Iran Aktualita, 1 Januari 2022
-
Perundingan Wina
Perkembangan di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya seputar perundingan Wina antara Iran dan Kelompok 4+1.
Selain itu, masih ada isu lainnya seperti persiapan haul Syahid Qasem Soleimani serta statemen pejabat Iran, kemajuan Iran di bidang satelit, Raisi: Iran Prioritaskan Peningkatan Hubungan dengan Negara Tetangga, Jubir IRGC: Israel Tak Punya Kemampuan Lain selain Bicara, Brigjen Pakpour: Angkatan Bersenjata Iran Lebih Kuat dari Sebelumnya.
Hari Ini, Putaran Kedelapan Perundingan Iran Kelompok 4+1
Perundingan putaran kedelapan antara perwakilan Iran dan kelompok 4+1 dimulai hari ini di Wina.
Ali Bagheri Kani, Kepala Juru Runding Republik Islam memimpin delegasi Iran dalam perundingan Wina yang digelar pada Senin ( 27/12/2021).
Pembicaraan putaran kedelapan pencabutan sanksi dijadwalkan akan digelar di tingkat wakil menteri luar negeri Iran dan kelompok 4+1.
Dalam putaran pembicaraan ini, pihak-pihak Eropa diharapkan datang ke meja perundingan lebih serius dan mengambil langkah-langkah praktis untuk memenuhi komitmen mereka dengan menghindari agitasi media.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian mengatakan, "Jika Anda ingin mengatasi kekhawatiran mengenai program nuklir damai Iran, maka semua sanksi harus dicabut,".
Menlu Iran menyatakan bahwa Republik Islam akan melanjutkan negosiasi dengan logika yang kuat sampai kesepakatan yang baik tercapai.
"Ketika pihak lawan menunjukkan keinginan serius mereka, di saat itu kita dapat berbicara tentang kembalinya Iran untuk memenuhi semua komitmennya di JCPOA" tegasnya.
Kepala Negosiator Iran Bertemu Pejabat Eropa di Wina
Wakil Menteri Luar Negeri Iran dan kepala negosiator nuklir, Ali Bagheri Kani mengadakan pembicaraan dengan Wakil Sekjen Layanan Tindakan Eksternal Eropa, Enrique Mora di Wina, ibu kota Austria.
Dikutip dari kantor berita IRIB, Bagheri Kani dan Enrique Mora dalam pertemuan hari Rabu (29/12/2021), bertukar pandangan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian kedua belah pihak.
Perundingan Iran dan kelompok 4+1 (Inggris, Prancis, Rusia, Cina plus Jerman) dilaksanakan di Hotel Palais Coburg, Wina untuk membahas pencabutan sanksi Iran dan masalah nuklir.
Pertemuan itu akan dilanjutkan kembali pada Rabu ini di berbagai tingkatan dan format.
Pada putaran baru perundingan, Iran dan kelompok 4+1 akan berdiskusi tentang isi teks kesepakatan dan peta jalan untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir JCPOA.
Bagheri: Pencabutan Sanksi, Isu Utama Delegasi Iran
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menekankan urgensi pencabutan sanksi yang menindas serta jaminan yang objektif dan memadai dari pihak lain untuk memverifikasi langkah-langkah ini.
Ali Bagheri Kani Senin (27/12/2021) menyinggung dimulai perundingan putaran kedelapan antara Iran dan kelompok 4+1 dengan mengatakan bahwa delegasi Iran sepenuhnya siap untuk menjalin interaksi serius dan memajukan pembicaraan.
Perundingan Wina putaran kedelapan berfokus pada pencabutan sanksi yang menindas dan ilegal terhadap Iran yang dimulai Senin malam (waktu Wina) dengan pertemuan Komisi Gabungan yang diketuai oleh Ali Bagheri, Negosiator Senior Republik Islam Iran dan Enrique Mora, Wakil Sekretaris Jenderal Layanan Aksi Luar Negeri Uni Eropa.
Pertemuan yang digelar di Hotel Coburg ini melibatkan delegasi dari Iran dan kelompok 4+1 serta Uni Eropa.
Pada pertemuan ini, semua delegasi mencatat kemajuan yang dicapai pada putaran pembicaraan sebelumnya dan mengumumkan kesiapan mereka untuk melanjutkan konsultasi intensif.
