Ahed Tamimi, Simbol Perlawanan Palestina Baru
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i60635-ahed_tamimi_simbol_perlawanan_palestina_baru
Nama Ahed Tamimi, seorang gadis Palestina yang pemberani, kembali terpampang di tajuk utama media massa dunia. Sejumlah media Barat menyebutnya sebagai Joan of Arc of Palestine.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 06, 2018 11:30 Asia/Jakarta

Nama Ahed Tamimi, seorang gadis Palestina yang pemberani, kembali terpampang di tajuk utama media massa dunia. Sejumlah media Barat menyebutnya sebagai Joan of Arc of Palestine.

Ahed Tamimi, seorang gadis Palestina berusia 17 tahun, menjadi simbol perlawanan Palestina setelah menampar tentara Israel. Dia keluar dari penjara setelah ditahan selama delapan bulan. Warga menyambutnya dengan mengibarkan bendera Palestina dan mengangkat plakat di desa Nabi Saleh, tempat tinggalnya. Ahed ditangkap pada 19 Desember 2017, setelah dia menampar dua tentara Israel di luar rumahnya. Ibunya merekam insiden tersebut dan menyebarkannya melalui Facebook. Video itu dengan cepat menyebar dan mengubah Tamimi sebagai simbol perlawanan Palestina.

Ahed Tamimi telah menonjol sejak kecil. Pada Agustus 2012, diterbitkan sebuah foto ketika Ahed berusia 11 tahun yang tampak berusaha mencegah ibunya ditangkap. Setelah pembebasannya, sementara sedang memakai kafiye Palestina di pundaknya,  Tamimi berkata, "Perlawanan akan berlanjut sampai pendudukan berakhir."

Ahed Tamimi

Setelah dibebaskan, gadis muda Palestina itu, bertemu dengan pemimpin Otorita Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah. Abbas menyebutnya sebagai "simbol perjuangan kemerdekaan." Keluarga Tamimi memiliki sejarah panjang melawan rezim Zionis di Tepi Barat. Ketika video penamparan tentara Israel oleh Tamimi tersebar, muncul reaksi meluas di wilayah pendudukan Palestina dan juga dunia.

Sejumlah media Palestina menyebutnya "pahlawan belia besar mereka" atau Ahlam al-Tamimi II. Ahlam al-Tamimi adalah seorang perempuan Palestina pertama yang bergabung dengan brigade Izzuddin Qassam, sayap militer Hamas. Dia dituduh terlibat dalam serangan 2001 ke sebuah restoran yang menewaskan sejumlah orang Zionis. Al-Tamimi, yang menghabiskan 10 tahun di penjara rezim Israel, akhirnya diasingkan ke Yordania di bawah kesepakatan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel pada tahun 2011.

Penyebaran penahanan Tamimi di berbagai media selama delapan bulan terakhir sedemikian meluas sehingga ia menuai kritik rezim Zionis dan berpendapat bahwa penangkapan tersebut hanya kepentingan Palestina. Jurnalis Israel, Uri Avnery,  mengkritik penangkapan tersebut dan mengatakan, "Partai berkuasa sayap kanan di Israel telah mengubah Ahed Tamimi menjadi "Joan of Arc" (pahlawan nasional Perancis)."

Pada awal abad ke-15, tepatnya ketika Perancis putus asa dalam melawan Inggris, seorang gadis muda berusia 16 tahun, Joan of Arc, tampil dan dengan berani mampu menghidupkan kembali harapan dalam masyarakat Perancis. Pada masa itu, raja Perancis tidak berani menatap mata atau bahkan berbicara dengan seorang tentara Inggris. Joan of Arc memulai perjuangannya dengan tamparan ke wajah seorang perwira Inggris dan rakyat Perancis bersemangat dan bangkit melawan Inggris.

Sejumlah media Barat menulis kisah yang sama seperti Joan of Arc ketika menjelaskan aksi Tamimi menampar tentara Israel guna mencegah penangkapan saudaranya dan perusakan rumah orang tuanya. Rezim Zionis berusaha keras untuk mencegah penyebaran status kepahlawanan Tamimi. Oleh karena itu, militer Zionis mencoba membunuh siapa pun yang mencoba melawan mereka di lokasi kejadian.

Ahed Tamimi

Karena video Tamimi terpublikasikan, maka tidak mungkin bagi rezim Zionis untuk membunuhnya, itulah sebabnya dia dijatuhi hukuman delapan bulan penjara. Penulis editor Yediot Aharonot menulis, ketika berbicara tentang Tamimi—di saat dunia sedang membicarakannya—dia mengatakan, "Sejak usia sembilan tahun, ia terlibat bentrokan dengan tentara Israel di hadapan kamera. Dua tahun lalu, dia menjadi bintang sebuah rekaman film di mana lima wanita Palestina terlibat bentrokan dengan pasukan Brigade Gulani guna mencegah penangkapan saudara laki-laki Tamimi, di saat tangannya patah, dalam rekaman tersebut militer rezim Zionis Israel kalah di hadapan perlawanan seorang gadis berusia 16 tahun."

