Muktamar Muslim Indonesia - Malaysia di AS
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i65468-muktamar_muslim_indonesia_malaysia_di_as
Sekitar 1.200 peserta dari Amerika dan Kanada dipastikan hadir dalam Muktamar tahunan yang digelar oleh Indonesian Muslim Society in America (IMSA) dan Malaysian Islamic Student Group (MISG) di negara bagian New Jersey, Amerika Serikat pada 23 - 27 Desember 2018 mendatang.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 17, 2018 08:06 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi Muslimah.
    Ilustrasi Muslimah.

Sekitar 1.200 peserta dari Amerika dan Kanada dipastikan hadir dalam Muktamar tahunan yang digelar oleh Indonesian Muslim Society in America (IMSA) dan Malaysian Islamic Student Group (MISG) di negara bagian New Jersey, Amerika Serikat pada 23 - 27 Desember 2018 mendatang.

Chairman Muktamar, Eko Prasetiawan mengatakan bahwa pertemuan tahunan muslim asal Indonesia dan Malaysia yang kini berada di Amerika Serikat ini mengangkat tema "Muslim di Amerika Menjaga Identitas dan Memberdayakan Pemuda".

Sebanyak 1.200 peserta dari seluruh Amerika dan Kanada dari berbagai kalangan.

"Muktamar ini adalah konvensi tahunan yang sudah selenggarakan sejak tahun 1976. Pada 2017 lalu, kita berhasil mengumpulkan 1.000 orang peserta dan mendatangkan beberapa pembicara dari dalam negeri juga seperti Mantan Gubernur NTB, Tgk. M. Zainul Majdi atau yang lebih akrab dengan panggilan TGB. Tahun ini, Aa Gym, sudah confirm hadir," kata Eko, alumnus North Carolina State University ini, seperti dikutip Liputan6.com, Senin (17/12/2018).

Selain akan diisi dengan serangkaian seminar berbagai tema seperti pendidikan keluarga, anak-anak, dan pemuda, Muktamar yang dijadwalkan berlangsung di salah satu hotel bintang lima ini nantinya dirangkai dengan berbagai kegiatan menarik lainnya seperti field trip.

Acara ini akan diakhiri dengan kegiatan Field Trip ke situs bersejarah di kota New York dan persembahan budaya pada malam harinya.

Dalam muktamar ini pihak panitia juga menghadirkan nara sumber lainnya seperti perwakilan KJRI New York dan KBRI Washington DC.

Selanjutnya, Aula Andika selaku humas Muktamar menyebutkan bahwa kegiatan ini juga berfokus pada berbagai permasalahan yang dihadapi oleh generasi muda yang tumbuh di negara dengan mayoritas non-Muslim, seperti Amerika dan Kanada.

"Pemuda saat ini terjebak di antara dua realitas; budaya Barat yang mengelilingi anak-anak di sekolah, tempat kerja, dan budaya Muslim di rumah dan pengaturan keluarga. Karenanya tahun ini kami memilih lebih fokus pada persoalan berbasis kepemudaan dan solusi yang dapat ditempuh dan dijalankan oleh semua lapisan, terutama keluarga," ujar Aula, mahasiswa pascasarjana Lehigh University ini.

Enggartiasto Lukita.

Indonesia - EFTA Teken Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menandatangani kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dengan empat negara yang tergabung dalam European Free Trade Association (EFTA) pada perjanjian Indonesia - EFTA Comprehensive Conomic Partnership Agreement (CEPA).

"Indonesia percaya bahwa kemitraan ini akan membawa ekonomi Indonesia lebih kuat, berdaya saing, dan menarik bagi investor dari negara-negara maju anggota EFTA," kata Mendag Enggartiasto di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Senin (17/12/2018).

Penandatanganan tersebut juga dilakukan oleh Sekretaris Jenderal EFTA, Henri G taz, Menteri Hubungan Luar Negeri Hukum dan Budaya Leichtenstein Aurelia Frick, Kepala Departemen Hubungan Ekonomi Swiss Johann N Schneider-Ammann, Sekretaris Negara/Wakil Perdagangan Kerajaan Norwegia Daniel Bjarmann-Simonsen dan Duta Besar Islandia untuk Indonesia Hannes Heimisson.

Perundingan perjanjian Indonesia-EFTA CEPA berlangsung selama hampir delapan tahun sebelum akhirnya dinyatakan selesai secara substantif oleh para juru runding dalam pertemuan di Bali pada 29-1 November 2018 dan dideklarasikan selesai pada 23 November 2018 di Jenewa, Swiss.

Perjanjian ini mencakup isu-isu perdagangan barang, jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, pembangunan berkelanjutan, ketentuan asal dan bea cukai, fesilitasi perdagangan, pengamanan perdagangan, persaingan usaha, legal, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas.

"Cakupan perjanjian yang bergitu komprehensif menunjukkan bahwa kelima negara memiliki tekad bersama untuk mengangkat hubungan ekonomi ini ke jenjang yang lebih tinggi," ujar Enggar.

Menurut Enggar, hampir 99 persen barang asal Indonesia akan diberlakukan nol tarif untuk masuk ke negara EFTA, di mana hal tersebut juga berlaku sebaliknya.

Pada perdagangan barang, Indonesia akan memperoleh peningkatan akses pasar ke EFTA, antara lain untuk produk-produk perikanan, industri, dan pertanian, termasuk kopi dan sawit.

Selain itu, perjanjian tersebut juga membukan akses tenaga kerja Indonesia ke negara-negara EFTA, juga menyepakati kerja sama dan pengembangan kapasitas dibidang promosi ekspor, pariwisata, UMKM, HKI, kakao, kelapa sawit, pendidikan vokasional, industri maritim, dan perikanan. (Antara/liputan6.com)