Dari Impian Menjadi Presiden hingga Terbang dalam Kesunyian Malam
https://parstoday.ir/id/news/iran-i177184-dari_impian_menjadi_presiden_hingga_terbang_dalam_kesunyian_malam
Rumah keluarga Khorami di Jalan Patrice Lumumba merasakan malam 11 Juni yang panas, sebuah rudal mendarat di kegelapan dan memecah kesunyian malam. Gelombang ledakan meruntuhkan dinding unit di sebelahnya dan bangunan itu pun runtuh menimpa Amir Ali dan Amir Mohammad Khorami.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Sep 20, 2025 14:23 Asia/Jakarta
  • Dari Impian Menjadi Presiden hingga Terbang dalam Kesunyian Malam

Rumah keluarga Khorami di Jalan Patrice Lumumba merasakan malam 11 Juni yang panas, sebuah rudal mendarat di kegelapan dan memecah kesunyian malam. Gelombang ledakan meruntuhkan dinding unit di sebelahnya dan bangunan itu pun runtuh menimpa Amir Ali dan Amir Mohammad Khorami.

Amir Mohammad berhasil ditarik keluar lebih cepat, tetapi puing-puing yang lebih parah menimpa tubuh Amir Ali yang berusia 13 tahun; tanah dan pecahan tembok menghalangi napasnya dan membuka jalan menuju langit baginya.

Amir Ali Khorami adalah seorang remaja berusia 13 tahun yang gugur dalam serangan langsung rezim Zionis terhadap rumah ilmuwan nuklir Dr. Zolfaqari, yang tinggal di sebelah rumah mereka.

Shahla Iraqianfar, ibu dari Amir Ali Khorami, seorang martir, bercerita tentang malam yang menyakitkan ketika putra remajanya gugur: “Pada malam kejadian, sekitar pukul 3 pagi, kami mendengar suara yang mengerikan. Intensitas ledakan begitu dahsyat sehingga kamar putra saya hancur dan Amir Mohammad serta Amir Ali terkubur di bawah reruntuhan.

 

Kami mendengar Amir Mohammad meminta bantuan. Istri saya berjuang keras untuk membuka pintu kamar yang tertutup reruntuhan dan berhasil mengeluarkannya dengan cepat. Namun, karena Amir Ali terbaring di dinding, lebih banyak puing dan tanah berjatuhan menimpanya; itulah sebabnya kami membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mengeluarkannya. Anak saya sudah tidak bernapas lagi. Tidak ada luka atau goresan pada Amir Ali.

Kami menyerahkan jenazahnya kepada petugas pemadam kebakaran untuk dikeluarkan dari gedung. "Para petugas telah memberi tahu istri saya bahwa karena jenazahnya masih hangat, kami mungkin dapat menyadarkannya dan menghidupkannya kembali. Amir Ali telah dibawa ke Rumah Sakit Rasul Akram (saw), namun bukan di tempat tidur pasien, melainkan di kamar jenazah.

Perpisahan Berkesan dan Istimewa untuk Ibu

Ibu sangat terikat dengan ucapan selamat tinggal setiap hari; sebuah ritual kecil yang sangat berarti baginya,"Setiap pagi ketika Amir Ali berangkat sekolah, ia akan berdiri di pintu dan menggambar hati di udara di dalam kabin lift, lalu menciumku.

Itu adalah ritual harian di antara kami yang menenangkan hatiku." Sebuah perpisahan kekanak-kanakan yang kini dilakukan ibu Amir Ali. Setiap kali ia pergi ke Plot 42, ia menggambar hati di makam putranya dan memberikan ciuman lembut di batu nisannya yang dingin. Sang ibu menggambarkan hubungan dekat kedua bersaudara itu: "Mereka adalah teman dan teman bermain; dari bola tangan hingga bersepeda dan gim daring. Semangat hidup telah menjadikannya remaja yang riuh, yang ketidakhadirannya kini membutakan seisi rumah."

Mimpi Besar

Amir Ali adalah seorang remaja yang penuh energi dan mimpi besar. Dulu ia ingin menjadi pemain sepak bola, lalu aktor, dan dalam mimpinya, ia membayangkan dirinya sebagai calon presiden. Ibu Shahid bercerita tentang impian Amir Ali: "Dia selalu bilang ingin jadi presiden. Dia bilang hal pertama yang akan dia lakukan adalah membuat rakyat hidup sejahtera, mengurangi biaya hidup.

Dia punya banyak rencana untuk musim panasnya. Dia menyukai barang-barang lama dan menyimpan semuanya; mulai dari PS2 tua hingga gaun bayi rajutan yang dirajut neneknya untuknya dan ingin dia tunjukkan kepada anaknya. Dia baru saja mengetahui bahwa ada jurusan pengembangan gim komputer di universitasnya dan dia bersikeras untuk kuliah di bidang ini. Dia punya mimpi dan rencana untuk setiap menit dalam hidupnya."(PH)