Tantangan Perundingan JCPOA di Wina
https://parstoday.ir/id/news/iran-i110744-tantangan_perundingan_jcpoa_di_wina
Delegasi Iran dan kelompok 4+1 menggelar putaran baru perundingan di kota Wina pada hari Kamis untuk membahas dua agenda yaitu pencabutan sanksi Iran dan masalah nuklir.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 11, 2021 08:01 Asia/Jakarta

Delegasi Iran dan kelompok 4+1 menggelar putaran baru perundingan di kota Wina pada hari Kamis untuk membahas dua agenda yaitu pencabutan sanksi Iran dan masalah nuklir.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, dalam sebuah pesan kepada para pihak yang sedang berunding di Wina, menyerukan negara-negara Barat untuk memenuhi kewajibannya di masa lalu.

“Program nuklir Iran bertujuan damai, tetapi ada keterkaitan langsung antara mengatasi kekhawatiran pihak Barat dan mencabut sanksi Iran secara penuh," tegasnya.

Pada putaran baru perundingan, tim negosiasi Iran menawarkan proposal yang mencakup dua tema yaitu pencabutan sanksi yang menindas dan masalah nuklir kepada Barat.

Kali ini, negara-negara peserta punya penilaian yang lebih positif terhadap putaran baru perundingan dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Menurut keterangan perwakilan Rusia dalam perundingan Wina, Mikhail Ulyanov, beberapa persoalan penting telah diselesaikan dan negosiasi bergerak maju ke depan.

Republik Islam Iran, sebagai negara yang bertanggung jawab, berulang kali menyatakan Amerika Serikat adalah pihak yang melanggar perjanjian nuklir JCPOA, maka Washington harus kembali ke perjanjian dengan mencabut sanksi, dan Tehran akan memverifikasi langkah ini.

Namun, setelah Iran mengajukan proposalnya dalam perundingan baru Wina, negara-negara Eropa dan AS malah menganggap Iran telah mengubah tuntutannya, padahal sikap seperti ini dapat menggagalkan negosiasi.

Perlu dicatat, delegasi Iran menyusun proposalnya berdasarkan dokumen yang diperoleh dalam perundingan sebelumnya dan sejalan dengan teks JCPOA. Meski pemerintah telah berganti, namun pendekatan Iran dalam perundingan tetap sama.

Delegasi Iran dalam perundingan Wina.

Tantangan lain berhubungan dengan propaganda media-media Barat. Mereka mengesankan tuntutan Iran untuk mendapatkan jaminan agar AS tidak keluar lagi dari perjanjian nuklir, sebagai penghambat kemajuan negosiasi.

Tuntutan Iran merupakan hal yang benar-benar rasional, karena jika tanpa jaminan, kesepakatan tidak akan berjalan dengan baik. AS pernah meninggalkan perjanjian nuklir pada 2018 dan sekarang beberapa anggota Kongres juga mengancam akan keluar kembali dari perjanjian internasional ini.

Mantan Duta Besar Prancis untuk AS, Gerard Araud mengatakan, "Bahkan jika JCPOA dipulihkan, tidak ada perusahaan Barat yang berani menginvestasikan satu sen pun di Iran, tidak ada bank-bank Barat yang akan membiayai kesepakatan apa pun di Iran jika ada ancaman kembalinya sanksi AS pada 2025. Sekali saja sudah cukup. Orang Iran tahu itu."

Delegasi Iran menekankan bahwa mereka siap untuk tinggal di Wina kapan pun diperlukan untuk mencapai kesepakatan yang baik. Sikap ini disambut baik oleh Rusia dan Cina, dan menjadi bukti atas keseriusan Tehran untuk menyukseskan perundingan.

Untuk itu, Iran mengharapkan pihak lawan untuk datang dengan ide-ide dan proposal baru. Cara ini akan membantu untuk menciptakan sebuah negosiasi yang serius dengan maksud mencapai kesepakatan.

Akan tetapi, kepala negosiator nuklir Iran, Ali Bagheri Kani menganggap beberapa pihak tidak serius untuk mencapai kesepakatan tentang pencabutan sanksi.

"Delegasi Republik Islam datang ke Wina dengan serius dan membatalkan agenda pertemuan-pertemuan lain mereka, langkah ini menunjukkan tekad Iran dalam perundingan," tandasnya. (RM)