Dilema Trump: Perang atau Tunduk, Minyak Jadi Senjata Iran
-
Kapal tanker di Selat Hormuz
Pars Today - Seorang pakar pasar energi menyatakan bahwa pengumuman kegagalan "Project Freedom" oleh Amerika Serikat menunjukkan Trump kalah telak dalam "permainan ketahanan" melawan Iran. Kini, di antara pilihan perang atau kesepakatan yang sudah kalah, ia harus memilih opsi terburuk: bila Selat Hormuz tetap tertutup sebulan lagi, pukulan terbesar akan menghantam ekonomi dan pemilu mendatang Amerika.
Ehsan Hosseini, dalam wawancara dengan IRNA, 6 Mei 2026, menyoroti perkembangan terkini di Selat Hormuz dan pelaksanaan "Project Freedom" oleh Amerika yang runtuh dalam kurang dari 48 jam, tetapi justru memicu kenaikan harga minyak di pasar global. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak sejatinya berakar pada peristiwa sebelum operasi Trump, sehingga pertanyaan mendasarnya adalah: apa yang terjadi sebelumnya hingga Trump merasa perlu "membuka" Selat Hormuz?
Hosseini melanjutkan: sebelum "Project Freedom" dijalankan, Trump telah menyusun kalkulasi sederhana: "Kau tutup selat, aku lakukan blokade laut. Mari lihat siapa yang lebih dulu menyerah". Fakta bahwa Trump akhirnya menggelar operasi eskor laut untuk membuka selat justru menunjukkan Amerika telah menyimpulkan bahwa dalam permainan ketahanan melawan Iran, pihak yang lebih dulu kelelahan, dengan selisih signifikan, adalah Amerika sendiri. Alasannya? Data cadangan minyak komersial dan strategis Amerika yang terus terkuras menunjukkan bahwa "kartu terakhir" Trump sedang habis digunakan.
Hosseini menegaskan, selain 24 juta barel yang ditarik dari cadangan Amerika dua pekan lalu, pekan kemarin tercatat penarikan tambahan hampir 5,2 juta barel. Total mendekati 30 juta barel dalam waktu singkat adalah fenomena luar biasa; dua pekan sebelumnya, Amerika bahkan mencatat penarikan harian melebihi 1 juta barel, dengan puncak hingga 3,5 juta barel per hari. Artinya, Amerika kini berada dalam posisi harus memberikan konsesi berat dalam negosiasi dengan Iran, apalagi "Project Freedom" sendiri telah gagal.
Permainan Kalah-Kalah bagi Trump
Pakar energi ini menambahkan: kini Trump benar-benar terjepit di antara dua pilihan buruk. Bila memilih perang, bahkan jika hanya berlangsung dua bulan, cadangan komersial dan strategis Amerika akan terkuras lebih cepat. Bila memilih kesepakatan, itu sama saja mengakui kekalahan dan harus memberi konsesi.
Ia menekankan: ini adalah skenario kalah-kalah bagi Trump. Berperang berarti kalah, harga minyak melambung, dan beban politik makin berat. Berkompromi juga berarti kalah dan harus memberi konsesi.
Hosseini mengungkapkan, berbagai lembaga memperkirakan, melihat kondisi terkini yang membuktikan penguasaan penuh Iran atas Selat Hormuz, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka Desember (akhir tahun kalender ini) telah tercatat minimal 91 dolar AS. Padahal, Desember masih beberapa bulan lagi, dan kontrak berjangka saat ini sudah mencatat level dasar minimal 92 dolar.
Pakar ekonomi ini, merujuk pada proyeksi lembaga Amerika mengenai prospek pasar energi, menegaskan, berdasarkan riset satu lembaga Amerika, bila Selat Hormuz tetap tertutup hingga bulan depan, harga minyak pada Juni (Khordad-Tir) akan mencapai minimal 140 dolar per barel. Artinya, bila ketahanan terhadap Trump terus dipertahankan, harga minyak bisa berfluktuasi di level minimal 140 dolar hingga akhir bulan depan, pukulan besar bagi ekonomi Amerika, harga bensin, dan pemilu yang dihadapi Trump.
