Menyambut Hari Raya Idul Fitri (2)
Takbir menggema di pagi hari awal bulan Syawal. Wajah-wajah ceria tampak menghiasai suasana pagi yang bahagia. Setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan di bulan suci Ramadan, kini umat Muslim bersiap-siap merayakan keberhasilannya mengekang hawa nafsu dan meniti jalan ibadah di bulan penuh berkah Ramadan. Hari ini mereka bersiap menerima upah dari kerja keras selama satu bulan penuh. Mereka bukan saja membersihkan jiwa-jiwa kotor melalui puasa dan ibadah, bahkan di hari penuh berhak Idul Fitr
Idul Fitri bisa diartikan sebagai puncak atau klimaks dari pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Idul Fitri sendiri memiliki keterkaitan makna dengan tujuan akhir yang ingin diraih dari pelaksanaan kewajiban berpuasa. Idul Fitri secara bahasa atau etimologi bisa berarti Hari Raya Kesucian atau bisa juga diartikan sebagai Hari Kemenangan umat Islam. Kemenangan disini adalah bentuk dari kemenangan dalam menggapai kesucian atau perwujudan dari kembali kepada keadaan fitrah (Fitri).
Dari penjabaran tersebut berarti kata Idul Fitri atau kembali kepada fitrah merupakan pengertian yang sangat relevan atau berhubungan dengan makna sebenarnya dari keberhasilan yang diperoleh setelah berakhirnya pelaksanaan ibadah puasa. Beberapa sumber juga menganalogikan Idul Fitri atau Lebaran sebagai jalan menuju kepada keadaan fitrah manusia layaknya seperti seorang bayi yang baru dilahirkan, bersih dan tanpa dosa. Hal tersebut merujuk pada perjanjian awal atau "Perjanjian Primordial" yang berisi pengakuan manusia terhadap Ke-Esa-an Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut di sembah sebagaimana terangkum dalam Surah al-A’raf (7) ayat 172 : (Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”).
Idul fitri hari raya rakyat yang berhasil melewati tahap awal penghambaan dan optimis mencapai jalan kebahagiaan dan penghambaan serta mendekatkan diri kepada Tuhan melalui bekal yang mereka kumpulkan selama bulan suci Ramadan. Idul Fitri, hari raya umat Muslim yang selama bulan Ramadan berusaha keras membersihkan dirinya dari kotoran zahir dan batin serta bergerak ke arah cahaya kebenaran.
Di hari Idul Fitri, seakan-akan manusia terlahir kembali. Mata-mata mereka yang berpuasa, setelah satu bulan penuh latihan tidak akan lagi melirik ke sana kemari yang tidak perlu. Tapi penglihatan mereka akan dimanfaatkan untuk menyaksikan dan mengenali kebenaran. Pendengarannya telah terbebas dari kekangan dan tidak mendengar sembarangan, namun digunakan untuk mendengarkan kebenaran. Lidah-lidah mereka tidak akan mengumbar kata-kata yang tak perlu, namun hanya melantunkan kata-kata kebenaran. Sejatinya setelah melewati satu bulan ibadah dan penghambaan, mereka kembali menyadari potensi sejatinya dan bergerak ke tujuan final.
Pagi hari di hari Raya Idul Fitri, kumandang tasbih dan pujian kepada Allah menggelegar dan wajah-wajah ceria memenuhi setiap kota. Kecil dan besar berdiri berbaris dengan rapi. Mereka mengangkat tangannya ke langit sambil melantungkan doa “Allahumma Ahlul Kibriyai wal Adzama, Wa Ahlul Judi wal Karama”. Saat itu, kalian akan merasakan kaki-kaki terpisah dari bumi dan melayang di suasana yang lain, suasana penuh ikhlas, penyerahan diri dan takwa. Perasaan ini adalah pahala satu bulan penuh puasa di bulan Ramadhan yang menjadi bagian orang mukmin sejati. Saat itu, jiwa manusia dipenuhi harapan bahwa sisa waktunya selama satu tahun tidak akan dipolusi oleh dosa.
Ketika kehidupan kita berubah menjadi sebuah kebiasaan, wajar bahwa kita tidak akan melampaui manifestasi kehidupan yang wajar dan kita akan berhenti pada titik serta waktu tertentu. Namun bulan Ramadhan dan Idul Fitri, dengan karakteristiknya yang istimewa, menyapu bersih perilaku dangkal dan kebiasaan sehari-hari serta mengeluarkannya dari batasan waktu.
