Hari Tasua Imam Hussein
Hari ke-9 bulan Muharam yang dikenal dengan Hari Tasua Imam Hussein as, dikhususkan untuk Abul Fadhl Abbas, dan di hari ini acara duka digelar untuk mengenang pengorbanan dan kesyahidannya, dengan maksud menghormati kedudukan tinggi beliau.
Selama beberapa hari laskar Umar bin Saad telah menutup jalan bagi Imam Hussein dan keluarga sucinya. Air sudah tidak bisa ditemukan di kemah-kemah Imam Hussein karena sejak hari ke-7 Muharam, Umar bin Saad sudah menutup alirannya. Anak-anak kehausan dan kelaparan tiada tara.
Tekanan terus dilakukan untuk memaksa Imam Hussein berbaiat kepada Yazid. Putra durjana Muawiyah yang telah merebut hak Ahlul Bait as dan membawa penyimpangan dan kesulitan bagi masyarakat. Imam Hussein sampai kapanpun tidak akan pernah mau berbaiat kepada Yazid dan berkata, kematian lebih mulia bagiku daripada hidup terhina.
Di Hari Tasua Imam Hussein, yaitu hari ke-9 Muharam, hingga malamnya terjadi berbagai peristiwa penting. Tanpa diduga, Shimr bersama 4000 pasukannya bergabung dengan laskar Umar bin Saad dan menyerahkan surat Ibnu Ziyad kepadanya yang berisi ultimatum, ambil baiat dari Imam Hussein atau membunuhnya.
Di hari ini, laskar Umar bin Saad mendekati kemah Ahlul Bait, dan Imam Hussein mengutus saudaranya Abbas untuk mencari tahu apa keinginan mereka. Laskar Umar bin Saad ingin menyerang dan membunuh Imam Hussein dan seluruh sahabatnya. Sekali lagi Imam Hussein mengirim Abbas untuk meminta waktu semalam agar bisa beribadah kepada Allah Swt.
Saat itu utusan Umar bin Saad berdiri di satu tempat yang seluruh pasukan Imam Hussein bisa mendengar suaranya dengan jelas dan ia berteriak, kami berikan kalian waktu hingga besok, jika menyerah akan kami bawa kalian ke pemimpin kami Ubaidillah bin Ziyad, tapi jika kalian menolak menyerah dan tidak mau berbaiat, maka kami tidak akan membiarkan kalian dan akan memerangi kalian.
Salah satu peristiwa penting lain di hari Tasua adalah pesan terakhir yang merupakan itmamul hujjah (dalil pamungkas) Imam Hussein bagi sahabat-sahabatnya. Kepada pasukannya Imam Hussein berkata, pasukan Yazid hanya menginginkan aku, maka gunakanlah kegelapan malam untuk menjauh dari tempat ini. Setelah pidato Imam Hussein selesai yang muncul justru manifestasi keindahan pengorbanan, cinta dan keikhlasan dari para sahabat Imam Hussein.
Satu persatu berlomba untuk menyampaikan kesetiaan kepada Imam Hussein dan menegaskan baiat serta pengorbanan mereka kepada beliau. Salah seorang sahabat Imam Hussein berkata, bagaimana mungkin kami meninggalkan cucu Rasulullah Saw seorang diri ? Sahabat yang lain berkata, seandainya 70 kali aku terbunuh di jalanmu, itu terlalu sedikit. Alhasil semua menyatakan janji kesetiaan dan baiat kepada Imam Hussein.
Imam Hussein memuji sahabat-sahabatnya di malam Asyura dan berkata, saya tidak pernah menemukan sahabat yang lebih setia dan baik dari sahabat-sahabatku, dan tidak ada keluarga yang lebih baik dari keluargaku, semoga Allah Swt memberikan balasan yang lebih baik kepada kalian semua.
Sahabat-sahabat Imam Hussein tidak takut mati dan mereka menganggap syahid di jalan keadilan dan kebenaran lebih mulia daripada hidup terhina. Mereka semua adalah pecinta Imam Hussein, dan kecintaan ini bersumber dari iman mereka. Sahabat-sahabat Imam Hussein tahu bahwa kepemimpinan umat Islam adalah hak Imam Hussein dan Ahlul Bait, dan laki-laki bejat semacam Yazid tidak boleh dibiarkan menduduki posisi pemimpin dan pemberi hidayah masyarakat.
Satu lagi peristiwa besar yang terjadi di hari Tasua adalah surat jaminan keamanan yang diberikan Shimr bin Dzil Jausyan pada Abbas bin Ali, sang pembawa panji pasukan Imam Hussein. Shimr dengan alasan hubungan kekerabatan dirinya dengan ibu Abbas, memberikan jaminan keamanan. Kepada Abbas, Shimr berkata, engkau dan tiga saudaramu bergabunglah dengan pasukan Yazid dan akan mendapat jaminan keamanan.
Abbas bin Ali dan saudara-saudaranya memberikan jawaban tegas kepada Shimr. Abbas yang merupakan tokoh besar dalam peristiwa Karbala dan teladan keberanian, kepada Shimr berkata, semoga Allah Swt melaknat engkau dan jaminan keamananmu, bagaimana mungkin kami aman sementara cucu Nabi Muhammad Saw dalam bahaya ?".
