Lintasan Sejarah 30 Agustus 2020
Hari ini, Minggu 30 Agustus 2020 bertepatan dengan 10 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 9 Shahrivar 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Hari Asyura, Tragedi Pembantaian Imam Husein
1381 tahun yang lalu, tanggal 10 Muharam 61 HQ, Imam Husein as gugur syahid dibantai oleh pasukan Umar bin Saad.
Setelah menunaikan shalat Subuh bersama para sahabatnya, Imam Husein as berkata, " ... Allah telah memerintahkan pada kesyahidanku dan kesyahidan kalian. Selamat atas kalian yang memilih kesabaran."
Imam Husein as memerintahkan Zuhair bin Qain untuk memegang komando pasukan sebelah kanan, dan Habib bin Mazhahir, pasukan sebelah kiri. Sementara bendera berada di tangan saudaranya, Abbas.
Kendati pasukan musuh telah mendekati perkemahan, namun Imam Husein as belum memerintahkan untuk melemparkan anak panah. Beliau berkata, "Aku tidak ingin memulai perang dengan pasukan ini."
Umar bin Saad meletakkan anak panah di panahnya dan melontarkannya ke arah para sahabat Imam Husein seraya berkata, "Saksikanlah bahwa akulah orang pertama yang melemparkan anak panah ke arah pasukan Husein." Kemudian tindakan ini diikuti oleh para pasukan Umar bin Saad. Mereka membidik para sahabat Imam Husein as dari segala arah.
Imam Husein as berkata, "Bangkitlah wahai para sahabatku, dan bergegaslah menuju kesyahidan! Allah akan mengampuni kalian."
Pada serangan pertama, lebih dari empat puluh sahabat Imam Husein as gugur syahid. Selebihnya, secara bergilir satu persatu dari mereka maju ke medan pertempuran untuk bergegas menyambut kesyahidan. Ketika seluruh sahabat telah gugur, tibalah giliran keturunan Bani Hasyim untuk maju ke medan laga. Namun mereka pun mereguk madu kesyahidan, tanpa tersisa.
Kini Imam Husein as sendirian, tak berteman. Dengan pandangan penuh haru,beliau memandang ke arah jasad-jasad suci para sahabatnya dan memanggil mereka satu persatu, kemudian bergerak ke arah perkemahan untuk mengucapkan perpisahan terakhir. Setelah itu, beliau lantas mengeluarkan pedang dari sarungnya, berdiri berhadapan dengan musuh, dan memulai peperangan yang tak seimbang.
Musuh segera mengepungnya dari segala arah. Tiba-tiba, sebuah anak panah bercabang tiga mengenai dada sebelah kirinya, menancap tepat di jantungnya, sementara tubuh sucinya dipenuhi oleh anak-anak panah yang menancap. Imam Husein as tersungkur jatuh, gugur syahid. Ruhnya yang mulia bergabung ke alam malakut yang tinggi. Jeritan para wanita dan anak-anak, bahkan para malaikat membahana, mengharu biru dan memenuhi belantara langit.
Imam Musa Sadr Hilang
42 tahun yang lalu, tanggal 9 Shahrivar 1357 HS, Imam Musa Sadr dinyatakan hilang setelah diundang ke Libya.
Imam Musa Sadr lahir di kota Qom pada 1307 HS. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar agamanya, beliau kemudian belajar kepada ayahnya Ayatullah Sayid Sadr ad-Din, Ayatullah Sayid Mohammad Mohaqqeq Damad, Sayid Hossein Boroujerdi dan Imam Khomeini ra. Setelah itu beliau menuju kota Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikan agamanya di sana hingga mencapai mujtahid.
Pasca wafatnya Ayatullah Sayid Abdul Husein Syarafuddin, Imam Musa Sadr memegang tampuk kepemimpinan Syiah Lebanon. Di masa kepemimpinannya, beliau berhasil mengubah kondisi budaya, sosial dan politik warga Syiah di Lebanon Selatan dan untuk itu beliau menggagas pendirian "Harakah al-Mahrumin" (Gerakan Pengentasan Kemiskinan).
Pejuang Islam yang tak kenal lelah ini senantiasa berusaha menciptakan persatuan antara negara-negara Arab dan memobilisasi mereka mengisolasi rezim Zionis Israel. Beliau melakukan perjalan ke negara-negara Arab untuk memperkuat Harakah al-Mahrumin dan membeli senjata. Perlahan-lahan beliau menjadi tokoh politik penting internasional.
Ketika Libya mengundang Imam Musa Sadr ke negaranya, dalam perjalanan ke negara ini, pada 9 Shahrivar 1357 HS, beliau menghilang dan tidak ada kabarnya. Sekalipun banyak berita tentang beliau yang kontradiktif mengenai apakah beliau masih hidup atau tidak, tapi tidak ada dokumen yang betul-betul dapat dipercayai mengenai nasib beliau.
Timor Timur Berpisah dari Indonesia
21 tahun yang lalu, tanggal 30 Agustus 1999, Timor Timur menjadi sebuah negara independen dan digantinamanya menjadi Timor Leste.
Kepulauan Tim-tim dan sebagian kepulauan Indonesia lainnya pada tahun 1511 dijajah oleh Portugis. Kemudian, pada pertengahan abad ke-19, Belanda menjajah kepulauan Indonesia kecuali Timtim yang masih tetap dikuasai Portugis.
Pada tahun 1945, Indonesia meraih kemerdekaannya sementara Timtim masih terus dijajah hingga tahun 1976.
Pada tahun itu pula, tentara Indonesia masuk ke Timtim dan memasukkan Timtim ke dalam wilayah Indonesia. Setelah jatuhnya Suharto dari kursi kepresidenan tahun 1998, perjuangan rakyat Timtim semakin menguat dan mendapat dukungan PBB dan negara-negara barat sampai akhirnya berhasil merdeka setelah diadakan referendum.