Pertempuran Kami Belum Usai
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i18865-pertempuran_kami_belum_usai
Masih jelas di benak Udin Lolong (64) pertempuran dahsyat, saat TNI menumpas Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak, Malaysia, di Bukit Brambang, Desa Sempatung, pedalaman Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pada 1966-1969.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 27, 2016 07:14 Asia/Jakarta
  • Indonesia
    Indonesia

Masih jelas di benak Udin Lolong (64) pertempuran dahsyat, saat TNI menumpas Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak, Malaysia, di Bukit Brambang, Desa Sempatung, pedalaman Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pada 1966-1969.

Bukit Brambang dihujani bom dan peluru karena menjadi salah satu lokasi pusat pertempuran. Desa Sempatung dekat dengan perbatasan Indonesia-Malaysia, sekitar 250 kilometer dari Pontianak, ibu kota Kalbar.

 

Udin adalah tokoh masyarakat setempat dan salah satu warga Desa Sempatung yang ikut bertempur melawan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS). Penumpasan itu lantaran, PGRS diduga disusupi paham komunis kala itu.

 

Dalam penumpasan PGRS, TNI membuat markas di permukiman warga di Dusun Kuningan, dusun paling ujung di Desa Sempatung, sekitar 5 kilometer dari Bukit Brambang (pusat pertempuran).

 

Nama-nama pasukan beserta kesatuan yang pernah bermarkas di Dusun Kuningan terukir di atas batu di tengah kampung, meskipun kini sudah kabur dan sulit dibaca. Selama pertempuran 1966-1969, warga ikut ambil bagian dalam membantu pasukan TNI.

 

“Seluruh warga desa yang laki-laki ikut setiap TNI bertempur menghadapi PGRS. Warga bertugas menunjukkan jalan di setiap pergerakan TNI. Sebab, TNI kurang mengenali medan peperangan itu,” kata Udin saat ditemui di Dusun Kuningan, Sabtu (18/6/2016) malam.

 

Warga juga membantu membawa amunisi TNI. Bahkan, tak jarang ikut bertempur langsung. Warga ada yang berhasil membunuh PGRS menggunakan senjata tradisional.

 

“Semuanya kami lakukan karena kecintaan kepada Indonesia. Warga juga membantu memikul beras di dalam karung berisi beras perbekalan TNI melintasi jalan setapak dan perbukitan yang berbatu-batu dan licin,” ujarnya.

 

Selama konfrontasi, warga tidak berladang karena situasi tidak memungkinkan untuk berladang. Warga hanya mengharapkan pemberian beras dari TNI. Itulah yang mereka masak di rumah bersama anak dan istri mereka.

 

Sekitar 1969, pertempura pun usai. Namun, warga setempat menghadapi pertempuran lainnya. Mereka masih “bertempur” menghadapi buruknya infrastruktur, kondisi pendidikan dan pelayanan kesehatan, khususnya di Dusun Kuningan bagian paling ujung Desa Sempatung.

 

Buruknya infrastruktur

 

Kepala Dusun Kuningan Kual Johan, menuturkan, dalam bidang infrastruktur pascapenumpasan PGRS hingga tahun 2013, masyarakat masih menggunakan jalan setapak.

 

“Akses terdekat kami untuk berbelanja sembako ke Kabupaten Bengkayang dengan berjalan kaki dua malam. Terkadang ke Entikong, Kabupaten Sanggau perbatasan Indonesia-Malaysia memerlukan waktu delapan jam jalan kaki. Bahkan, jika berbelanja ke kota Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak tiga hari tiga malam,” kata Kual.

 

Pada 2014, Pemkab Landak memperlebar jalan dari Ngabang, menuju Sempatung selebar 4 meter  dengan jarak 70 km dari kota Ngabang. Namun, masih sulit dilintasi kendaraan bermotor karena tidak ada pengerasan jalan. Jalan tersebut dipenuhi kubangan lumpur dan licin ketika musim hujan.

 

Total jarak kota Ngabang menuju Dusun Kuningan 70 km. Sekitar 50 km dari total jarak tersebut, kondisinya rusak parah. Kubangan lumpur ditemukan di sepanjang jalan sejauh 50 km itu. Lubang berkedalaman hingga 50 sentimeter dengan diameter 60-100 cm terdapat hampir di sepanjang jalan.

 

Warga membangun jembatan secara mandiri agar ruas jalan antardusun bisa terhubung. Ada puluhan jembatan yang mereka bangun dengan ukuran sekitar 3 meter x 2 meter.

 

Untuk mencapai Dusun Kuningan juga, ditempuh menggunakan rakit yang terbuat dari bambu untuk menyeberang sungai selebar 25 meter. Sepeda motor dinaikan ke atas rakit.

 

Kondisi pendidikan

 

Kual menuturkan, sebelum 2008, Dusun Kuningan belum memiliki bangunan SD. Warga berinisiatif mendirikan bilik bambu berukuran sekitar 3 meter x 4 meter sebagai tempat belajar non-formal bagi anak-anak.

 

Tenaga pengajar adalah relawan di kampung tersebut yang hanya tamat Kejar Paket B bernama Suparjo (36). Jika ingin mengenyam pendidikan formal, jaraknya jauh sekali.

 

Pada 2008, barulah berdiri SDN 34 Kuningan. Namun, statusnya SD mini, hanya memiliki tiga ruangan yang dijadikan ruang belajar dari kelas I hingga VI. Siswa masuk bergantian.

 

Siswa kelas I hingga III masuk pukul 07.00 hingga 11.00. Setelah itu, dilanjutkan siswa kelas IV hingga VI dari siang hingga sore. Satu kelas siswanya empat hingga tujuh orang.

 

Meskipun memiliki sekolah, guru yang pegawai negeri sipil sebanyak tiga orang yang ditugaskan di daerah itu rata-rata hanya mengajar sebulan sekali. Mereka tidak betah karena berasal dari luar dusun itu.

 

Akhirnya, relawan pengajar bernama Suparjo tamatan Kejar Paket B itulah yang lebih banyak mengajar kelas I hingga VI. Saat siswa kelas VI menghadapi ujian, relawan itu memberikan les tambahan pada malam hari.

 

Kendala fasilitas kesehatan

 

Petugas kesehatan datang dari daerah Serukam, Kebupaten Bengkayang dan hanya datang sebulan sekali. Pernah suatu ketika ada warga yang melahirkan dan harus segera mendapatkan pelayanan kesehatan, harus ditandu naik turun bukit selama delapan jam untuk mendapatkan pelayanan di Puskesmas terdekat.

 

“Meskipun jalan saat ini bisa dilintasi sepeda motor, tetapi kondisi jalan licin,” ungkap Kual.

 

Bupati Landak Adrianus Asia Sidot, menuturkan, untuk membenahi bidang infrastruktur, Pemkab Landak sedang berupaya agar pembangunan jalan Ngabang menuju Dusun Kuningan masuk dalam anggaran pembangunan jalan paralel perbatasan Indonesia-Malaysia. Sebab, jalur itu dekat dengan perbatasan.

 

Adrianus juga mengklaim sudah menegur guru yang jarang masuk. Namun, sering tidak diindahkan. “Itulah mentalitas mereka. Meskipun sudah diperingatkan berkali-kali tetap saja tidak berubah. Kami akan berupaya mendatangkan guru lain yang lebih bisa mengajar di desa tersebut,” ujarnya.

 

Di bidang kesehatan, petugas memang baru bisa sekali dalam sebulan ke dusun itu karena wilayah itu sulit ditempuh. Petugas kesehatan terkadang menggunakan pesawat capung untuk mencapai wilayah itu. (Kompas)