Di akhir pertemuan, diputuskan untuk melanjutkan negosiasi dan mengerjakan teks mulai Selasa dalam berbagai level dan format.
Dalam perundingan putaran ketujuh, tim perunding Iran mempresentasikan teks yang diusulkan ke pihak lain dalam bentuk dua masalah mengenai pencabutan sanksi yang menindas dan masalah nuklir.
Negosiator Iran: Kami Mencapai Kemajuan untuk Penghapusan Sanksi
Kepala negosiator nuklir Iran mengatakan, perundingan beberapa hari terakhir di Wina telah membawa kemajuan yang baik dalam masalah penghapusan sanksi.
"Putaran kedelapan perundingan yang digelar beberapa hari ini berfokus pada masalah penghapusan sanksi," kata Ali Bagheri Kani kepada para wartawan Iran yang dikirim ke Wina, Austria, Kamis (30/12/2021).
Putaran kedelapan perundingan Iran dan kelompok 4+1 dihentikan selama tiga hari karena liburan Tahun Baru.
"Pada putaran ini, Iran dan pihak lawan melanjutkan pembicaraan dan interaksi tentang beberapa masalah. Beberapa pertemuan untuk membahas masalah verifikasi (pencabutan sanksi) juga dilakukan dengan delegasi Eropa dan koordinator Komisi Bersama JCPOA," ujarnya seperti dilaporkan IRNA.
Wakil Menlu Iran ini menjelaskan bahwa kedua belah pihak juga bertukar pesan tertulis di bidang pencabutan sanksi, dan kemajuan yang relatif baik telah dicapai dalam beberapa hari ini.
Bagheri Kani berharap bahwa setelah beberapa hari jeda karena libur akhir tahun, upaya yang lebih serius akan dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencabut sanksi.
Putaran kedelapan perundingan untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir JCPOA dimulai pada Senin lalu di tingkat wakil menteri luar negeri Iran dan perwakilan kelompok 4+1 (Inggris, Prancis, Rusia, Cina, plus Jerman).
Jika Berlarut-larut, Iran akan Tinggalkan Meja Perundingan Wina
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di parlemen Iran mengatakan, kesepakatan sementara secara praktis akan menjadi sebuah alat bagi Amerika Serikat untuk memulihkan struktur sanksi.
Shahriar Heidari dalam wawancara dengan kantor berita IRNA, Kamis (30/12/2021) menuturkan dalam perundingan dengan kelompok 4+1, Iran telah mengumumkan bahwa masalah pencabutan sanksi nuklir secara penuh harus diputuskan di Wina.
Shahriar Heidari
"Setelah pencabutan sanksi diverifikasi, Iran akan mengambil langkan untuk transparansi kegiatan nuklirnya," tambahnya.
Dia menekankan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat transparan. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengawasi kegiatan nuklir Tehran.
"Kegiatan damai nuklir Iran tidak pernah menyimpang sampai hari ini, dan IAEA juga memverifikasi aspek damai kegiatan nuklir kami," kata Heidari.
Legislator Iran ini mengatakan strategis Republik Islam adalah menghindari perundingan yang berlarut-larut. "Jika Barat menerima strategi Iran tentang pencabutan sanksi, perundingan akan berbuah hasil, dan jika tidak, Iran tidak akan meneruskan perundingan yang berlarut-larut," tegasnya.
Menurut Heidari, kesepakatan sementara akan membuat perundingan berlarut-larut dan memakan waktu. Kesepakatan untuk pencabutan sanksi harus bersifat permanen, kesepakatan sementara tidak ada gunanya.
"Lembaga diplomasi Iran, yang mewakili parlemen, pemerintah, dan bangsa Iran, menuntut penghapusan sanksi secara permanen," tandasnya.
Dia menjelaskan bahwa AS akan mencoba melanggar kesepakatan sementara dengan bermacam alasan, termasuk isu hak asasi manusia dan kemajuan program rudal, dan (kemudian) menghidupkan kembali struktur sanksi.
Iran akan Seret Pelaku Teror Syahid Soleimani ke Pengadilan
Kementerian Luar Negeri Iran menekankan bahwa Republik Islam akan membawa para pelaku di balik pembunuhan Letnan Jenderal Qasem Soleimani ke pengadilan.