Langkah Strategis Iran: Menetapkan Ulang Batas Geografis Selat Hormuz dan Mengepung UEA
Hosseini menyoroti perkembangan penting yang diumumkan Iran dalam beberapa hari terakhir, penetapan ulang batas geografis Selat Hormuz dan klarifikasi wilayah yang berada di bawah pengawasan dan komando Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam.
Ia menjelaskan, sesuai batas baru ini, seolah-olah Iran telah melakukan blokade laut terhadap UAE. Pelabuhan Fujairah UAE, yang sebelumnya menjadi jalur ekspor minyak, kini masuk dalam cakupan Selat Hormuz. Artinya, bila UAE ingin mengekspor minyak dari pelabuhan tersebut, Iran berhak menghalanginya.
Sebelumnya, UAE mengekspor 1,5 juta barel per hari melalui pipa, yang cukup meringankan tekanan Amerika. Namun kini situasi telah berubah. Serangan Korps Pengawal Revolusi Islam kemarin terhadap UAE juga menunjukkan bahwa Iran serius dalam menerapkan blokade laut ini.
UAE Tetap Harus Melintasi Selat Hormuz untuk Ekspor
Menanggapi pertanyaan tentang asumsi UAE bahwa keluar dari OPEC dan meningkatkan produksi akan memberi keunggulan, Hosseini menjawab, tidak peduli berapa banyak minyak yang ingin diproduksi UAE, untuk mengekspornya mereka tetap harus melintasi Selat Hormuz, dan Iran mampu menghalangi ekspor tersebut.
Ia menambahkan, perselisihan UAE dengan Arab Saudi, entah terkait OPEC atau ambisi produksi, adalah urusan internal mereka. Namun dalam konteks Iran dan situasi perang kawasan, fakta bahwa UAE tidak memiliki jalur ekspor alternatif berarti produksi mereka tidak akan berdampak signifikan terhadap dinamika konflik saat ini.
Pakar pasar energi ini menekankan, meski OPEC+ baru-baru ini memutuskan menambah produksi hampir 200.000 barel bulan depan, langkah ini lebih bersifat politis daripada substantif dalam memengaruhi pasokan. Negara-negara yang ingin meningkatkan produksi tetap menghadapi kendala ekspor, sehingga kecil kemungkinan peningkatan tersebut benar-benar terealisasi.
Blokade Laut Amerika Tidak Akan Bertahan Lama
Menjawab pertanyaan tentang pesan global dari penutupan berkepanjangan Selat Hormuz, Hosseini menyatakan, pesan jelas dari penguasaan Iran atas selat ini adalah bahwa Amerika, seberapa pun upaya militernya, tidak mampu membuka selat tersebut. Bahkan program blokade laut Amerika sendiri tidak akan bertahan lama, dibatasi oleh kondisi cadangan minyak, harga minyak global, dan rekor harga bensin di Amerika.
Pakar energi ini mengingatkan, Iran memiliki sejumlah kartu strategis dalam permainan ini, dan baru saja memainkan satu kartu berupa blokade laut terhadap UAE. Kartu berikutnya adalah Selat Bab Al-Mandab, di mana Iran dapat menerapkan strategi serupa seperti di Hormuz.
Dengan menekankan bahwa Iran masih memegang kartu lain yang belum digunakan, Hosseini menyatakan, dalam kondisi ini, arah masa depan akan memaksa Amerika menerima kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Ia menambahkan, bila negara-negara lain ingin menjamin keamanan perdagangan mereka melalui Selat Hormuz, cepat atau lambat mereka harus bernegosiasi dengan Iran. India, negara-negara Eropa, Tiongkok, Rusia, dan lainnya harus duduk di meja perundingan, memberi konsesi, dan memperoleh izin transit dari Iran.(Sail)