Rapor Terorisme Rezim Zionis Israel
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i14740-rapor_terorisme_rezim_zionis_israel
Pada tanggal 4 Juli 1982, anasir dan antek-antek rezim Zionis di Lebanon, dalam sebuah aksi teror terencana, menculik empat pegawai Kedutaan Besar Iran di Beirut di sebuah pos pemeriksaan di utara Lebanon.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 16, 2016 09:26 Asia/Jakarta

Pada tanggal 4 Juli 1982, anasir dan antek-antek rezim Zionis di Lebanon, dalam sebuah aksi teror terencana, menculik empat pegawai Kedutaan Besar Iran di Beirut di sebuah pos pemeriksaan di utara Lebanon.

Sayyid Mohsen Mousavi sebagai kuasa usaha, Ahmad Motavasilian selaku atase militer kedubes, Taqi Rastegar Moghaddam sebagai penasehat teknis Kedubes Republik Islam Iran di Beirut, bersama Kazem Akhavan, wartawan IRNA, diculik ketika sedang melaksanakan tugas. Telah 34 tahun berlalu sejak insiden tersebut, akan tetapi nasib keempat diplomat Iran itu masih belum diketahui.

 

Penindaklanjutan berkas 4 diplomat Iran itu terbagi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah langkah-langkah diplomatik Republik Islam Iran untuk menindaklanjuti kasus penculikan empat diplomat Iran. Menyusul aksi teror tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran menuntut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB untuk menindaklanjuti masalah ini, serta meminta pemerintah Lebanon bekerjasama penuh melalui mekanisme diplomatik untuk memperjelas berbagai dimensi dari aksi teror tersebut.

 

Republik Islam Iran dengan bantuan pemerintah Lebanon telah mencatat dokumen resmi di PBB yang menyebutkan bahwa empat diplomat Iran diculik di Lebanon. Namun saat itu adalah kondisi ketika pasukan Antoine Lahad dan sebelumnya Kolonel Saad Haddad, panglima militer Lebanon selatan, bersekongkol dengan rezim Zionis  untuk membuat Lebanon Selatan menjadi sabuk keamanan bagi Israel. Dua gerakan Kristen yaitu partai Phalangist yang dipimpin oleh Elie Hobeika dan kemudian Samir Geagea, serta Nasionalisme Kristen Lebanon juga ikut bermain dalam permainan politik ini. Kondisi ini akan berlanjut hingga paruh kedua dekade 1990.

 

Upaya Republik Islam Iran adalah mendapatkan informasi terkait kondisi para korban. Pada tahap itu, seluruh informasi menunjukkan bahwa pos pemeriksaan tersebut adalah milik militan yang berafiliasi dengan gerakan Elie Hobeika, yang menculik dan merelokasi keempat diplomat Iran itu ke tempat yang tidak diketahui. Namun tahap kedua lebih sulit dari tahap pertama, karena milisi afiliasi Elie Hobeika dan Samir Geagea menjalin kerjasama nyata dengan pangkalan rezim Zionis di Lebanon. Pada tahap itu laporan yang terkumpul menunjukkan bahwa keempat diplomat Iran itu telah direlokasi ke Israel dan diserahkan kepada unit-unit Mossad.

 

Pada tahap ketiga yang bertepatan dengan berakhirnya perang dalam negeri Lebanon, masalah penculikan empat diplomat Iran di Lebanon lebih transparan. Pada tahap itu, dalam perundingan dengan Elie Hobeika, dia secara resmi menyatakan bahwa warga Iran yang diculik ditahan di tempat penahanan sementara milisi Kristen dan kemudian diserahkan kepada Israel. Menurut Hobeika, hal itu adalah permintaan dari rezim Zionis.

 

Sementara itu, Samir Geagea pada tahun 1982 termasuk di antara para pemimpin dan pengambil keputusan milisi Phalangist, bersama Hobeika dalam sebuah kelompok, melakukan berbagai aksi teror. Dalam hal ini Geagea juga ikut berkomentar. Pada wawancara dengan majalah Al-Wasat terbitan Lebanon edisi 31 Agustus 1997, Samir Geagea mengakui bahwa keempat warga Iran diculik oleh anasir rezim Zionis.

 

Elie Hobeika pasca insiden 1982, dalam sebuah pernyataan resmi mengklaim bahwa para diplomat Iran itu telah gugur syahid di tangan Samir Geagea, akan tetapi Geagea mengklaim bahwa tanggung jawab pembunuhan para pegawai Kedubes Iran itu ada di tangan Hobeika. Namun dengan teror terhadap Elie Hobeika, klaim tersebut berakhir.

