Semena-mena Terhadap Alam
Bumi tempat kita tinggal ini adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Hanya saja, bumi termasuk benda mati, begitu juga manusia. Namun, manusia adalah makhluk hidup yang diberi akal pikiran untuk keberlangsungan hidupnya di muka bumi. Tentu, wajib hukumnya bagi manusia untuk memelihara dan menjaga kelestarian bumi tempat tinggalnya.
Maka, bisa dibayangkan bila manusia melakukan kerusakan pada lingkungan di muka bumi ini. Bencana alam! Dan kita sendirilah yang akan menanggung segala akibatnya. Itulah yang saat ini sedang terjadi. Potret kerusakan alam, telah gamblang dipertontonkan oleh ulah manusia. Kebakaran, banjir, longsor, pencemaran lingkungan dan lainnya, itu terjadi akibat ulah rakus yang namanya manusia demi kepentingannya sendiri.
Padahal, Allah SWT telah memperingatkan manusia agar tidak berlaku semena-mena terhadap alam. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56-58)
Saat ini, bencana demi bencana telah menimpa bumi Indonesia. Teranyar adalah bencana banjir dan longsor di Kabupaten Garut serta Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Puluhan korban jiwa, sebagian di antaranya anak-anak terenggut nyawanya akibat banjir bandang yang terjadi Selasa (20/9) petang. Belum lagi korban yang luka-luka dan korban hilang. Tak hanya nyawa yang melayang dan korban luka, harta benda lainnya pun turut hilang. Bencana tanggap darurat pun dikeluarkan Bupati Garut.
Sejumlah bantuan dari berbagai pihak terus mengalir ke kota 'dodol' ini. Semua demi menyelamatkan dan meringankan beban hidup para korban bencana alam banjir dan longsor.
Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Garut, Sumedang, dan sejumlah daerah lain di Tanah Air ini, tak dimungkiri akibat rusaknya kawasan hutan. Di wilayah Jawa Barat, misalnya. Semakin hari, kondisi hutan di wilayah ini semakin mengkhawatirkan. Kerusakan hutan itu rata-rata akibat pembalakan liar (illegal logging). Sementara kontrol dari pemerintah daerah seakan tak banyak membantu.
Wagub Jabar Deddy Mizwar selalu geram bila mendengar terjadinya kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayahnya. Berbagai upaya telah dia lakukan agar lingkungan di Jabar tidak rusak oleh ulah orang atau perusahaan perusak lingkungan. Namun miris, kerusakan lingkungan terus terjadi. Sanksi hukum pun masih belum berpihak untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Deddy menyebut, pembangunan infrastruktur yang cepat dan pembangunan industri, punya andil memengaruhi kerusakan hutan. Kata dia, pertumbuhan pembangunan itu telah mengurangi kawasan lindung yang ada. Padahal, sejak 2014 hingga sekarang, sudah lebih dari 132 juta pohon telah ditanam. Memang, jumlah ini masih belum mencukupi karena indikasi kerusakan alam masih tinggi.
Dampak kerusakan hutan makin terlihat. Saat musim kemarau, sejumlah daerah mengalami kekeringan. Sedangkan saat musim hujan rawan terjadi bencana longsor dan banjir. Sejumlah wilayah hutan yang asalnya ditanam pohon tegakan pun banyak yang beralih fungsi menjadi lahan sayur. Beberapa kawasan karst yang merupakan daerah resapan air juga ikut dieksploitasi.
Terhadap kerusakan hutan yang terjadi di Kabupaten Garut ini, Pemkab Garut sebenarnya sudah meminta Pemprov Jabar untuk bertindak tegas terhadap pelakunya. Pemkab Garut menyebutkan, ada sepuluh titik/lokasi hutan yang luasnya lebih dari 600 hektare rusak akibat pembalakan liar dan sulit ditangani.
Di antaranya Cagar Alam Leuweung Sancang, hutan lindung di Suaka Margasatwa Gunung Masigit-Kareumbi, hutan lindung Gunung Cikuray, Kamojang, Cisewu, Cikajang, Cisurupan, di kaki Gunung Papandayan, dan hutan lindung yang dikelola Perhutani di kawasan Cikelet. Namun, kawasan Suaka Alam Sancang di Garut Selatan, dinilai telah mengalami kerusakan lingkungan yang cukup parah, bahkan terparah di Jabar.
Kerusakan inilah yang menurut Walhi Jabar berdampak pada layanan hutan alam untuk menyangga kehidupan sekitar 43 juta manusia di Jawa Barat semakin berkurang, dan daya dukung lingkungan pun semakin kecil. Artinya, masyarakat Jawa Barat berada dalam ancaman bencana ekologis, rawan air, pangan dan energi. (REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika, Agus Yulianto)