Surat kabar ini lebih lanjut menyebutkan bahwa, "Ketika kita berpikir bagaimana gadis ini secara cerdik dapat membuat kita terjebak, banyak orang di dunia terpengaruh oleh gadis ini, dan saya pribadi percaya bahwa Komite Penghargaan Nobel Perdamaian akan menjadikannya sebagai nominasi penerima penghargaan tersebut. Mereka selalu mencari cerita menarik seperti ini. Yediot Aharonot  di akhir laporannya menyebutkan bahwa setelah kita menyaksikan batu, pisau, petasan, bom, terowongan, dan roket, kita menyaksikan senjata orang-orang Palestina yang lebih kuat, pada diri seorang gadis 16 tahun yang cerdik."

Ahed Tamimi menunjukkan bahwa remaja Palestina tidak takut pada pasukan Zionis. Tidak ada batasan dalam perlawanan. Perlawanan tidak mengenal usia dan gender. Semua rakyat Palestina mengupayakan kebebasan tanah air mereka. Selama lebih dari 70 tahun sejak berdirinya rezim ilegal Israel, cita-cita pembebasan Palestina tertanam di jantung rakyat Palestina. Ini adalah aspirasi yang terwariskan dari generasi ke generasi di Palestina. Tamimi adalah simbol kepahlawanan nasional Palestina, dan bukan hanya bagi rakyat Palestina, melainkan bagi para pemuda Arab, yang telah menjadikannya sebagai teladan.

Anak-anak dan remaja Palestina sama seperti Ahed Tamimi berdiri melawan rezim Zionis dengan gagah berani dan bahkan melatih perlawanan itu dalam permainan mereka. Salah satu permainan itu adalah permainan Arab dan Yahudi. Anak-anak akan dibagi menjadi dua kelompok, salah satunya adalah milisi Zionis dan menggunakan senapan, sementara kelompok lainya adalah warga Palestina yang hanya bersenjatakan batu.

Sejumlah anak juga memainkan peran sebagai pejuang Palestina yang melawan dengan senjata. Dalam kelanjutan permainan tersebut, mereka juga berduka atas kehidupan kawan mereka yang gugur syahid ditembak oleh kelompok Zionis dengan meneriakkan slogan "Hidup dan darah kami, demi Anda, syahid."

Ahed Tamimi

Perlawanan Palestina terhadap berlanjutnya kejahatan rezim Zionis tidak mengenal usia. Seluruh lapisan masyarakat Palestina dari anak-anak, remaja hingga orang tua bahu-membahu bersatu melancarkan perlawanan terhadap Israel.

Aksi berani yang dilakukan seorang gadis remaja bernama Ahed Tamimi menunjukkan posisi penting gerakan perlawanan dalam masyarakat Palestina di tengah gencarnya tekanan dan serangan Israel yang disertai dukungan penuh AS terhadap rezim Zionis. Gelombang perlawanan baru Palestina terhadap Israel berlangsung di saat AS belum lama ini memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.

Ahed Tamimi dikenai hukuman penjara delapan bulan karena bentrok dan menampar dua tentara Israel.Gadis belia ini ditangkap dan dijebloskan ke penjara Israel dalam usia masih 17 tahun. Sesuai konvensi hak anak yang disahkan November 1989, seluruh orang yang berusia di bawah 18 tahun masuk dalam kategori anak-anak. Oleh karena itu penangkapan dan pemenjaraan Ahed Tamimi melanggar aturan internasional.

Ahed Tamimi dengan keberaniannya menjadi simbol gerakan perlawanan Palestina. Setelah dibebaskan  dari penjara, remaja putri Palestina ini menegaskan bahwa perlawanan akan terus berlanjut.

Kementerian Luar Negeri Lebanon dalam statemennya memuji keberanian remaja Palestina ini, dengan mengatakan, Ahed Tamimi sebagai remaja puteri Palestina membuktikan bahwa gerakan perlawanan dalam menghadapi agresi, kelaliman dan arogansi Israel tidak mengenal usia dan gender.

Cerita perlawanan anak-anak Palestina tidak hanya terbatas pada Ahed Tamimi saja. Sebab ribuan anak Palestina lainnya hingga kini telah gugur dan cidera akibat kejahatan rezim Zionis. Sebagian dari mereka juga kehilangan orang tua, maupun ditahan oleh Israel.

Gelombang protes terbaru yang dimulai sejak 30 Maret 2018 hingga kini telah menewaskan 20 anak Palestina. Selain itu, sebagian dari 3200 orang yang terluka dalam aksi tersebut adalah anak-anak. Pengacara Palestina, Hanan Asharawi  mengungkapkan sebanyak 291 orang anak Palestina hingga kini masih mendekam di penjara rezim Zionis dengan kondisi psikologis dan fisik yang rentan dan lemah karena penyiksaan dan interogasi.

Ahed Tamimi

Ahmed Manasrah contoh lain dari anak Palestina yang menjadi korban kekejaman tentara Israel. Meskipun masih berusia 13 tahun  ketika ditangkap tahun 2015, tapi ia tidak luput dari aksi kekerasan tentara Israel.

Rezim Zionis hingga kini melanjutkan aksi penyiksaan anak-anak Palestina dengan tujuan supaya orang tua mereka khawatir dan menghentikan gerakan perlawanan terhadap rezim Zionis. Tapi hal itu tidak menyurutkan perlawanan Palestina. Sebab anak-anak Palestina telah menjadi simbol perlawanan sebagaimana ditampilkan Ahed Tamimi. Bahkan rezim Zionis harus mengubah tempat penyambutan Ahed ke tempat lain karena besarnya sambutan dari masyarakat Palestina.