Peringati Bi'tsah, Dubes Negara-Negara Muslim Bertemu Rahbar
-
Rahbar dan Dubes Negara-negara Muslim dan Peserta MTQ Internasional, Sabtu (18/2/2023).
Duta Besar (Dubes) dari negara-negara Islam dan Muslim dunia serta peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
Pertemuan yang berlangsung di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran itu berlangsung pada hari Sabtu (18/2/2023).
Pertemuan ini juga dalam kerangka memperingati Bi'tsah (pengangkatan Rasulullah Muhammad Saw sebagai utusan Allah SWT) yang jatu pada tanggal 27 Rajab 1444 H.
Ayatullah Khamenei menyampaikan ucapan selamat kepada semua warga Iran dan Muslim di seluruh penjuru dunia.
Ayatullah Khamenei mengatakan, tidak ada karunia sebesar Bitsah Nabi Muhammad Saw. Sebab diutusnya Nabi agung ini membawa misi luhur bagi umat manusia. Bi'tsah Nabi sebagai harta karun yang tidak akan pernah habis. Sebab memberikan kebahagiaan sejati bagi manusia dalam kehidupannya sendiri di dunia ini sampai akhirat.
"Jika negara-negara Muslim mengikuti ajaran Bitsah ini, rezim agresor Zionis tidak akan bisa melakukan kekejaman dan kejahatan terhadap bangsa Palestina. Tentu saja, bangsa Iran dan negara-negara Muslim akan tetap menjalankan tanggung jawabnya," kata Ayatullah Khamenei dalam pidatonya.
Rahbar menambahkan, sangat disayangkan, pemerintah yang wajib membantu bangsa Palestina sendiri setuju dengan Iranofobia musuh Islam.
Ayatullah Khamenei menyebut isu Palestina sebagai isu yang termasuk menjadi kelemahan dan luka penting umat Islam.
"Sebuah bangsa dan negara di depan mata penduduk dunia Islam telah mengalami penindasan tanpa henti oleh rezim yang brutal, jahat dan sadis setiap hari, dan negara-negara Muslim dengan segala kekayaan, kapasitas dan kemampuan ini hanya menonton, dan bahkan beberapa negara tersebut, terutama belakangan ini, mereka mengiringi rezim haus darah itu," paparnya.
Rahbar menuturkan, situasi sampai pada tahap di mana Amerika Serikat, Prancis dan sejumlah negara lain, dengan klaim menyelesaikan kesulitan dan kendala umat Islam, menganggap dirinya berhak untuk ikut campur di dunia Islam, sementara mereka sendiri tidak mampu menyelesaikan kesulitan dan mengelola negaranya sendiri.
Ayatullah Khamenei menegaskan, jika sejak hari pertama pemerintah Islam mendengarkan nasihat baik termasuk ulama besar Najaf, dan melawan dengan tegas rezim penjajah, maka hari ini pastinya kondisi kawasan Asia Barat akan berbeda, dan umat Islam semakin bersatu serta kian kuat dari berbagai sisi.
Rahbar juga menyayangkan dan merasa sedih atas bencana besar gempa bumi terbaru di Turki dan Suriah yang menimbulkan korban besar.
Masalah Palestina dan perjuangan untuk membebaskannya dari cengkeraman rezim Zionis menjadi salah satu isu utama dan sering ditegaskan dalam pernyataan Pemimpin Besar Revolusi Islam dan salah satu agenda terpenting Republik Islam Iran.
Iran selama ini menjadi pendukung utama perjuangan rakyat Palestina, bahkan menjadi salah satu prioritas dalam kebijakan luar negeri Republik Islam Iran.
Menurut Pasal 154 Undang-Undang Dasar Iran, "Republik Islam Iran memandang kebahagiaan masyarakat seluruh umat manusia sebagai cita-citanya dan mengakui hak semua orang untuk merdeka, bebas, dan memerintah dengan keadilan. Oleh karena itu, bersamaan dengan upaya menahan diri dari campur tangan dalam urusan internal bangsa lain, Republik Islam Iran tetap mendukung perjuangan yang sah kalangan tertindas melawan yang kubu arogan di seluruh penjuru dunia."
Berdasarkan konstitusi, Republik Islam Iran membela hak-hak bangsa Palestina dan perlawanannya terhadap pendudukan Zionis, serta menyerukan dukungan publik regional dan internasional untuk mengakui hak-hak sah bangsa Palestina demi membela dirinya.
Sementara itu, beberapa rezim Arab dan Islam dalam beberapa tahun terakhir mengabaikan masalah pendudukan tanah Palestina oleh rezim Zionis, dengan mengamini kebijakan Amerika Serikat melalui normalisasi hubungan dengan Israel.
Padahal sejarah rezim zionis dalam melakukan pendudukan dan praktik-praktik yang tidak manusiawi, terutama terhadap bangsa Palestina, secara jelas telah menunjukkan bahwa rezim agresor ini tidak mengupayakan hubungan damai dengan negara-negara Muslim dan bertujuan untuk melemahkan masyarakat Islam serta kelangsungan pendudukan dan ekspansionisme.
Faktanya, dunia Islam belum berada pada posisi yang benar dan layak bagi umat Islam, karena kurangnya persatuan dan juga persekongkolan musuh. Padahal, negara-negara Muslim memiliki sumber kekayaan yang sangat besar dan memiliki banyak komponen kekuatan bersama. Negara-negara Islam saat ini belum mampu mengambil posisi yang sama dan efektif terhadap isu Palestina sebagai masalah pertama dunia Islam. (RA)















