Hari Anak Sedunia
https://parstoday.ir/id/radio/world-i22600-hari_anak_sedunia
Masa kanak-kanak adalah masa terpenting dalam kehidupan manusia. Di periode ini, empati dan rasa sosial anak yang menjadi persiapan pembentukan kepribadiannya di masa mendatang mulai terbentuk.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 08, 2016 11:09 Asia/Jakarta

Masa kanak-kanak adalah masa terpenting dalam kehidupan manusia. Di periode ini, empati dan rasa sosial anak yang menjadi persiapan pembentukan kepribadiannya di masa mendatang mulai terbentuk.

Oleh karena itu, investasi terhadap anak-anak dan perhatian besar kepada mereka sangat penting bagi mereka serta menjadi jaminan bagi kesejahteraan generasi mendatang di masyarakat. Sebaliknya jika tidak demikian, generasi mendatang di setiap masyarakat atau negara akan menderita kekhawatiran, keraguan dan ketakutan, di mana mereka tidak mampu untuk melakukan sebuah pekerjaan besar.

 

Hasil riset neurologi menunjukkan bahwa tahun-tahun pertama kehidupan sangat penting bagi pertumbuhan otak anak-anak. Sejak dilahirkan bayi dan anak-anak mulai mengenal lingkungannya. Hampir seluruh psikolog menilai masa kanak-kanak sangat penting bagi pertumbuhan pengenalan anak.

 

Jean Piaget, psikolog terkenal menyebut anak-anak sebagai ilmuwan yang ingin tahunya besar. Melalui interaksi setiap hari dengan dunia luar di setiap fase kehidupannya, anak-anak meraih pengetahuan baru dan lebih mendalam. Interaksi ini menurut Jean Piaget sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan anak.

 

Menurut terori Jean Piaget, jika manusia di masa kanak-kanak tidak mendapat peluang bagi perkembangan pengetahuan dan emosinya, hingga akhir hayatnya ia tidak mungkin dapat menebusnya. Perkembangan emosi dan perasaan manusia terjadi di era sangat sensitif masa kanak-kanak. Pengalaman pertama emosi anak yakni interaksi mereka dengan kedua orang tua atau pengasuhnya semakin memperdalam perasaan mereka. Jika manusia di masa ini tidak mendapat perasaan tersebut dari pengasuh mereka, maka selama hidupnya ia akan mengalami kehampaan emosi di mana hubungan sosia antara dia dengan yang lain akan terganggu.

 

Agama Islam juga sangat menekankan perhatian kepada anak-anak dan agama ini memiliki pandangan khusus terhadap mereka. Islam muncul di wilayah dan di era ketia terjadi kejahatan paling besar terhadap hak anak, yakni pembunuhan dan penguburan hidup-hidup bayi perempuan yang dianggap sesuatu yang biasa saat itu. Rasulullah sejak awal dakwahnya telah melarang warga Arab melakukan hal terkutuk tersebut dan menyeru mereka menghormati anak serta menjaga hak-hak mereka. Rasul bersabda, “Hormatilah anak-anakmu dan perlakukan mereka dengan baik.”

 

Rasul selama dakwahnya dan melalui sunnahnya senantiasa menyebarkan ajaran menghormati anak-anak dan memperlakukan mereka dengan baik. Diriwayatkan suatu hari ketika Rasul tengah shalat jamaah dan ketika sujud, beliau memperpanjang sujudnya hingga membuat sahabat heran. Ketika shalat selesai, sahabat bertanya kepada beliau, Wahai Rasulullah! Anda memperpanjang sujud sampai-sampai kami mengira Anda tengah menerima wahyu. Nabi menjawab, tidak! Tidak ada wahyu yang turun, namun anakku Hassan naik ke pundakku dan aku menginginkan ia turun. Oleh karena itu, aku bersabar dan memperpanjang sujudku.

 

Islam sangat menekankan untuk menjaga hak-hak anak, di mana ketika orang tua lalai dalam menjalankan kewajibannya sebagai ayah dan ibu maka mereka dianggap tidak tahu berterima kasih atas karunia diberikan anak. Dari riwayat para imam maksum kita juga mendapatkan penekanan mereka untuk memperhatikan anak dan kebutuhannya.

 

Imam Ali as bersabda, “Jangan paksa anak-anak mengikuti kebiasaan dan tradisimu, karena mereka diciptakan bukan untuk masamu.” Imam Kadzim as bersabda, “Perbuatan baik pertama yang dilakukan seseorang terhadap anaknya adalah memberikan nama yang baik. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalian memberikan nama yang tepat dan baik baik anak-anakmu.” Imam Sadiq as bersabda, “Anak-anak hingga usia tujuh tahun adalah masa bermain, tujuh tahun belajar membaca dan menulis, dan tujuh tahun belajar ketentuan hidup seperti hukum halal serta haram.”

