Ketika Sutradara AS Menolak Trump
Donald Trump, pengusaha berusia 70 tahun, dengan literatur agresifnya berambisi naik menjadi orang nomor satu di AS.Tampaknya, ia sedang mengusung bendera melanjutkan jejak George W. Bush, yang mengumbar politik haus perang.
Pria kelahiran 14 Juni 1946 di Queens, New York ini adalah putra dari Fred Trump, ahli pembangunan dan pemasaran Real Estate di New York. Ia pernah bersekolah di The Kew-Forest School di Forest Hills, Queens, tetapi setelah kekacauan yang terjadi di sana pada waktu ia berusia 13 tahun, orang tua Donald mengirimnya ke Akademi Militer New York. Trump menjadi produser eksekutif dan pembawa acara di NBC acara realitas, The Apprentice.
Organisasi Miss Universe dimiliki oleh Trump dan NBC. Organisasi ini memproduksi Miss Universe, Miss USA dan Miss Teen USA. Tahun 2005, Trump meluncurkan sebuah perusahaan pendidikan bisnis yang bernama Trump University. Ia juga meluncurkan perusahaan-perusahaan yang ia beri nama Trump Buffet, Trump Catering dan Trump ice Cream Parlor. Pada Januari 2006, Trump meluncurkan sebuah situs perjalanan daring, GoTrump.com. Situs ini berisikan beberapa properti milik Trump seperti hotel dan biro-biro perjalanan.
Dilaporkan, setengah dari pendapatannya, atau sekitar US$ 200 juta, dihasilkan dari aset yang ia miliki, seperti lapangan golf dan kasino. Aset lain mencakup beberapa properti milik Trump seperti Trump Tower di Chicago, the Trump National Golf Club di New Jersey, dan the Mar-A-Lago Club in Palm Beach, Florida. Trump juga memegang sejumlah posisi level eksekutif di 515 perusahaan, dari New York, Dubai, hingga Brasil.
Gaya hidup Trump yang mewah, gaya bicara yang kontroversial, dan peran pada acara realitas NBC The Apprentice telah membuatnya menjadi selebriti terkenal nomor 17 pada daftar Forbes Celebrity 100 di tahun 2011. Dengan modal itu, Trump maju menjadi bakal calon presiden AS.
musik
Trump naik menjadi calon presiden AS dengan mengumbar kontroversinya yang tajam dan menusuk terutama terhadap Muslim dan imigran. Trump menegaskan akan menggunakan profiling agama untuk menggagalkan serang teroris di masa depan. Dalam wawancara via telpon pada progam televisi CBS "Face the Nation", Trump menyatakan, selain akan melarang Muslim masuk Amerika, ia terbuka untuk menggunakan profiling agama untuk mengidentifikasi potensi teroris. Profiling adalah teknik mengidentifikasi pelaku kriminal berdasarkan kultur, perilaku, ras, dan agama.
Trump juga mengusulkan untuk memeriksa setiap masjid seperti yang dilakukan di New York dan menerapkannya di seluruh negara bagian. Pemerintahan Wali Kota New York Bill de Blasio sudah dikritik atas kebijakannya untuk mengawasi Muslim karena tidak sesuai dengan konstitusi Amerika. Ini bukan pertama kali Trump mengungkapkan profiling sebagai solusi membasmi teroris. Ia juga pernah mengungkapkannya pada Desember lalu pasca penembakan teroris di San Bernardino, California.
Terkait pencalonan Trump sebagai bakal calon presiden AS, majalah Economist menulis, “AS adalah neraka, dan kami sedang bergerak cepat menuju kehancuran. Kami tidak bisa melakukan tindakan yang benar. Kami saat ini menjadi bahan tertawaan seluruh masyarakat dunia. Mimpi AS telah pupus, dan masa depan pesimistis. Meski demikian, tidak bisa diragukan lagi jalan keluar berada di tangan kita !”
Berbagai kalangan di AS sendiri, dari politikus hingga seniman mengkritik keras sepak terjang Trump. New York Times menyebut Trump sebagai “Lelaki berambut palsu”. Trump mereaksi Koran AS itu dengan meminta salah seorang pendukungnya ketika berpidato untuk melihat dari dekat rambutnya yang asli. Bahkan, aktor, produser sekaligus aktivis AS, George Clooney berkata, ”Omongan orang ini (Trump) tidak berpendidikan dan tanpa dipikir !”
Salah satu kritik paling deras dilancarkan Michael Francis Moore. Sutradara terkemuka sekaligus seniman AS ini mereaksi pernyataan miring Trump mengenai Muslim. Moore menilai seluruh sepak terjang Trump tidak ada nilai positifnya sama sekali.