"Pembunuhan Letjen Soleimani atas perintah langsung mantan Presiden AS adalah contoh nyata dari terorisme negara, dan Republik Islam Iran akan membawa pelakunya ke pengadilan,” tweet Kemenlu Iran pada Rabu (29/12/2021) menjelang peringatan haul kedua Syahid Soleimani dan rekan-rekannya.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed khatibzadeh mengatakan Letjen Soleimani adalah pahlawan perang melawan terorisme.
"Pembunuhan seseorang yang berada di garis depan perang melawan terorisme merupakan standar ganda, yang menunjukkan wajah asli Barat yang mengaku membela hak asasi manusia," tandasnya.
Komandan Pasukan Quds IRGC Iran Letjen Qasem Soleimani dan Wakil Ketua Hashd al-Shaabi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, bersama dengan delapan pengawal mereka, gugur syahid dalam serangan udara pasukan teroris AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020. Serangan teror ini dilakukan atas perintah langsung Presiden Donald Trump.
Velayati: Syahid Soleimani Tokoh Bersejarah Iran dan Islam
Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Urusan Internasional, Ali Akbar Velayati menyatakan, Syahid Qassem Soleimani dengan tindakannya yang luar biasa tidak diragukan lagi adalah salah satu tokoh sejarah Islam dan Iran.
Ali Akbar Velayati dalam konferensi "Sekolah Haji Qasem, Universitas dan Media" yang berlangsung hari Rabu (29/12/2021) di Tehran mengatakan, "Syahid Soleimani dengan usaha dan kesyahidannya mampu melepaskan kawasan yang disebut jantungnya Dunia Islam dalam geografi politik Agen asing, dari cengkeraman teroris Daesh dan ekstremis asing,"
"Tokoh seperti Syahid Qassem Soleimani mendirikan gerakan Islam di kawasan dan berhasil mengalahkan Amerika. Kekalahan ini akan berlanjut sampai Islam mencapai kebangkitannya kembali," ujar Velayati.
Letnan Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds Korp Garda Revolusi Islam Iran, yang tiba di Irak pada 3 Januari 2020 atas undangan resmi pejabat Irak, bersama dengan Abu Mahdi al-Mohandes, Wakil Kepala Al Hashd Al Shaabi, dan delapan lainnya gugur dalam serangan udara pasukan AS di dekat bandara Baghdad.
Raisi: Iran Prioritaskan Peningkatan Hubungan dengan Negara Tetangga
Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi menyatakan Republik Islam memprioritaskan hubungan dengan negara tetangga, tapi ada pihak asing yang berusaha merusaknya.
Kantor penerangan kepresidenan Iran melaporkan, Presiden Raisi dalam rapat kabinet hari Minggu (26/12/2021) mengatakan, "Ketika pemerintah fokus untuk memperluas interaksi ekonomi dengan negara-negara tetangga dan telah berhasil ke arah ini, pihak tertentu berusaha menyabot hubungan Iran dengan tetangga,".
"Berdasarkan data statistik, ekspor non-minyak Iran telah meningkat sekitar 40 persen tahun ini dibandingkan tahun lalu," ujar Raisi.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Amir-Abdollahian menegaskan perluasan hubungan dengan negara tetangga sebagai prioritas kebijakan luar negeri Republik Islam Iran.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC mengatakan, hari ini rezim Zionis Israel dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, berada di level terendah, dan tidak punya kemampuan lain selain bicara.
Brigadir Jenderal Ramezan Sharif, Selasa (28/12/2021) menuturkan, "Hari ini rezim Zionis tidak punya kekuatan selain berbicara, dan ini berkat darah syuhada, dan perlawanan rakyat."
Ia menambahkan, "Kami sudah semakin dekat ke puncak akhir, dan tidak perlu menghiraukan kata-kata yang dikeluarkan oleh musuh."
Menurut Brigjen Sharif, musuh bermaksud membuat prestasi-prestasi Iran luntur, dan membesar-besarkan kekurangan Iran, dan ini merupakan bukti permusuhan kontinu mereka terhadap Revolusi Islam Iran.
Jubir IRGC menjelaskan, ketika rudal canggih Amerika Serikat berhasil dijatuhkan oleh rudal buatan pemuda-pemuda Iran, saat itu dunia baru menyadari kekuatan Iran.
