Jenderal Zionis: Para Pemimpin Arab Tak Lagi Percaya pada Netanyahu
-
PM Israel Benjamin Netanyahu
Pars Today - Seorang jenderal tentara rezim Zionis, merujuk pada penghindaran para pemimpin Arab dari pertemuan dan foto bersama dengan Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa perang di Jalur Gaza, cara Netanyahu memperlakukan negara-negara Arab, dan dampak regional dari perang Israel melawan Iran menjadi faktor utama perilaku tersebut.
Dilansir IRNA dari Al-Ahed, 6 Mei 2026, Brigadir Jenderal Israel Ziv, mantan kepala Operasi Militer tentara Zionis, mengkaji meningkatnya boikot terhadap Netanyahu oleh pihak Arab serta pengaruhnya terhadap posisi regional rezim tersebut. Dalam artikel di Maariv, ia menulis, "Joseph Aoun, Presiden Lebanon, meskipun ada upaya AS untuk mengatur pertemuan dengan Netanyahu, menolak bepergian ke Washington untuk menemuinya."
Ia berargumen bahwa karena sebagian besar pemimpin Arab tidak mempercayai Netanyahu dan menganggapnya sebagai ancaman bagi stabilitas regional, mereka tidak bersedia berinteraksi dengannya, baik melalui pertemuan, foto bersama, atau bahkan jabat tangan.
Jenderal dan analis Zionis itu menambahkan bahwa perang yang sedang berlangsung di Gaza dan keengganan Netanyahu mencapai kesepakatan politik, bersama dengan perilakunya terhadap negara-negara Arab serta dampak perang terhadap Iran terhadap keamanan regional, adalah alasan penting di balik sikap para pemimpin Arab ini.
Ziv menekankan bahwa kepercayaan kepada Netanyahu di kalangan pemimpin regional telah menurun drastis, tercermin dari sejumlah isu: proses normalisasi dengan Arab Saudi yang mandek, tidak adanya kemajuan dalam perluasan Perjanjian Abraham, kegagalan mencapai kesepakatan dengan Suriah, serta ketidakpastian berkepanjangan mengenai situasi Lebanon.
Ia menyatakan bahwa rezim Zionis kehilangan kesempatan untuk mencapai terobosan politik pascaperang, baik di Gaza maupun di tingkat regional. Kelanjutan perang justru menguntungkan Hamas, yang terus membangun kembali kemampuannya alih-alih mengejar alternatif politik.
Analis Zionis itu mengakui bahwa posisi internasional Israel mengalami penurunan drastis akibat meningkatnya penentangan global, potensi sanksi Eropa, serta meningkatnya antisemitisme di seluruh dunia.
Ia berbicara tentang perang gesekan multi-front yang dihadapi Israel, di mana kemenangan taktis tergerus dan tidak ada hasil strategis yang jelas.
Jenderal Israel itu mengakui bahwa membuka beberapa front secara bersamaan telah menyebabkan penyebaran kemampuan militer yang berlebihan.
Dalam evaluasinya tentang situasi di lapangan, ia merujuk pada efektivitas terbatas dari "zona aman" di Lebanon, Suriah, dan Gaza, dan menyatakan bahwa Israel bergerak menuju kondisi gesekan yang berkepanjangan, tanpa kemenangan pasti di depan mata.
Mengenai Iran, ia menyebut bahwa dengan berlanjutnya program nuklir, pemeliharaan kemampuan militer, dan hubungan dengan para sekutunya, apa yang terjadi saat ini merupakan pencapaian taktis bagi Tehran.
Analis Zionis itu mengakhiri tulisannya dengan menyatakan bahwa Timur Tengah sedang menyaksikan perkembangan yang tidak menguntungkan bagi Israel. Koalisi regional baru sedang terbentuk, dan kemampuan kabinet Israel saat ini untuk mengatasi kemerosotan strategis ini masih diragukan.
Seorang mantan jenderal senior Israel membeberkan realitas yang pahit bagi Netanyahu: para pemimpin Arab sekarang tidak lagi mempercayainya. Perang di Gaza dan Iran, serta pendekatan Netanyahu yang arogan, telah membuat Israel semakin terisolasi di kawasan. Ziv bahkan menyebut kemunduran strategis ini tidak mungkin diperbaiki oleh kabinet yang ada. Ini bukan kritik dari Iran, ini dari orang dalam Israel sendiri.(Sail)