas
40 tahun yang lalu, tanggal 27 Shahrivar 1357 HS, Imam Khomeini ra mengirim pesan menyusul gempa bumi Tabas.
Pasca terjadinya gempa bumi besar di kota Tabas pada 25 Shahrivar 1357 HS, rezim Pahlevi berusaha meraih simpati rakyat Iran dengan mengumumkan hari berkabung nasional. Melihat upaya rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra dari Najaf, Irak mengeluarkan pesan belasungkawa pada 27 Shahrivar 1357 HS dan menyampaikan solidaritasnya dengan keluarga korban gempa, sekaligus mengungkap niat buruk rezim Shah.
Sekaitan dengan pernyataan berkabung nasional yang disampaikan oleh rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra mengatakan, "Mereka yang membantai ribuan orang terbaik dari putra-putri kita (pada 17 Shahrivar 1357) secara bengis, kini berusaha untuk menyimpangkan opini umum dengan mengucapkan belasungkawa. Mereka menitikkan air mata buaya."
Dalam pesannya, Imam Khomeini ra meminta seluruh umat Islam untuk langsung memberikan bantuan kepada korban gempa.