Diplomasi Tehran; Upaya Membantu Dialog Inklusif di Afghanistan
-
Afghanistan
Kebijakan mendasar Republik Islam Iranm adalah membantu dialog inklusif di Afghanistan.
Sekaitan dengan ini, pertemuan virtual menlu negara-negara tetangga Afghanistan digelar Rabu (8/9/2021) dengan poros Iran.
Apa urgensitas pertemuan ini dan apa inisiatif yang dikejar para tetangga Afghanistan serta apa mekanisme yang tepat untuk mengakhiri tensi dan menerapkan stabilitas berkesinambungan di negara ini.
Faktanya adalah Afghanistan korban intervensi dan pendudukan Amerika Serikat, serta apa yang tertinggal dari 20 pendudukan di Afghanistan adalah perang serta kerusuhan.
Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi saat bertemu dengan Menlu Pakistan Shah Mehmood Qureshi di Tehran menilai keluarnya Amerika dari Afghanistan sebuah titik balik bagi interaksi seluruh etnis dan faksi Afghanistan demi perdamaian, stabilitas dan keamanan negara ini. Seraya menolak segala bentuk pendekatan yang didasarkan pada paternalisme terhadap Afghanistan dan Presiden Raisi mengatakan, "Peran seluruh negara termasuk negara tetangga harus sekedar mempermudah pembentukan pemerintahan inklusif dan partisipatif yang melibatkan seluruh etnis serta faksi Afghanistan."
Dari perspektif pandangan ini dalam menganalisa transformasi Afghanistan dan urgensitas sidang Tehran, ada dua poin penting:
Pertama, urgensitas untuk menghindari segala bentuk kekerasan dan saling bunuh.
Kedua, urgensitas memperhatikan terhadap rasa sakit dan kesulitan rakyat Afghanistan.
Alireza Salimi, anggota Dewan Presidium Parlemen Iran seraya mengisyaratkan penyelenggaraan pertemuan virtual menlu negara-negara tetangga Afghanistan denga poros Iran, mengatakan, kebijakan Iran seperti yang ditekankan Pemimpin Besar Revolusi, Ayatullah Khamenei adalah mendukung berbagai bangsa, dan saat ini Iran mengkhawatirkan bangsa Afghanistan.
Salimi seraya menekankan poin bahwa di Afghanistan hak seluruh bangsa harus didukung dan bukannya hanya kelompok tertentu, meyakini bahwa pertemuan menlu negara tetangga Afghanistan dari satu sisi dapat meredam tensi dan dari sisi lain, menghidupkan hak seluruh bangsa Afghanistan.
Oleh karena itu, diharapkan menteri luar negeri negara tetangga Afghanistan melalui pesan jelas dan kuat di pembentukan pemerintahan inklusif, akan mendukung rakyat Afghanistan di kondisi saat ini.
Wajar jika Tehran siap bekerja sama dalam koridor diplomasi regional dan internasioanl untuk menerapkan perdamaian dan keamanan di Afghanistan, serta Tehran akan berusaha untuk mengakhiri penderitaan rakyat Afghanistan dan pembentukan pemerintahan inklusif yang merefleksikan susunan etnis dan demografi negara ini.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh di bidang ini menekankan bahwa Panjshir hanya memiliki solusi politik dan blokade daerah ini tidak dapat diterima baik dari sisi hukum internasional maupun HAM, mengecam segala bentuk intervensi asing di negara ini. Ia juga mengingatkan, "Teman-teman yang melakukan kesalahan strategis harus sadar bahwa geografi Afghanistan adalah geografi rakyat yang berjuang untuk mengusir pasukan asing."
Jubir Kemenlu Iran menilai membuat warga Panjshir kelaparan, blokade dan pemutusan air serta listri kawasan ini sangat mengkhawatirkan dan meminta Taliban komitmen dengan janjinya dan apa yang sebelumnya mereka katakan.
Yang pasti perdamaian dan stabilitas di negara ini hanya mungkin melalui suara rakyat dan pembentukan pemerintahan inklusif dengan partisipasi seluruh etnis. Afghanistan di kondisi saat ini hanya memiliki satu solusi, yakni dialog dan meraih kesepahaman antara seluruh faksi dan etnis. Berdasarkan fakta ini, Republik Islam Iran meyakini bahwa nasib Afghanistan harus ditentukan oleh rakyat Afghanistan sendiri. (MF)