Komplikasi Penyakit Diabetes, Fenomena Gunung Es
-
Diabetes
Diabetes merupakan salah satu penyakit yang pada awalnya tidak menimbulkan gejala. Karena perjalanan penyakitnya bisa bertahun-tahun, banyak orang tidak menyadari dirinya menderita diabetes sampai akhirnya timbul komplikasi.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah besar atau pembuluh darah kecil.
Menurut dr.Em Yunir Sp.KD-KEMD, proses kerusakan tersebut tidak berlangsung satu persatu, tetapi berbarengan. "Ada pasien yang sudah mengalami kerusakan pada saraf matanya dan juga kaki. Ada yang datang-datang ginjal dan jantungnya sudah bermasalah," katanya dalam acara temu media yang diadakan oleh PT.Roche Indonesia di Jakarta (30/8/16).
Ia mengatakan, hampir 7 dari 10 pasien diabetes di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta sudah datang dengan kondisi komplikasi. "Karena mereka masuknya ke rumah sakit rujukan. Kondisi itu juga ditemukan di seluruh rumah sakit tipe A dan B di provinsi," ujarnya.
Menurut data Perhimpunan Endikronologi Indonesia (PERKENI) tahun 2012 di rumah sakit provinsi yang ada dokter endokrinologinya, kasus komplikasi diabetes terbanyak adalah kerusakan saraf kaki (periferal neuropati) 59 persen, disfungsi ereksi (32 persen), kerusakan saraf mata (29 persen), penyakit jantung (22 persen), dan ginjal (14 persen).
"Pada pasien cuci darah, sekitar 30 persennya karena diabetes, jadi komplikasinya kerusakan ginjal," kata Em Yunir.
Pengendalian kadar gula darah adalah kunci untuk menghindari atau memperlambat munculnya berbagai komplikasi tersebut. Namun, pengendalian itu sulit dilakukan sebagian besar penyandang diabetes di Indonesia.
Target nilai HbA1C atau rata-rata kadar gula darah dalam tiga bulan adalah kurang dari 7 persen, tetapi menurut Em Yunir, hanya 30 persen pasien yang memiliki nilai HbA1C sesuai target.
"Rata-rata pasien nilainya 8,3 persen. Ini berarti mereka beresiko tinggi komplikasi," imbuh Ketua Divisi Metabolik Endikronologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Munculnya komplikasi juga memperbesar biaya perawatan. Di Indonesia, pada 2010 komplikasi meningkatkan biaya perawatan hingga 22,5 kali dibandingkan penyandang diabetes tanpa komplikasi.
"Saat ini penyakit hipertensi dan diabetes jadi prioritas utama BPJS Kesehatan untuk dikelola lebih baik," katanya.
Menurut Em Yunir, dalam waktu dekat PERKENI akan meluncurkan buku panduan untuk dokter umum dan dokter spesialis dalam pengelolaan diabetes. Misalnya saja cara memilih obat sesuai dengan kadar HbA1c, pemeriksaan gula darah, dan sebagainya.
Mengapa Diabetesi Perlu Rajin Cek Gula Darah?
Kadar gula darah berfluktuasi setiap hari dipengaruhi berbagai hal, seperti asupan makanan, aktivitas fisik, hingga obat-obatan. Pada orang yang diabetes, informasi itu memengaruhi regime pengobatan.
Untuk mengetahui variasi kadar gula darah dalam sehari, penderita diabetes (diabetesi) bisa melakukan pemeriksaan gula darah mandiri (PGDM) dengan alat glukometer.
"Dengan alat monitoring gula darah bisa diketahui respon tubuh terhadap makanan atau obat. Misalnya saja kalau habis makan ayam goreng gula darahnya melonjak dari 150 jadi 400, berarti makanan itu terlalu sensitif. Demikian juga dengan dosis obat," kata dr.Em Yunir, Sp.PD-KEMD.
Pengecekan gula darah di rumah diwajibkan untuk pasien diabetes tipe 1, pasien diabetes melitus yang memakai insulin, serta pasien diabetes yang sering mengalami kejadian gula darah terlalu rendah (hipoglikemi).
Selain itu, menurut Em Yunir, pasien diabetes yang perlu mencapai target gula darah tertentu juga disarankan menggunakan alat glukometer di rumah.
