Moskow Peringatkan Korsel: Jangan Kirim Senjata ke Ukraina
-
Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia
ParsToday – Setelah media Korea Selatan melaporkan bahwa Seoul tengah mempertimbangkan pengiriman senjata ke Ukraina, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan peringatan kepada Seoul terkait masalah ini.
Melaporkan dari ISNA, Minggu, 22 Februari 2026, Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, mengatakan bahwa kemungkinan partisipasi Korea Selatan dalam skema NATO untuk membiayai pembelian senjata bagi Ukraina akan merusak serius hubungannya dengan Moskow.
Mengutip jaringan berita Russia Today, skema yang dikenal sebagai Daftar Kebutuhan Prioritas Ukraina (PURL) ini diluncurkan pada Agustus 2025. Skema ini mencakup pembelian senjata, yang sebagian besar buatan Amerika, oleh anggota NATO di Eropa untuk Kyiv.
Pada Januari, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengeluh bahwa pendukung Eropa terlalu lambat dalam mendanai skema ini. Namun, angka yang terungkap menunjukkan bahwa hingga Desember, 4,3 miliar dolar telah dialokasikan untuk skema tersebut.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan kepada kantor berita Yonhap, "Pemerintah terus berkonsultasi dengan NATO mengenai berbagai langkah untuk mendukung Ukraina."
Menurut harian Korea Times, NATO telah meminta Seoul untuk bergabung dengan PURL.
Zakharova mengatakan kepada wartawan bahwa laporan-laporan ini mengejutkan Moskow. Ia memperingatkan bahwa "kemungkinan partisipasi Korea Selatan dalam tindakan semacam itu, baik secara langsung maupun tidak langsung, hanya akan menunda penyelesaian konflik".
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia juga mencatat, "Hal ini tanpa keraguan akan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada hubungan antara Rusia dan Korea Selatan. Moskow akan terpaksa mengambil tindakan balasan, termasuk opsi-opsi asimetris."
Rusia telah berulang kali mengutuk pengiriman senjata Barat ke Ukraina. Rusia menyatakan bahwa hal ini dapat memperpanjang konflik yang ada dan meningkatkan penderitaan masyarakat.
Korea Selatan telah menjadi salah satu penerima manfaat utama dari peningkatan kekuatan militer global. Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) pada Desember 2025 melaporkan bahwa produsen senjata terbesar di negara itu, Hanwha Group, mencatat peningkatan pendapatan senjata sebesar 42 persen pada tahun 2024. Lebih dari separuhnya berasal dari ekspor, termasuk ke negara-negara NATO.
Kyiv, yang terus-menerus meminta lebih banyak bantuan militer dari para pendukungnya, baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengekspor senjata. Awal pekan ini, seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah memperkirakan pendapatan dari penjualan senjata akan mencapai "beberapa miliar dolar" hanya pada tahun ini.(sl)