Okt 06, 2019 18:55 Asia/Jakarta
  • Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran
    Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran hari Rabu, 2 Oktober, melakukan pertemuan dengan para komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Huseiniyah Imam Khomeini ra.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran hari Rabu, 2 Oktober, melakukan pertemuan dengan para komandan Sepah Pasdaran di Huseiniyah Imam Khomeini ra. Dalam pertemuan yang diselenggarakan setiap tahun ini, Rahbar melakukan evaluasi atas gerakan dan kinerja Sepah Pasdaran, dan memberikan bimbingan demi kelanjutan gerakan ini.

Pertemuan para komandan Sepah Pasdaran dengan Ayatullah Khamenei

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan ini, selain menyampaikan kegembiraannya dapat kembali berjumpa dengan para komandan Sepah Pasdaran, beliau juga menjelaskan, "Dalam kehidupan pribadi, politik dan sosial masyarakat, lembaga atau organisasi dan bahkan revolusi, biasanya menghadapi dua jalan berbahaya; jalan transenden atau kemunduran."

Beliau mengatakan, "Satu jalan adalah jalan transenden, sementara jalan yang lain adalah kemerosotan. Penggerak akal, hikmah, hidayah dan spiritual membawa mereka ke puncak atau daya tarik materi menurunkan mereka ke arah keinginan hina materi. Dua jalan ini biasanya dalam satu periode tertentu berada dihadapan orang dan pribadi manusia, juga organisasi, sebagaimana yang saya jelaskan, juga dihadapan revolusi, dimana sebagian refolusi dan perubahan besar politik dunia dimulai dengan baik dan tumbuh juga dengan baik, tapi dalam satu periode sensitif berada dalam kemerosotan dan kejatuhan. Dua jalan ini bagi masyarakat dan negara kita sudah pasti terjadi dalam periode pasca Pertahanan Suci... Tapi Sepah Pasdaran dalam periode ini berhasil tampil sebagai pemenang, Sepah tidak terkena keletihan dan kemunduran, berhasil mempertahankan elemen politik identitasnya dan bergerak menujuk transenden."

Ayatullah Khamenei dalam menjelaskan ucapannya mengatakan, "Bidang yang paling fasih, dimana sebuah lembaga seperti Sepah Pasdaran dapat hadir adalah bidang jihad dan syahadah. Bidah syahadan di jalan Allah adalah puncak dan area paling terang dan paling indah dari pandangan manusia." Sekaitan dengan hal ini, beliau menunjukk pada Syahid Hossein Hamedani, salah satu komandan Pertahanan Suci dan begitu juga pemuda yang syahid, Mohsen Hojaji, dimana keduanya gugur syahid dalam perang melawan kelompok Takfiri Daesh (ISIS) di Suriah. Rahbar menyatakan, "Semua ini bermakna, semua ini menunjukkan masih tetapnya kesegaran dan identitas mendasar."

Pertemuan para komandan Sepah Pasdaran dengan Ayatullah Khamenei

Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa parameter untuk menimbang kondisi setiap organisasi dan lembaga adalah dengan membandingkan keberhasilan dan kegagalannya, Sepah Pasdaran merupakan satu dari lembaga yang paling membanggakan. Rahbar mengatakan, "Saya akan menyampaikan beberapa bab penting dalam hal ini... satu masalah inovasi dan kreatitivitas di Sepah Pasdaran; baik inovasi dalam peralatan perang dan militer ... juga dalam metode militer, dalam menghadapi musuh dan perang, inisiatif yang dilakukan Sepah sangat menonjol. Masalah inisiatif, inovasi dan keberhasilan merupakan satu elemen dan satu bab.

