Manifestasi Al-Quran dalam Kebangkitan Imam Husein (7)
Jarak hingga Karbala telah semakin dekat. Rombongan Imam Husein as berhenti di salah satu tempat peristirahatan, terdapat air yang bersih dan segar, pohon-pohon yang rindang, sumur, tempat untuk mandi dan tempat beribadah. Kemah pun didirikan dan tilawah Al-Quran dari kemah Imam Husein as pun mulai terdengar.
Seorang sahabat menemui Imam Husein as dan menyampaikan kabar kesyahidan duta besar pemberani beliau, Qais ibn Musahhar Saidawi. Qais ditangkap ketika membawa pesan Imam Husein as untuk warga Kufah. Sebelum ditangkap Qais telah menghancurkan surat Imam Husein as yang dibawanya.
Diriwayatkan bahwa karena Imam Husein as sampai di daerah bernama Bathnu al-Ramah, beliau menulis surat untuk orang-orang Kufah [81] dan mengabarkan tentang perjalanannya menuju Kufah. Imam Husein as menyerahkan surat itu kepada Qais bin Musahhar Saidawi. Ketika Qais sampai di Qadisiyyah, sekelompok orang dari tentara bayaran Ibnu Ziyad menghentikan dan menginterogasinya. Qais terpaksa merobek surat Imam Husein as yang dibawanya sehingga pihak musuk tidak mengetahui isi surat itu.
Ubaidillah sangat murka dan berteriak dengan lantang, "Aku bersumpah demi Tuhan, Aku sama sekali tidak akan membiarkanmu, kecuali jika kau menyebutkan nama-nama yang ditulis oleh Husein as atau kau memilih untuk naik ke atas mimbar kemudian kau memaki dan mencela ayah dan saudara Husein as! Jika begitu, aku akan membebaskanmu dan jika tidak aku akan membunuhmu!" Qais pun mengabulkan permintaan Ubaidilah dan ia naik ke mimbar namun ia tidak memaki Imam Husein as dan berkata,
Ibnu Ziyad memerintahkan Qais untuk berdiri di mimbar dan melaknat Imam Husein beserta ayah dan saudaranya. Ibnu Ziyad mengancam jika tidak melakukannya, Qais akan dicincang. Qais bersedia untuk berbicara di mimbar untuk melakukan perintah Ibnu Ziyad.
Namun ketika Qais berdiri di mimbar secara cerdik dan berani, dia membela Ahlul Bait as dan memuji Imam Ali, Imam Hassan dan Imam Husein as. Pidato Qais membangkitkan afeksi yang mendengar ucapannya. Qais juga melaknat Ubaidillah ibnu Ziyad dan ayahnya beserta seluruh penguasa zalim Dinasti Umawiyah.
Dengan lantang Qais berseru, "Aku adalah utusan Husein bin Ali as, Aku datang untuk menyampaikan pesan imam kepada kalian, penuhilah panggilannya!" Ibnu Ziyad sangat murka kemudian memerintahkan supaya Qais dilemparkan dari atas atap istana Dar al-Imarah. Qais pun menemui syahadah.
Berita gugur syahidnya Qais membuat Imam Husein as menitikkan air mata dan beliau pun memaparkan keberanian, keteguhan dan keimanan sahabatnya tersebut. Imam Husein as membacakan ayat 23 surat Al-Ahzab dan berkata:
مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّـهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
Artinya: Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),
Dengan demikian gerakan Imam Husein as beserta keluarga dan para sahabatnya untuk melakukan islah masyarakat, berdasarkan ajaran Al-Quran dan demi mendapat keridhoan Allah Swt. Beliau menegaskan bahwa perjuangan itu sangat mulia dan agar para pejuang tetap beristiqomah di jalur tersebut.
Perjuangan di jalan Allah Swt adalah sebuah keutamaan dan semakin sulit perjuangannya, maka akan semakin tinggi nilainya. Mereka yang berdiri di hadapan musuh yang keji dan haus darah, mungkin saja dia akan kehilangan semangat, tekad dan keberanian sehingga kekhawatiran dan ketakutan akan mempengaruhi jiwanya.
Perlawanan di bidang ini serta penciptaan sebuah epik dan heroisme, menuntut terbentuknya makrifat dan cinta sejati pada jiwa manusia. Karena hanya ketika itu manusia dalam membela kebenaran akan dapat menyambut kesyahidan di jalan kebenaran sebagai sebuah keindahan.
Imam Husein as yang jiwa dan raganya telah terikat dengan Al-Quran, telah mengingatkan kepada para pengikutnya bahwa kesyahidan dalam budaya Al-Quran akan menjamin kelanjutan kehidupan dan menjaga kemuliaan bangsa-bangsa serta keimanan.
Oleh karena itu, gerakan masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, selalu menuntut korban dan pengorbanan orang-orang yang berjuang di jalan Allah Swt. Setiap syahid yang mengetahui nilai dan kapasitas hidup, akan mengerahkan seluruh kemampuannya agar kesyahidannya mencapai derajat yang lebih tinggi.
Imam Husein as selalu membacakan tilawah ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan mereka untuk mengaitkan kehidupannya dengan Rasulullah dan Ahlul Baitnya, serta mendapat posisi yang tinggi.
Dalam surat Taubah ayat 111, Allah Swt berfirman:
إِنَّ اللَّـهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّـهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Tujuan utama gerakan Imam Husein as adalah merekonstruksi kembali ajaran Islam yang disimpangkan dan mengembalikan kemuliaan ilahi. Dalam gerakannya, Imam Husein as selalu menekankan penyadaran dan pencerahan kepada sekelompok masyarakat. Ini adalah salah satu tugas pemimpin ummat yang selalu berupaya memberikan penyadaran dan pencerahan kepada ummatnya dan mengharuskan mereka supaya selalu waspada.
Dalam perjalanan menuju kota Kufah dari kota Makkah, Imam Husein as bertemu dengan penyair terkenal bernama Farazdaq. Imam Husein kepada Farazdaq menggambarkan kondisi yang ada, dan berkata, “Wahai Farazdaq, kelompok ini telah menyingkirkan ketaatan kepada Allah Swt dan mengikuti setan. Mereka melakukan kefasadan di bumi Allah, meninggalkan ajaran-ajaran ilahi, menenggak minuman keras, merampas hak milik kaum lemah dan miskin. Untuk itu, aku sudah sepantasnya bangkit membela agama dan kemulian, serta melakukan jihad di jalan Allah Swt.”
Para penegak agama dalam sepanjang sejarah, merasakan kesenjangan antara nilai-nilai Islam dan fenomena di tengah masyarakat. Kesenjangan saat itu bisa disaksikan pada pandangan keliru masyarakat terhadap agama dan politik. Di saat masyarakat mengalami kesenjangan dari agama, logika para penguasa saat itu mendominasi dan mengendalikan kondisi, baik di ranah teoritis maupun praktis.
Dalam gerakan Imam Husein as, kita bisa menyaksikan bahwa langkah pertama yang dilakukan oleh Imam Husein as adalah memberikan pencerahan dan meluruskan masyarakat ke arah kebenaran dari kebatilan. Dengan cara itu, Imam Husein as berupaya meluruskan pemikiran keliru yang berkembang di tengah masyarakat. Namun saat upaya itu tidak efektif, Imam Husein as pun mengambil langkah lain dan terpaksa melawan kezaliman di front, bahkan mengorbankan dirinya demi kesadaran umat.