Sejatinya tujuan dari ibadah selama satu bulan di bulan suci Ramadhan akan muncul setelah hari raya. Islam menghendaki kita membentuk manusia yang berperilaku di luar sisi fisik dan materi. Manusia yang memandang ibadah kepada Tuhan sebagai sarana untuk membantu dan mengabdi kepada sesamanya serta mereka yang membutuhkan. Dengan kata lain, arah dan perilaku manusia setelah hari Raya Idul Fitri adalah upaya serta perbuatan yang sesuai dengan perintah Tuhan serta ditujukan untuk membangun masyarakat lebih baik serta membantu kebutuhan mereka yang membutuhkan.
Dimensi eksistensi manusia seperti ini berbeda dengan manusia yang lalu. Ia hidup dengan pandangan yang lebih luas. Dengan ketaatan dan penghambaannya, ia memiliki sifat yang lebih lembut. Puasa telah memberi pelajaran kepadanya akan arti dari penderitaan. Ia akan bergerak dengan pandangan yang lebih terarah yang diperolehnya dari latihan Ilahi selama puasa. Oleh karena itu, komitmen dan stabilitasnya semakin meningkat dan kesabaran serta keseimbangannya maju dengan pesat.
Manusia seperti ini, melalui perubahan mendalam yang ia rasakan dalam dirinya, memiliki semagat untuk terbang ke arah puncak kesempurnaan. Di pagi hari Idul Fitri, ketika manusia mengeluarkan zakatnya dan mengingat Allah Swt serta menunaikan shalat ied, sejatinya ia telah berjanji untuk mengesampingkan masalah pribadi dan membebaskan jiwanya dari kungkungan egonya. Allah Swt di kisah Bal’am Baura (ulama yang condong kepada taghut) mengingatkan poin ini bahwa Kami menginginkan ia terbang ke langit, namun ternyata ia memilih bumi dan selamanya ia tenggelam dalam kemaksiatan. Di ayat 176 surat al-A’raf Allah berfirman yang artinya, “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah...”
Sejak awal Allah Swt memberikan kepada semua manusia nikmat untuk berkembang dan meniti kesempurnaan, namun manusia sendiri yang mengabaikan nikmat ini dengan perilaku dan amal perbuatannya. Dalam pandangan Imam Sadiq as, dosa seperti beban berat sehingga terbang (berkembang) akan sangat sulit dilakukan. Beliau bersabda, “Allah tidak akan memberikan nikmat kepada hamba-Nya, kemudian Ia cabut kembali, kecuali hamba tersebut melakukan dosa yang mengakibatkan nikmatnya dicabut.”
Oleh karena itu, Imam Ali as menyebut hari ketika seorang hamba tidak bermaksiat sebagai hari raya. Idul Fitri dari sisi ini juga memiliki urgensitas dan termasuk dalam hari-hari besar Ilahi (Syi’ar Ilahi). Allah berfirman di surat al-Hajj ayat 32 yang artinya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” Mengagungkan syi’ar Ilahi merupakan karakteristik hari raya Idul Fitri. Syiar takbir dan pujian serta penyucian Allah termasuk amal yang memberi warna khusus bagi hari besar ini.
Tugas utama seorang muslim adalah dengan berbagai cara menyampaikan seruan tauhid kepada dunia. Salah satu caranya melalui syi’ar-syi’ar agama. Rasulullah Saw bersabda, “Hiasilah hari raya kalian dengan takbir.” Di hadis lain disebutkan, “Hiasilah hari Idul Fitri dan Idul Adha dengan syiar La Ila Ha Illa Allah, takbir Allahu Akbar dan Subhana Allah.”
Rasulullah Saw sendiri melakukan hal ini. Ketika beliau keluar dari rumah di hari Idul Fitri hingga ke masjid, beliau melantunkan kalimat La Ila Ha Ila Allah dan Allahu Akbar dengan suara yang keras. Bahkan di antara khutbah dan sebelum serta sesudahnya, beliau kembali mengulang syiar tersebut. Imam Ridha as saat menjelaskan sebab takbir yang banyak di hari Idul Fitri mengatakan, “Takbir, takzim dan mengagungkan Allah Swt adalah bentuk rasa syukur atas hidayah dan nikmat Tuhan kepada manusia.”