Lintasan Sejarah 29 Agustus 2020
-
29 Agustus 2020.
Hari Tasu’a, Karbala Tempat Beribadah Paling Indah
Tanggal 9 Muharam dikenal sebagai hari Tasu’a atau hari kesembilan bulan Muharam dan di tanggal ini Karbala menjadi tempat beribadah paling indah.
1381 tahun yang lalu, tanggal 9 Muharam 61 HQ, Syimr bin Dzil Jausyan mendatangi perkemahan Imam Husein as. Selain memanggil Abbas dan putra-putra Ummul Banin lainnya, ia mengatakan, "Aku telah mengambil surat jaminan untuk kalian dari Ubaidillah bin Ziyad."
Secara bersamaan, mereka berkata kepada Syimr, "Allah melaknatmu dan melaknat surat jaminanmu! Kami berada dalam keamanan dan putra dari putri Rasulullah berada dalam ancaman?!"
Melalui saudara lelakinya, Abbas, Imam Husein as meminta kesempatan satu malam dari musuh untuk melakukan shalat, berdoa, berkhalwat dengan Tuhan dan membaca al-Quran.
Setelah memuji kebesaran Tuhan, Imam Husein mempersilahkan para sahabatnya agar menggunakan kegelapan malam itu untuk menyelamatkan diri dan pergi dari medan peperangan. Karena tidak ada seorangpun yang akan selamat dalam pertempuran melawan tentara Yazid keesokan harinya. Namun, keluarga dan sahabat Imam Husein as bertekad untuk memberi dukungan kepada agama Allah dan cucu Rasulullah selagi hayat dikandung badan. Pada malam Asyura itu, sahara Karbala menjadi tempat beribadah yang paling indah dan menunjukkan puncak keimanan kafilah Imam Husein as.
Para sahabat Imam Husein menggali parit di seputar perkemahan untuk menghadapi musuh dan memutus hubungan musuh dengan perkemahan dari tiga arah. Serangan musuh hanya bisa dilakukan dari satu arah dimana para sahabat Imam Husain as ditempatkan. Ini adalah strategi Imam Husain as yang sangat bermanfaat bagi para sahabat.
Di hari itu sekelompok dari pasukan Umar bin Saad bergabung dengan pasukan Imam Husein as.
Pidato Imam Husein as kepada musuh, "Celaka kalian! Kerugian apa yang akan kalian peroleh jika mendengarkan perkataanku? Aku mengajak kalian ke jalan yang benar. Akan tetapi kalian menolak seluruh perintahku dan tidak mendengarkan perkataanku, karena perut-perut kalian telah terpenuhi oleh kekayaan haram hingga mengeraskan hati-hati kalian."
Ledakan di Gedung PM Iran, Syahidnya Rajai dan Bahonar
39 tahun yang lalu, tanggal 8 Shahrivar 1360 HS, Mohammad Ali Rajai, Presiden Iran dan Mohammad Javad Bahonar, Perdana Menteri Iran pada waktu itu, gugur syahid akibat ledakan bom di kantor Perdana Menteri di Teheran.
Peledakan bom ini dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin al-Khalq.
Syahid Rajai memulai aktivitas sosialnya dengan menjadi guru. Bersamaan dengan melakukan tugasnya sebagai guru, beliau juga aktif berjuang melawan rezim despotik Shah Pahlevi. Akibatnya, Rajai harus berkali-kali dipenjara dan mengalami berbagai kesulitan besar. Setelah kemenangan Revolusi Islam dan Republik Islam Iran berdiri, Rajai menjabat posisi menteri pendidikan dan pengajaran, anggota Majelis Perwakilan Islami, perdana menteri, dan terakhir menjadi presiden.
Ketika Syahid Rajai menjabat sebagai Presiden, posisi perdana menteri dipegang oleh Doktor Bahonar. Doktor Bahunar adalah seorang ruhaniwan Islam dan pejuang garis depan dalam melawan rezim Shah.
Setelah syahidnya kedua pemimpin besar Iran yang sangat dikenal keikhlasan dan kerendahhatiannya ini, Imam Khomeini menyatakan, "Keutamaan kedua syahid ini adalah karena mereka pemimpin yang selalu bersama dengan rakyatnya."
Ayatullah Muhammad Baqir Al-Hakim Syahid
17 tahun yang lalu, tanggal 29 Augustus 2003, Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim,ulama dan pejuang yang terkenal gugur syahid selepas berlangsungnya shalat Jumat di sekitar makam Imam Ali as di kota suci Najaf akibat ledakan sebuah bom.
Bersamaan dengan itu 83 warga tak berdosa turut gugur syahid dan puluhan lainnya cidera.
Ayatullah Baqir al-Hakim lahir dalam sebuah keluarga pejuang dan ahli ilmu pada tahun 1939. Dia banyak memperoleh ilmu terutama dari ayah beliau Ayatullah Muhsin al-Hakim dan secara gradual turut serta dalam perjuangan melawan rezim despotik Saddam di Irak. Namun akibat kerasnya tekanan dan penumpasan yang dilakukan oleh Rezim ini, Ayatullah Muhammad Baqir Hakim memilih untuk berjuang dari luar negeri yaitu di Iran.
Pada tahun 1981 bersama dengan kumpulan dan rekan-rekan seperjuangannya, ia mendirikan Dewan Tinggi Revolusi Islam Irak. Selama 19 tahun beliau memimpin dewan tersebut, kelompok ini telah memberikan pukulan keras kepada rezim Saddam.
Ketika Amerika dan Inggris menumbangkan rezim Saddam pada bulan April 2003, Ayatullah Hakim kembali ke Irak. Tetapi musuh-musuh Ayatullah Hakim yang menganggap beliau sebagai halangan konspirasi jahat mereka berusaha mencari peluang untuk menerornya. Selain dikenal sebagai pejuang, Syahid Muhammad Baqir Hakim telah meninggalkan 40 buku dan puluhan artikel.