Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i59465-fluktuasi_nilai_tukar_rupiah
Nilai tukar rupiah hari Senin (2/7) dibuka pada posisi Rp14.280 per dolar Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penguatan tipis dari akhir pekan lalu yang masih bersandar di kisaran Rp14.300 per dolar AS.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 02, 2018 06:08 Asia/Jakarta
  • Rupiah dan dolar
    Rupiah dan dolar

Nilai tukar rupiah hari Senin (2/7) dibuka pada posisi Rp14.280 per dolar Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penguatan tipis dari akhir pekan lalu yang masih bersandar di kisaran Rp14.300 per dolar AS.

Situs Antara melaporkan, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mendesak sejumlah lembaga negara dan kementerian terkait, terutama Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, untuk segera bertindak mengatasi merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurut Bambang, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap USD dipengaruhi oleh beberapa hal termasuk faktor internal, seperti perang dagang Amerika Serikat dan China yang semakin meningkat, hambatan perdagangan di India dan Uni Eropa, serta kenaikan harga minyak mentah dunia.

Dia menyerukan lembaga negara dan kementerian terkait, terutama Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia segera melalukan langkah-langkah antisipatif yang cermat untuk mengetasi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD.

Bamsoet juga mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memberikan insentif ekspor, guna mendapatkan surplus perdagangan sekaligus mengurangi neraca keseimbangan primer negatif.

Di sisi lain, Bamsoet juga berharap, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) harus lebih proaktif dan progresif dalam melakukan langkah-langkah hubungan kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara-negara maju, agar para pengusahanya datang menanamkan modalnya di Indonesia.

CNN Indonesia melaporkan, Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka melihat rupiah bakal kembali menguat pada hari ini karena Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Juni 2018.

Optimisme juga disampaikan Reza Priyambada, Analis Binaartha Sekuritas yang menilai rupiah juga punya peluang menguat karena penguatan euro Eropa yang terjadi akibat Uni Eropa menyepakati penyelesaian krisis imigran di Eropa.

Pada pekan lalu, rupiah berhasil menguat berkat keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 28-29 Juni 2018 memutuskan untuk menaikkan suku bunga BI sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan demi meredam volatilitas pasar finansial domestik.

Bank Indonesia

 

Kenaikan ini merupakan yang ketiga kalinya dalam dua bulan terakhir. Tidak hanya itu, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,5% dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6% yang berlaku sejak 29 Juni 2018.

Sepanjang Mei-Juni 2018 BI telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 bps menjadi 5,25%. Kebijakan ini ditempuh mengikuti langkah bank sentral AS (The Fed) yang telah menaikkan suku bunga patokannya sebesar 75 bps sejak akhir tahun lalu.

Dinaikkannya suku bunga rupiah kali ini membuat selisih dengan suku bunga dolar AS kembali melebar menjadi 325 bps dari sebelumnya 275 bps. Namun, bank sentral harus berhemat amunisi, yakni kenaikan suku bunga dalam meredam volatilitas rupiah.

Sebab volatilitas rupiah akan berlangsung lama, selain itu kenaikan suku bunga akan berdampak terhadap perlambatan ekonomi dalam jangka panjang. Untuk meredam perlambatan ekonomi dampak kenaikan suku bunga tersebut, BI akan melakukan relaksasi loan to value kredit

Sentimen positif tersebut langsung direspon oleh investor untuk melakukan aksi beli saham di bursa saham yang mendorong kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia sebesar 131,92 poin (2,33%) ke level 5.799,237 dari penutupan sehari sebelumnya. Demikian pula dengan rupiah ikut menguat 64 poin (0,44%) ke posisi 14.330/dolar Amerika dari penutupan sehari sebelumnya.

Data Bloomberg yang dikutip situs Katadata mencatat tingkat pengembalian mata uang rupiah di pasar spot terhadap dolar Amerika untuk periode (29 Des 2017-28 Jun 2018) turun 5,71% (YTD).

Angka tersebut menempatkan rupiah berada di urutan 10 mata uang negara pasar berkembang yang mengalami pelemahan terdalam. Posisi tersebut berada di bawah peso Filipina yang mengalami depresiasi 6,74% terhadap dolar Amerika.

Sementara negara yang mengalami pelemahan terdalam adalah peso Argentina, yakni mencapai 33,71% (Ytd) diikuti lira Turki turun sebesar 17,15% dan real Brasil 14,3%. Meningkatnya ketidakpastian global membuat volatilitas pasar finansial meningkat. Ini tercermin dari indeks volatilitas (VIX) meningkat ke level 16,85 pada 28 Juni 2018 dari posisi akhir tahun lalu di 11,04. Demikian pula indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia (DXY) naik menjadi 95,27 dibanding posisi akhir tahun lalu di 92,12.(Antara/katadata/CNNIndonesia/PH)