Armada Sumud Diserang di Perairan Internasional, Aktivitas Diculik, Dunia Diminta Bertindak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i190128-armada_sumud_diserang_di_perairan_internasional_aktivitas_diculik_dunia_diminta_bertindak
Pars Today - Sumber-sumber berita melaporkan bahwa angkatan laut rezim Zionis menyerang Armada Global Sumud yang sedang menuju Jalur Gaza.
(last modified 2026-05-19T05:21:49+00:00 )
May 19, 2026 12:19 Asia/Jakarta
  • Armada Global Sumud diserang rezim Zionis
    Armada Global Sumud diserang rezim Zionis

Pars Today - Sumber-sumber berita melaporkan bahwa angkatan laut rezim Zionis menyerang Armada Global Sumud yang sedang menuju Jalur Gaza.

Armada Global Sumud mengumumkan pada hari Senin, 18 Mei 2026, bahwa kapal-kapalnya menjadi sasaran serangan angkatan laut rezim Zionis dan komunikasi dengan mereka terputus. Channel 12 Israel mengkonfirmasi bahwa Unit 13 Komando (Shayetet 13) angkatan laut Zionis memulai operasi pengambilalihan Armada Sumud. Angkatan laut Zionis memerintahkan para aktivis yang berada di armada untuk mematikan mesin kapal.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa para aktivis yang berada di kapal utama telah ditahan dan dipindahkan ke kapal militer Israel yang diduga berfungsi sebagai "penjara apung" sebelum dipindahkan ke pelabuhan Ashdod di wilayah pendudukan.

Salah satu aktivis yang berada dalam armada tersebut mengatakan bahwa misi Armada Sumud adalah murni kemanusiaan dan bertujuan memecahkan blokade Jalur Gaza, namun menghadapi agresi ilegal Israel di laut.

Armada Global Sumud sendiri adalah misi internasional yang terdiri dari puluhan kapal dari berbagai negara, yang berlayar dari Turki dengan membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza yang kelaparan akibat blokade dan perang yang berkepanjangan .

Serangan Terjadi di Siang Bolong, Jurnalis Indonesia Ikut Dibajak

Operasi penyergapan yang dinilai sangat berani ini terjadi di siang bolong, bukan di malam hari seperti insiden serupa di masa lalu. Rekaman yang dibagikan oleh aktivis menunjukkan pasukan Israel mendekati kapal dengan perahu karet cepat, mengenakan rompi anti peluru, dan menaiki kapal tanpa perlawanan sengit. Kontak dengan kapal utama kemudian terputus total.

Dari pihak Indonesia, dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, yang bergabung dalam misi ini, ikut ditangkap oleh pasukan Zionis. Mereka tergabung dalam kontingen Indonesia yang terdiri dari sekitar 9 orang.

Menteri Luar Negeri Indonesia dalam pernyataan darurat menyatakan "keprihatinan mendalam" dan meminta perlindungan bagi warga negaranya. Anggota DPR Italia, Dario Carotenuto, mendesak pemerintah Italia dan komunitas internasional untuk bergerak cepat membantu pembebasan awak kapal Freedom Flotilla.

Reaksi Global dan Kecaman

Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, mengutuk tindakan ini dan menyebutnya sebagai "tindakan pembajakan" di perairan internasional. "Aib bagi pemerintah Eropa karena tidak bertindak menghentikan Israel. Kapan impunitas Israel akan berakhir?" tulis Albanese di platform X. Ia juga mendesak negara-negara Mediterania untuk melindungi "kapal-kapal sipil yang berusaha memecahkan blokade genosida Israel di Gaza".

Pihak Kementerian Luar Negeri Israel membela tindakan tersebut, menyebut armada itu sebagai "provokasi demi provokasi" dan "bukan misi kemanusiaan sejati" yang bertujuan melayani Hamas dan mengalihkan perhatian dari keengganan Hamas untuk melucuti senjata.

Namun, jumlah total tawanan yang ditahan masih belum jelas. Dari laporan awal menyebutkan setidaknya 17 kapal berhasil dicegat dalam 3 jam pertama operasi, dengan puluhan aktivis dari berbagai negara (Kanada, AS, Eropa, Indonesia) kini ditahan di luar perairan teritorial Siprus.

Di tengah upaya dunia untuk mengirimkan makanan dan obat-obatan, meriam dan perahu perang kembali menghadang. Di era di mana "genosida" disebut sebagai kejahatan, para aktivis yang ingin menghentikannya justru ditawan dan diasingkan. Sumud dibajak, kontak terputus, tetapi tangisan dari Gaza dan kemarahan dunia takkan pernah berhenti.

Mereka menembaki kapal bantuan di perairan terbuka. Mereka menculik relawan di siang hari bolong. Mereka menyita panggilan kemanusiaan yang bahkan tidak membawa senjata. Lalu mereka menyebutnya 'provokasi'. Jika membantu mereka yang kelaparan adalah kejahatan, maka di dunia yang terbalik ini, tidak ada yang lebih benar selain menjadi pembangkang. Sumud mungkin telah dihentikan untuk sementara, tetapi suara mereka, yang bergema di setiap kapal yang dibajak dan di setiap video yang terputus, tidak akan pernah dibungkam.(Sail)