"Saat musuh menyadari kekuatan Iran, maka dalam perundingan ia tidak akan berani berbuat macam-macam, mengambil apa pun yang diinginkan, lalu pergi seenaknya, tapi jika sebuah negara lemah dalam melindungi keamanan rakyatnya, maka ia akan terpaksa berunding, dan hasilnya tidak lain adalah kekalahan dan kehinaan," pungkasnya.
Brigjen Pakpour: Angkatan Bersenjata Iran Lebih Kuat dari Sebelumnya
Komandan Angkatan Darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Mohammad Pakpour menyatakan saat ini Korp Garda Revolusi Islam dan angkatan bersenjata Republik Islam lebih kuat dari sebelumnya.
Brigadir Jenderal Mohammad Pakpour hari Rabu (29/12/2021) mengatakan, "Musuh mengamati, memahami serta mempertimbangkan kekuatan dan kemampuan Republik Islam dalam kalkulasinya. Mereka tahu Republik Islam adalah negara yang kuat,".
"Sekarang kemampuan rudal Iran berada di deretan pertama kekuatan dunia. Pasukan Iran sangat kuat di darat, laut dan udara," ujar Brigjen Pakpour.
"Meskipun menghadapi berbagai permusuhan dari kekuatan arogan global, tapi di dalam negeri ada ketentraman. Musuh tidak akan pernah menghentikan permusuhannya, selama kita tidak mundur dari prinsip-prinsip revolusi, dan itu tidak akan pernah bisa mereka capai,"tegasnya.
Iran Luncurkan Roket Simorgh Bawa Tiga Perangkat Penelitian ke Orbit
Juru Bicara Kementerian Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran untuk Divisi Antariksa, Sayid Ahmad Hosseini mengumumkan keberhasilan peluncuran tiga perangkat penelitian dengan menggunakan roket pembawa satelit, Simorgh
Roket pembawa satelit Iran, Simorgh mampu meluncurkan satelit dengan berat hingga 250 kilogram ke dalam orbit 500 km.
"…. Roket pembawa satelit, Simorgh, memiliki berat sekitar lima kali lebih besar, dari 50 kg menjadi 250 kg, dan ketinggiannya juga dibuat 2 kali lebih tinggi dari 250 km menjadi 500 km, dibandingan generasi sebelumnya. Ini adalah prestasi besar," kata Sayid Hosseini Kamis (30/12/2021) pagi.
Dia menambahkan, dalam misi penelitian antariksa, untuk pertama kalinya, tiga perangkat riset dikirim secara bersamaan pada ketinggian 470 kilometer dan dengan kecepatan 7.350 meter per detik dari the Imam Khomeini Space Center di Semnan.
"Roket Simorgh yang membawa satelit berhasil meluncurkan tiga perangkat ke luar angkasa," jelasnya seperti dilaporkan kantor berita Fars.
Mengenai kinerja satelit Simorgh, Hosseini menuturkan bahwa dalam peluncuran ini, kinerja komponen pangkalan luar angkasa dan kinerja setiap tahap roket pembawa satelit bekerja dengan benar.
"Ini (Simorgh) bisa memindahkan (mengirim) satelit berat ke orbit, dan juga mengirim beberapa satelit kecil seperti satelit yang ada di roket pembawa satelit Safir yang kita punyai. Jadi beberapa satelit kecil itu dikirim secara bersamaan dalam satu kali peluncuran dengan roket pembawa satelit Simorgh," jelasnya.
Sayid Hosseini menuturkan, langkah-langkah efektif telah diambil, Insya Allah dalam waktu dekat, roket pembawa satelit ini akan dioperasikan secara resmi.
"Kami, sebenarnya, hingga sekarang belum mencapai persetujuan. Kami belum memasang satelit yang mahal di roket pembawa satelit ini. Saya sudah katakan, (kami hanya mengirim) tiga perangkat penelitian dengan harga murah. Kami telah mencapai sekitar 100 persen dari tujuan yang diinginkan dalam peluncuran ini, dan kami telah sampai pada titik, yang Insya Allah dalam waktu dekat, setelah pekerjaan pendahuluannya selesai, pekerjaan utama akan dilakukan, dan satelit operasional yang diinginkan oleh pembuat satelit akan dioperasikan, dan Insya Allah, satelit itu akan diluncurkan dengan roket pembawa satelit ini," pungkasnya.