Ayatullah Khamenei menambahkan, "Satu elemen lain yang sangat penting adalah cara pandang luas pada geografi Muqawama di kawasan. Poros Muqawama di kawasan ini telah menunjukkan kemampuannya dalam menghadapi kubu arogan, Amerika dan front bersatu kufur dan zalim. Kalian dapat menyaksikan peran Sepah Pasdaran di front Muqawama ini; mulai dari masalah Palestina, sehingga masalah lain di Asia Barat dan beragam bagian ... partisipasi Sepah Pasdaran di front Muqawama dan di geografi Muqawama, sedemikian menonjol, sehingga memunculkan banyak permusuhan terhadap Sepah, permusuhan manusia-manusia buruk dan front keburukan, dimana ini merupakan satu kebanggaan besar, bila kekuatan terburuk dunia melakukan perbuatan buruk terhadap seseorang, maka ini sangat membanggakan."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menilai elemen spiritual dalam Sepah Pasdaran dan upaya untuk mempertahankannya menjadi satu bab terpenting dalam lembaga Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dimana seperti hujan rahmat yang menyirami sebuah kebun dan memberi efek kehidupan, kesegaran dan manifestasinya. Ketika hujan turun, bukan hanya memberi kehidupan pada sejumlah bagian kebun, tapi memberikan juga keindahan, tampilan dan kesegaran, ia membuatnya enak dipandang. Hujan spiritual seperti ini.

Ayatullah Khamenei dalam kelanjutan pidatonya menyinggung kemampuan tinggi Sepah Pasdaran kemudian memberi pesan kepada para komandan IRGC seperti harus mempersiapkan diri dalam menghadapi peristiwa atau kejadian besar. Beliau juga menyebut kesiapan Sepah dalam berbagai periode revolusi, mulai dari kerusuhan, provokasi etnis hingga dimulainya perang yang dipaksakan. Menurut Ayatullah Khamenei, "Sejak jam-jam pertama dimulainya Perang Pertahanan suci dan Saddam menyerang, Sepah telah berada di medan perang. Sebelumnya juga sudah ada. Sebelumnya musuh juga sudah mengganggu dan melakukannya dari perbatasan, waktu itu juga Sepah sudah hadir. Setelah meninggalnya Imam, dalam pelbagai peristiwa politik, sosial, pelbagai provokasi, setiap kali terjadi peristiwa, Sepan menunjukkan siap melakukan sesuatu... Kesiapan ini harus dipertahankan, bukan hanya masalah keamanan, militer dan sepertinya, bukan, tapi dalam sebua bidang... Baik dalam bidang pelayanan, mengentaskan kemiskinan dan juga dalam menghadapi musuh, memperkuat orgnisasi, kesiapan ilmu dan perbuatan, kematangan politik dan di semua bidang ini harus mempertahankan kesiapan untuk berbuat."

Pertemuan para komandan Sepah Pasdaran dengan Ayatullah Khamenei

Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pesannya yang lain kepada para komandan Sepah Pasdaran mengatakan, "Jangan melepaskan cara pandang luas geografis Muqawama ... Jangan puas dengan kawasan kita, "ما غُزِیَ قَومٌ قَطُّ فی عُقرِ دارِهِم اِلّا ذَلّوا". Ini hadis dari Maksum as, dimana mereka yang tinggal di rumah dan mereka diserang bakal terhina. Jangan sampai kita memilih empat dinding dan jangan sampai perbuatan kita tidak peduli dengan di balik dinding ini siapa dan ancaman apa yang ada. Cara pandang luas lintas batas, keberlangsungan kedalaman strategis ini kadang-kadang bahkan lebih penting daripada kebutuhan paling mendesak negara untuk diperhitungkan."

Ayatullah Khamenei menjelaskan penting melihat musuh dengan terperinci dan mengevaluasi mereka secara realistis. Rahbar mengatakan, "Jangan salah antara kewaspadaan dan ketakutan. Jangan takut akan musuh, sekalipun mereka kuat dan besar, jangan takut. Karena kalian memiliki kekuatan iman yang tidak dimiliki musuh. Seberapa besar volumenya, tapi kalian harus mengetahui volume dan kekuatan musuh... Jangan sampai menganggap remeh musuh, hina, lemah dan tidak punya apa-apa,  baik kecil atau besar, Jangan! Musuh sekalipun kecil harus diperhitungkan dan menghadapinya dengan penilaian yang benar dan selalu waspada menghadapinya. Sekali lagi, kewaspadaan ini jangan sampai salah dengan ketakutan, jangan pernah takut, tapi harus mengetahui, kalian menghadapi siapa."