"Kalau hanya cek di laboratorium sebulan sekali terlalu panjang. Kalau dengan glukometer sudah ketahuan flukutasinya, dalam satu atau dua minggu bisa diubah regimen pengobatannya," katanya.
Penggunaan glukometer yang dilakukan secara tepat bisa memberikan manfaat yang baik dalam penatalaksanaan diabetes melitus.
Secara umum diabetesi disarankan melakukan pengecekan gula darah sebelum makan pagi dan dua jam setelah makan. Sementara itu pada pengguna insulin pengecekan dilakukan setelah menyuntikkan insulin.
"Hasil pengecekan gula darah itu juga harus dicatat dan dikonsultasikan ke dokter untuk mengetauhi efektivitas pengobatan," ujar Em Yunir.
Selain pengecekan dengan glukometer, diabetesi juga perlu mengetahui kadar HbA1C melalui pemeriksaan di laboratorium setiap dua atau tiga bulan sekali. Kadar yang HbA1C yang baik adalah kurang dari 7 persen.
"Kadar HbA1C ini untuk mengetahui kadar gula darah rata-rata dalam tiga bulan. Semakin sering kadar gula darahnya tinggi, makin tinggi juga nilai HbA1C," katanya.
Pada Pasien Diabetes, Gula Darah Tak Terkontrol Bisa Turunkan Fungsi Otak
Mengontrol gula darah tetap stabil penting bagi pasien diabetes. Sebab, ketika kadar gula darah terus-terusan tinggi, fungsi mengingat pun bisa terpengaruh.
Baru-baru ini, studi di University of South Florida, Tampa, mengungkapkan bahwa orang yang dengan kadar gula darah tinggi memiliki penurunan dalam kemampuan mengingat atau hanya dengan memori episodik. Peneliti ini melakukan pemeriksaan kepada partisipan melalui empat rangkaian tes yang dilakukan dari tahun 2006-2012.
Penelitian ini melibatkan 950 orang dewasa dengan penyakit diabetes dan 3.496 orang tua tanpa gangguan penyakit. Hasilnya, partisipan yang memiliki diabetes dan kadar gula darah tinggi memiliki nilai yang buruk pada tes memori bagian pertama di awal studi. Pada akhir studi pun partisipan dengan diabetes mengalami penurunan nilai yang cukup besar.
"Kami percaya gabungan dari diabetes dan gula darah yang tinggi dapat meningkatakan risiko masalah kesehatan," ucap ketua studi, Colleen Pappas, sekaligus peneliti penuaan di University of South Florida, Tampa.
Dikutip dari Reuters, partisipan melakukan tes darah pada awal studi untuk mengukur tingkat gula darah atau tes hemoglobin A1c. Tes ini dilakukan untuk melihat persentase dari hemoglobin yang dilapisi kadar gula dengan keterangan di atas 6,5 persen tanda dari diabetes.
Orang tanpa gangguan diabetes memiliki rata-rata A1c di tingkat 5,6 dan dianggap dalam keadaan sehat. Namun, pasien dengan diabetes memiliki rata-rata A1c di tingkat 6,7 yang artinya memiliki risiko mengalami komplikasi penyakit.
Penelitian yang diterbitkan di Journal of Epidemiology and Community Health ini juga melakukan tes memori dengan melakukan tes mengingat kata langsung dan kata pelan untuk menilai perubahan dari fungsi otak selama studi.
"Orang dengan tingkat A1c yang tinggi memiliki nilai yang rendah pada tes memori pertama dan mengalami penurunan nilai dari waktu ke waktu," tutur Pappas.
Sedangkan, Dr joe Verghese, direktur Montefiore-Einstein Center for the Aging Brain, New York yang tidak terlibat dalam studi mengatakan bahwa pasien diabetes mengalami perubahan otak dari waktu ke waktu seperti penyusutan pada area ingatan dan berpikir. Tingkat gula darah yang tinggi dipercaya merusak kesehatan otak.
Untuk menghindarinya, Mark Espelandm, peneliti dari Wake Forest School of Medicine di Winston-Salem, di North California menyarankan untuk menurunkan risiko diabetes bagi kesehatan otak dengan menerapkan hidup sehat dan menjauhi obesitas. (Kompas/Detik)