Sutradara kenamaan Amerika Serikat mencanangkan kampanye mendukung umat Islam sebagai bentuk perlawanan terhadap Donald Trump yang anti pendatang Muslim. Michael Moore melalui akun Facebooknya mengajak untuk melakukan kampanye "We Are All Muslim" atau "kami semua Muslim" menyusul pernyataan Trump yang menyarankan melarang umat Muslim masuk ke AS.
Kampanye ini dimulai oleh Moore sendiri yang membawa sebuah poster bertuliskan "We Are All Muslim" di depan gerbang gedung Trump Tower di New York. Dia diusir oleh petugas keamanan setelah berfoto dan berdiri beberapa saat di tempat itu. Aksi serupa juga diikuti oleh pengguna Twitter, Facebook atau Instagram.
Di situs pribadinya, Moore juga membuka petisi dukungan terhadap Muslim. Dalam surat pribadi yang ditujukan untuk Trump di akun Facebooknya, Moore mengatakan semua manusia bersaudara, tidak peduli agama atau ras mereka, dan pernyataan Trump menunjukkan bahwa dia tidak bisa menjadi presiden AS.
Surat yang ditujukan untuk calon kandidat Presiden AS 2016 dari partai Republik itu adalah respons dari pernyataan Trump yang melarang Muslim masuk Amerika. Moore mengatakan, ia yakin semua manusia bersaudara tanpa mempersoalkan ras, warna kulit, kepercayaan masing-masing. Ia menambahkan, jika Trump melarang Muslim, maka ia sama saja melarang dirinya dan orang lain. "Kita adalah bagian dari keluarga manusia," kata Moore.
Moore berpendapat, tingkah Trump telah membuka mata semua orang bahwa ia tidak layak jadi presiden AS. Ia menilai Trump melanggar nilai-nilai yang dianut AS. "Anda dan para pendukung Anda tidak lagi terlihat seperti Amerika hari ini, kami bukan negara dengan orang-orang kulit putih yang marah," katanya. Moore menyarankan Trump untuk introspeksi dan memikirkan kembali apa yang sudah diperbuatnya. Menurut dia, 81 persen pemilih AS adalah perempuan, orang-orang beragam ras, dan anak muda berusia 18-35 tahun.
Michael Moore adalah sutradara dan produser film “Fahrenheit 9/11 yang beredar tahun 2004. Film ini mengkritisi kebijakan presiden George W. Bush mengenai kebijakan haus perangnya. Film ini menyelidiki peristiwa Amerika Serikat pasca 11 September 2001, khususnya catatan dugaan hubungan pemerintahan Bush, terutama keluarga George W. Bush dan Osama bin Laden. Film Fahrenheit dianugerahi Palme d'Or, penghargaan tertinggi Festival Film Cannes 2004.
Sebelumnya, Moore juga meluncurkan film dokumenternya berjudul Bowling for Columbine (2002) yang termasuk deretan film paling sukses di boxoffice Amerika. Film yang beredar tahun 2002 ini menjelaskan budaya senjata dan kekerasan di Amerika Serikat, mengambil sebagai titik awal pembantaian Columbine High School di tahun 1999. Bowling for Columbine memenangkan penghargaan di festival film internasional Cannes tahun 2002, dan César Award Perancis sebagai Film Asing terbaik. Di Amerika Serikat, memenangkan Academy Award 2001 untuk kategori film dokumenter.
Karya sinema Moore mengkritik topik-topik seperti globalisasi, korporasi raksasa, agresi militer AS Presiden Bill Clinton dan George W. Bush, Perang Irak, sistem kesehatan Amerika, dan kapitalisme. Pada tahun 2005, majalah Time bernama Moore salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia.
Pada tahun 2015, Moore memproduksi film berdurasi 110 menit berjudul “Where to Invade Next”. Di film ini, ia mengunjungi berbagai Negara seperti Italia, Perancis, Finlandia, Slovenia, Jerman, Portugal, Norwegia, Tunisia, dan Islandia untuk menggali sistem layanan sosial dan ekonomi di sana dan membandingkannya dengan AS.Film ini ditayangkan perdana di Toronto International Film Festival, American premiere, dan festival film New York di tahun 2015.
Kampanye “We Are All Muslim” yang dilancarkan Michael Moore sebagai perlawanan sosial terhadap Trump hanya bagian kecil dari upaya orang-orang AS sendiri untuk menolak naiknya Trump sebagai calon presiden mereka.
Menyikapi sepak terjang Trump, Lynn Varveck, profesor politik Universitas UCLA dalam statemennya menyikapi sepak terjang Trump berkata, “Trump, bukan seorang politikus, tapi seorang pengusaha yang tahu apa yang diinginkan konsumennya. Dengan bahasa yang bombastis, ia berusaha menarik media sebagai bagian dari tim kampanye pemilunya,”(PH)