Ayatullah Khamenei di bagian lain dari pidatonya menyebutkan bahwa bila memperhatikan transformasi regional dan internasional, kita akan memahami betapa setiap kali musuh mengeluarkan biaya lebih besar, mereka lebih besar kerugiannya. Beliau kemudian menyinggung biaya yang dikeluarkan para musuh, khususnya Amerika di Afghanistan, Irak dan Suriah seraya mengingatkan, "Mereka menciptakan Daesh (ISIS) dengan biaya yang sangat besar dan memberi mereka dukungan senjata, keuangan, hingga propaganda, dan kini ISIS musnah berkat perjuangan para pemuda Suriah, Irak dan Iran. Mereka berbohong dengan mengklaim 'Kamilah yang telah menghancurkan ISIS!"

Pemimpin Besar Revolusi Islam menilai kebijakan tekanan maksimum Amerika terhadap bangsa Iran sebagai kebijakan yang gagal dan berkata, "Mereka berkhayal bila memusatkan perhatian pada tekanan maksimum terhadap Iran di sektor ekonomi, lebih utama ekonomi, dan sebagian masalah lainnya, Iran akan bertekuk lutut, Republik Islam Iran terpaksa menunjukkan sikap lebih lembut. Sampai saat ini, dengan taufik ilahi, dengan bantuan Allah, dengan kekuasaan Allah mereka mengerti bahwa tekanan maksimum ini telah membuat masalah bagi mereka... Saya dengan tegas mengatakan kepada kalian bahwa tekanan maksimum ini akan gagal sampai akhir."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut sistem yang berlaku di dunia adalah sistem dominasi yang tujuannya membagi dunia menjadi dua bagian; sistem dominan dan yang menerima dominasi. Beliau menjelaskan bahwa Republik Islam Iran meletakkan dirinya di jalur menghadapi sistem dominasi. Ayatullah Khamenei mengatakan, "Mereka bersikeras agar Republik Islam Iran melepaskan garis revolusi, yakni yang kami pesankan dan kalian menjaganya, Mereka berkata, mari menjadi negara normal. Negara normal adalah negara yang menyesuaikan diri dengan mekanisme dan perbuatan dunia dominasi... Republik Islam Iran sejak jam-jam pertama kelahiran dan wujudnya bergerak melawan sistem dominasi. Bagaimana mungkin kita melepaskannya. Kami menentang sistem dominasi dengan membagi dunia menjadi sistem yang mendominasi dan yang menerima dominasi danmenghadapinya, kami tidak mungkin menerima pemaksaan dan sampai saat ini kami telah mampu mencapai banyak kemajuan di bidang ini dan banyak dari manusia di dunia, pemikiran dunia, cendekiawan dunia dan warga dunia yang mengiringi kita di jalur ini dan ini jalah yang pasti kami lanjutkan, jalan revolusioner, jalan untuk menghadapi sistem dominasi."

Ayatullah Khamenei di akhir pidatonya dalam pertemuan ini mengatakan, "Ketika saya memandang ke semua sudut... saya menyaksikan sikap berhadap-hadapan bangsa Iran di Republik Islam Iran dengan dunia kezaliman, arogansi dan kekufuran, kemenangan berada pada bangsa Iran. Kami punya kemenangan strategis, Insya Allah, sebagaimana ayat-ayat al-Quran dan janji ilahi memberi kabar gembira ini, begitu juga pengalaman selama 40 tahun ini menjadikannya nyata bagi kita.  bagaimana Nabi Ibrahim as dalam masalah orang mati dibangkitkan menyampaikan kepada Allah, وَلکِـن  لِیَطمَئِنَّ قَلبی، "Saya yakin, tapi saya ingin hatiku tenang," kini bangsa Iran ketika pencapain selama 40 tahun ini, tunas halus yang mendapat serangan dari semua sudut untuk memusnahkannya, tapi mereka tidak mampu, dan ketika menyaksikan ia telah berubah menjadi bangunan tinggi, dan pohon ini memiliki daun dan buah, bagi mereka itu menjadi (لِیَطمَئِنَّ قَلبی) agar hatiku tenang.