 

Di tujuh tahun kedua anak harus memiliki kesiapan untuk belajar ajaran Islam. Oleh karena itu, Islam memiliki perhatian istimewa terhadap anak dan masa kanak-kanak. Islam menilai masa kanak-kanak sebagai persiapan bagi perkembangan manusia. Islam sejak bayi masih di rahim dan belum dilahirkan, mengakuinya sebagai manusia yang memiliki hak dan layak untuk mendapat perhatian. Islam mewajibkan kedua orang tua untuk menghormati anak-anaknya dan menjaga hak-hak mereka.

 

Dewasa ini banyak organisasi di dunia yang dibentuk untuk melindungi anak, namun disayangkan mereka tidak memiliki kinerja yang baik dan setiap hari kita masih terus menyaksikan kekerasan lebih besar terhadap kelompok ini. Saat ini sejumlah negara yang mengklaim sebagai pelindung hak anak-anak, baik ini secara langsung atau tidak, melanggar hak-hak generasi mendatang dunia ini.

 

Saat ini, sejumlah anak hidup mengenaskan di daerah konflik dan mereka melewati kehidupannya dengan penuh kekhawatiran, ketakutan serta dengan fasilitas hidup paling minim. Jika mereka berhasil meninggalkan negaranya, maka nasibnya pun buruk, merasa terasing atau menjadi pengungsi. Kita sering menyaksikan anak-anak yang mendekam di penjara dan mengalami siksaan serta pelecehan. Kita juga kerap menyaksikan anak-anak yang tidak memiliki pilihan lain kecuali mengarungi ganasnya laut untuk menyelamatkan hidup, namun ternyata nasib menentukan lain dan mereka harus menyerahkan hidupnya di tengah gulungan ombak.

 

Berita kematian Ailan, bocah tiga tahun, pengungsi Suriah di tahun 2015 karena kapal yang ia tumpangi terbalik di perairan Turki meski menjadi inspirasi pembuatan film dan karya seni lainnya atau membuat ribuan orang mengucurkan air mata, namun Ailan dan ribuan anak-anak yang terzalimi lainnya yang namanya tidak pernah tercatat kini telah tiada akibat kegagalan hukum internasional serta berbagai organisasi dunia dalam melindungi anak-anak.

 

Memperhatikan jumlah anak yang tewas dan menjadi korban perang atau kekerasan di dunia, kita dapat menyelami betapa dalamnya tragedi yang dikobarkan manusia modern dan para pengklaim pembela Hak Asasi Manusia (HAM).

 

Gizi buruk 320 ribu anak-anak Yaman akibat kelangkaan makanan dan pelayanan medis serta dua juta anak lainnya yang tidak mendapat pendidikan dan penangkapan 1500 anak Bahrain selama empat tahun lalu serta tewasnya 15 anak-anak selama periode tersebut, merupakan contoh dari kejahatan manusia modern. Gugurnya 21 anak Palestina sejak awal Oktober hingga Desember 2015, cerita sedih lainnya atas kondisi anak-anak dewasa ini. Hal ini dengan sendirinya menjadi bukti dari kezaliman, brutalitas dan pendudukan bertahun-tahun bumi Palestina oleh rezim Zionis Israel.

 

Saat ini, lebih dari dua juta anak Irak tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka. Selain itu, di antara 7,6 juta pengungsi di dalam negeri Suriah, 75 persennya adalah perempuan dan anak-anak. Anak-anak ini hidup di kamp-kamp pengungsian dalam kondisi miskin, kekurangan gizi dan terancam penyakit menular. Mayoritas dari mereka juga tidak mendapat hak primernya seperti pendidikan.

 

Menurut laporan UNHCR dan Dana Anak Dunia (UNICEF), separuh dari pengungsi Suriah yang terdaftar di kamp-kamp milik PBB adalah anak-anak dan 740 ribu di antara mereka berusia di bawah 11 tahun. Kondisi mengenaskan anak-anak di daerah perang sangat memperihatinkan di mana salah satu media asing merilis laporan kondisi mereka dan menulis, “Pengungsi Suriah menyelamatkan diri dari pembantaian dan mereka layak untuk mendapat perhatian.”

 

Poin penting di sini adalah UNICEF menyatakan, dengan menyisihkan hanya lima dolar bagi setiap anak maka 90 persen dari anak-anak yang setiap tahunnya meninggal dapat diselamatkan dan untuk memulihkan kondisi kehidupan anak-anak hanya dibutuhkan anggaran enam pekan bujet persenjataan dunia.

 

Menggelar peringatan hari anak untuk menghormati mereka serta penentuan hari anak sedunia merupakan langkah paling minim yang dapat dilakukan untuk membentuk masa depan generasi mendatang dunia ini. Anak-anak dewasa ini membutuhkan perhatian lebih para pejabat dan pemimpin internasional dan pandangan khusus berbagai negara untuk melenyapkan kendala ini.