Ribuan Siswa SMK Ikuti Ujian Nasional
Hari ini sebanyak 1.485.302 siswa dari 13.054 sekolah menengah kejuruan (SMK) sederajat mengikuti ujian nasional (UN) yang diselenggarakan mulai 2 April hingga 5 April.
Situs Antara melaporkan, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Bakhrun, di Jakarta, Senin mengatakan, dari jumlah tersebut, sebanyak 12.495 SMK atau 1.459.062 siswa melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Sisanya melaksanakan Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP).
Kemudian UN untuk tingkat sekolah menengah atas (SMA) sederajat pada 9 hingga 12 April dan sekolah menengah pertama (SMP) atau sederajat pada 23 hingga 26 April.
Sementara, UN susulan untuk SMK dan SMA sederajat akan diselenggarakan pada 17 hingga 18 April dan untuk SMP sederajat pada 8 hingga 9 Mei.
Bakhrun menjelaskan proses sinkronisasi khususnya untuk pelaksanaan UNBK berlangsung lancar dan tidak ada kendala. Ditegaskannya, "Kami berharap pelaksanaan UN yang dimulai pada pagi hari ini juga berlangsung lancar,".
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy berharap kualitas Ujian Nasional (UN) semakin membaik dan menyatakan saat ini sudah tidak relevan lagi menguji kejujuran siswa karena saat ini tidak ada lagi peluang kecurangan atau berbuat pelanggaran.
"UN sekarang tidak lagi relevan untuk menguji kejujuran siswa karena tidak ada lagi peluang kecurangan atau kecil sekali peluang untuk berbuat pelanggaran," kata Muhadjir saat meninjau pelaksanaan UN di SMKN 29 dan SMKN 6 Jakarta, Senin.
Muhadjir menjamin UN berbasis komputer (UNBK) dan UN kertas pensil (UNKP) tidak bocor karena siswa mengerjakan soal yang berbeda dengan siswa yang lainnya.
"Andaikan bocor, itu peluangnya kecil sekali dan itu juga sangat luar biasa kalau itu terjadi karena soal baru bisa dibuka beberapa menit sebelum UN dimulai, serta hanya bisa dibuka oleh siswa yang ada di depan komputer itu."
Hasil UN akan digunakan untuk standarisasi dan memetakan pendidikan secara nasional.
"Dari hasil UN tersebut, nanti akan dijadikan dasar untuk membuat kebijakan serta melakukan perbaikan pada tahun berikutnya," kata dia.
"Semestinya dengan kualitas UN yang seperti sekarang (semakin membaik), tidak ada alasan untuk tidak menggunakan hasil UN ini. Saya kira kalau ada lembaga yang mengabaikan kerja keras siswa-siswa yang telah menunjukkan tingkat kejujuran yang tidak diragukan lagi, itu merupakan bagian dari pelecehan," sambung Muhadjir.(Antara/PH)