 

Pada 7 Januari 1982, Radio Israel memberitakan bahwa Phalangist telah menangkap empat diplomat Kedubes Iran di Beirut, membebaskan ketua dan membawa tiga lainnya ke tempat yang tidak diketahui. Sejumlah sumber juga menyebutkan bahwa Phalangist menahan empat diplomat Iran yang diculik itu di gedung di Karantina. Laporan dari berbagai sumber yang dekat dengan pasukan Phalangist menyebutkan keempat diplomat Iran itu ditahan serta diinterograsi selama 20 hari di lantai bawah tanah Karantina, dan kemudian di relokasi ke penjara Adonis, Israel.

 

Ahmad Habibollah Abu Hesham, yang dikenal sebagai "bapak ruhani" tahanan penjara-penjara Israel juga ikut berkomentar dalam hal ini. Dia pada tahun 2002, setelah menjenguk para tahanan di penjara Israel menyatakan bahwa dirinya melihat para diplomat Iran dan bahwa mereka ditahan di penjara Atlit. Pasca pernyataannya itu, pada 15 Mei 2002 dalam sebuah insiden yang sangat mencurigakan, Abu Hesham ditabrak anasir rezim Zionis di dekat kota Kfar Manda di utara Palestina. Abu Hesham mengalami luka parah dan akhirnya gugur syahid.

 

Bukti-bukti lain juga menunjukkan bahwa keempat diplomat Iran yang diculik itu telah direlokasi ke penjara-penjara Israel. Koran Ray El-Youm beberapa waktu lalu dalam sebuah laporan mengutip sumber-sumber intelijen menulis, "Menurut keterangan seorang tahanan Yunani yang baru saja dibebaskan, keempat warga Iran yang diculik di Lebanon itu masih hidup dan ditahan di penjara rezim Zionis.

 

Menurut laporan Ray El-Youm, Mohsen Mousavi, Ahmad Motavaselian, Kazem Akhavan dan Taqi Rastegar, diculik atas instruksi Elie Hobeika dan Samir Geagea. Pada tahun 1986 dan setelah pertukaran tahanan antara Hizbullah dan Israel, tersebar berita bahwa Phalangist telah menyerahkan keempat diplomat Iran itu kepada Israel bersama sejumlah tahanan lainnya. Ditambahkan pula bahwa para tahanan yang bebas dari penjara Israel mengatakan warga Iran itu ditahan di salah satu penjara Israel.

 

Yasin Jamil, penulis laporan itu menambahkan, berdasarkan sebuah laporan keamanan terperinci, seorang tahanan Yunani yang dibebaskan dari penjara Israel mengatakan bahwa empat diplomat Iran hidup di penjara-penjara Israel.

 

Menteri Pertahanan Iran dalam wawancaranya dengan Kantor Berita Defa-e Moghaddas mengatakan, "Mereka ditahan di penjara-penjara Israel dan kami memiliki dokumen yang membuktikan klaim ini. Keamanan dan keselamatan para diplomat Iran adalah tanggung jawab Israel dan kami akan menindaklanjuti masalah ini dari sisi politik dan hukum demi pembebasan mereka."

 

Aksi teror ini memiliki beberapa poin penting. Pertama bahwa peran rezim Zionis dalam berbagai aksi teror tidak dapat dipungkiri. Teror pemerintahan dan penculikan adalah cara yang sering digunakan Mossad dan bahkan menjadi bagian dari kebijakan rezim Zionis Israel. Orang-orang Zionis sejak awal aksi pendudukannya menggunakan cara tersebut dan bahkan tetap menjadi agenda kinerja Israel. Oleh karena itu, tanggung jawab penyelesaian masalah ini berada di tangan PBB dan lembaga-lembaga internasional yang mengklaim sebagai pembela Hak Asasi Manusia (HAM). 

 

Republik Islam Iran sebelumnya telah menuntut PBB dan Dewan Keamanan untuk menindaklanjuti masalah ini dengan membentuk tim pencari fakta internasional guna memperjelas nasib para diplomat Iran tersebut. Namun PBB yang dengan cepat menunjuk pelapor khusus untuk urusan yang tidak memiliki bukti kongkret, kali ini memilih bungkam di hadapan permintaan Iran. Padahal jika hal ini terjadi terhadap sebuah negara Eropa atau Amerika Serikat, akan menimbulkan kontroversi dan dari semua sisi akan diupayakan penyelidikan hingga penetapan resolusi guna memperjelas masalah.

 

Yang jelas rezim Zionis terbentuk berdasarkan ideologi teror dan aksi tersebut merupakan sarana bagi rezim Zionis untuk melanjutkan penjajahannya. Israel tidak akan dapat bertahan hidup tanpa teror dan kekerasan. Kejahatan rutin Israel di Gaza adalah bukti nyatanya.