Abul Fadhl Abbas adalah putra Imam Ali as dari seorang perempuan mulia dan bertakwa bernama Fatimah binti Hizam atau lebih dikenal Ummul Banin. Ketampanan dan ketangguhan Abbas sudah tampak sejak muda sehingga ia dijuluki "Purnama Bani Hasyim", sementara ketangguhannya begitu besar sehingga ketika menaiki kuda paling kuat, kaki beliau hampir menyentuh tanah.
Saat bertempur, Abbas layaknya singa marah menerjang barisan pasukan musuh. Dalam perang Shiffin, walau masih berusia tidak lebih dari 12 tahun, Abbas mengobrak-abrik pasukan musuh, sampai-sampai saat melihatnya, tubuh mereka bergetar. Dalam hal ketakwaan dan adab, tiada yang bisa menandingi Abbas, dan dalam kesadaran serta pengorbanan, ia adalah teladan.
Abbas bin Ali di peristiwa Karbala dipercaya sebagai pembawa panji pasukan Imam Hussein dan pelindung kemah-kemah Ahlul Bait. Selain itu Abbas juga membantu menyediakan air, menjaga kemah, melindungi Imam Hussein dan hal-hal terkait ketenangan serta kenyamanan para perempuan dan anak-anak. Selama masih ada Abbas, perempuan dan anak-anak merasa aman, karena musuh langsung ketakutan saat melihatnya, sehingga mereka tidak punya keberanian untuk mendekati kemah-kemah Ahlul Bait.
Pemimpin besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, dalam doa ziarah dan kalimat yang disampaikan Imam Maksum tentang Abul Fadhl Abbas, ditekankan dua hal, pertama kesadaran, kedua, kesetiaan. Dimana letak kesadaran Abul Fadhl Abbas ? semua sahabat Imam Hussein memiliki kesadaran, namun Abbas lebih dari semua.
Di hari Tasua seperti petang hari ini, kata Ayatullah Khamenei, saat kesempatan untuk menyelamatkan diri terbuka yaitu saat Abbas mendapat jaminan keamanan, namun ia menolak tegas sehingga musuh putus asa. Abbas berkata, aku tidak akan pernah berpisah dengan Hussein, celakalah kalian dengan jaminan keamanan itu.
Contoh lain kesadaran Abbas adalah, ia memerintahkan tiga saudaranya untuk terlebih dahulu terjun ke medang tempur dan berperang sampai syahid. Anda tahu bahwa mereka berempat berasal dari satu ibu yang sama, Abul Fadhl Abbas, saudara terbesar, kemudian Jafar, Abdullah dan Usman.
Menceritakan keberanian dan penderitaan yang menimpa Abul Fadhl Abbas di hari Tasua membuat sebagian orang mengira bahwa beliau syahid di hari ini, padahal Abbas dan seluruh sahabat Imam Hussein syahid di hari Asyura untuk membela agama Allah Swt.
Kesetiaan luar biasa Abbas merupakan karateristik menonjolnya. Ayatullah Khamenei terkait hal ini menuturkan, kesetiaan Abul Fadhl Abbas tampak lebih besar saat beliau berhasil mencapai sungai Furat dan tidak meminum airnya. Diriwayatkan bahwa saat itu, rasa haus begitu mencekik anak-anak kecil sehingga mendorong Imam Hussein dan Abul Fadhl Abbas sendiri yang mencari air.
Kedua saudara pemberani dan kuat itu saling menopang dalam perang. Imam Hussein saat itu hampir berusia 60 tahun namun dari sisi kekuatan dan keberanian tidak ada duanya. Di sisi lain ada Abul Fadhl Abbas, saudara muda dengan seluruh keunggulannya.
Ayatullah Khamenei menambahkan, dua bersaudara itu saling mendukung menembus lautan pasukan musuh agar bisa mencapai sungai Furat, bahkan sampai bisa membawa air. Tiba-tiba Imam Hussein merasa musuh mampu memisahkan dirinya dengan Abul Fadhl Abbas, kala itu Abbas berhasil mendekati sumber air dan sampai ke bibir sungai. Ia memenuhi kantong air untuk dibawa ke kemah. Setiap orang pasti menganggap suatu yang lumrah pada kondisi itu untuk meminum air, namun Abbas di saat sulit ini kembali menunjukkan kesetiannya.
Saat menyentuh air, Abbas teringat kehausan Imam Hussein, teriakan putri-putri dan anak-anak beliau serta Ali Asghar, tak sampai hati ia meneguk air itu. Setelah memenuhi kantung air, Abbas bergegas pergi, namun ia diserang secara pengecut dan akhirnya meraih kesyahidan.
Dalam doa ziarah Abul Fadhl Abbas kita membaca, Allah Swt memasukkanmu dalam barisan para syuhada dan menempatkan ruhmu di samping arwah orang-orang baik, dan untukmu dibangun rumah paling luas di surga dengan ruangan-ruangan yang paling baik, dan namamu dibawa ke derajat paling tinggi, dan dikenal bersama para nabi serta syuhada.