Bank Dunia: Keuangan Indonesia Sangat Baik
-
Bursa efek Indonesia
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menilai keuangan Indonesia dalam kondisi yang sangat baik. Pernyataan Kim mengacu pada rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.
Statemen ini muncul di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS yang berdampak terhadap IHSG. Situs CNN Indonesia melaporkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan diselimuti sentimen negatif.
Analis Artha Sekuritas Juan Oktavianus Harahap memandang cadangan devisa pada Juni 2018 kembali turun dari posisi sebelumnya disebabkan pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya, BI mencatat cadangan devisa bulan Mei sebesar 122,9 miliar dolar. Angka itu turun sebesar 2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 123,9 miliar dolar.
Penurunan cadangan devisa pada Mei 2018 lalu bukan untuk pertama kalinya. Kondisi itu sudah terjadi sejak Februari 2018. Faktor utama penyebab penurunan cadangan itu dipicu oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang tak kunjung stabil terhadap dolar AS. Walhasil, BI melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah dengan menggelontorkan cadangan devisa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Darmin Nasution memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan kedua 2018 antara 5,2 persen dan 5,3 persen.
Situs Antara Rabu malam (4/7) melaporkan salah satu faktor pendorong pertumbuhan di triwulan kedua 2018 adalah pergeseran periode panen raya.
Selain itu, pemilihan kepala daerah (pilkada) yang diselenggarakan secara serentak dan Idul Fitri turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi triwulan II-2018.
Darmin Nasution juga mengatakan pemerintah akan berhati-hati mengelola laju impor bahan baku agar tak memengaruhi produksi industri manufaktur. Ia melanjutkan upaya meneliti dan menyeleksi impor tersebut bertujuan untuk membenahi neraca perdagangan yang defisit.
Defisit pada April dan Mei 2018 itu lebih dalam dibandingkan defisit pada Desember 2017 hingga Februari 2018. Menurut data BPS, neraca perdagangan Indonesia hanya terjadi surplus pada Maret 2018, yaitu sebesar 1,09 miliar dolar.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan meneliti kebutuhan impor secara lebih selektif supaya benar-benar menjadi sesuatu yang mendukung perekonomian Indonesia.
Langkah untuk meneliti impor tersebut merupakan upaya koreksi terhadap sentimen negatif yang menyebabkan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sri Mulyani mengatakan seleksi impor tersebut juga dapat melihat apakah impor bahan baku dan bahan penolong selama ini mampu digunakan untuk menunjang produksi.
Meski menghadapi berbagai masalah, tapi Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2018 bisa mendekati 5,2 persen atau lebih baik dari triwulan pertama yang tercatat sebesar 5,06 persen.
Menkeu menjelaskan konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah maupun ekspor masih dominan menjadi pendukung kinerja perekonomian pada triwulan kedua 2018. Konsumsi rumah tangga akan terbantu oleh peningkatan aktivitas belanja masyarakat yang meningkat pada periode puasa dan perayaan Idul Fitri.
Juni lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Waluyo menyampaikan optimismenya mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 yang masih akan berada dalam rentang proyeksi 5,1 persen sampai 5,5 persen.
Dody mengatakan, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 akan lebih banyak disumbang oleh investasi dan konsumsi. Ia juga mengungkapkan, konsumsi berkontribusi 54 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga kenaikan sedikit dari faktor tersebut akan mampu mendorong pertumbuhan lebih baik. Sementara itu, Bank Dunia merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 menjadi 5,2 persen dari sebelumnya 5,3 persen.
Perkiraan itu seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan arus perdagangan yang menurun dari level tertingginya baru-baru ini.
Menurut Bank Dunia, meningkatnya proteksionisme perdagangan, terdapat risiko riil bahwa percepatan perdagangan global baru-baru ini dapat terhenti dan membebani ekspor Indonesia yang menghambat pertumbuhan ekonominya. (Antara/Kontan/CNNIndonesia/Katadata)