Syahid Bersama Ayah: Mohammad Hossein, Sang Pengembara Abadi Langit
https://parstoday.ir/id/news/iran-i179824-syahid_bersama_ayah_mohammad_hossein_sang_pengembara_abadi_langit
Dalam kegelapan malam saat serangan udara rezim Zionis ke Iran, Mohammad Hossein, remaja yang sangat mencintai ayahnya, menyusul sang ayah menuju langit keabadian.
(last modified 2025-11-08T05:23:09+00:00 )
Nov 08, 2025 12:19 Asia/Jakarta
  • Syahid Bersama Ayah: Mohammad Hossein, Sang Pengembara Abadi Langit

Dalam kegelapan malam saat serangan udara rezim Zionis ke Iran, Mohammad Hossein, remaja yang sangat mencintai ayahnya, menyusul sang ayah menuju langit keabadian.

Malam Terakhir Bersama Ayah

“Tiba-tiba terdengar ledakan keras. Kami berdua terbangun. Suamiku bergegas ke ruang tamu, lalu gelombang ledakan kedua menghantamku hingga terpental. Saat tersadar, rumah sudah dipenuhi debu dan abu, dan ruang tamu kami berubah menjadi kawah besar...”Demikian kisah kesyahidan Mohammad Hossein Khaki, pelajar remaja yang gugur dalam Perang 12 Hari di Teheran, seperti dituturkan ibunya, Reyhaneh Khaki, kepada Hamshahri Online.

Reyhaneh memulai ceritanya dari beberapa jam sebelum serangan:

“Malam itu aku menyuruh Mohammad Hossein tidur di kamarnya. Tapi dia bilang ingin menonton televisi dan harus mengatur acara perayaan Idul Ghadir bersama teman-temannya, jadi ia tidur di ruang tamu. Kalimat terakhirku padanya: ‘Jangan lupa matikan lampu sebelum tidur.’ Aku tak tahu jam berapa dia akhirnya tertidur.Suamiku, Mohammad, biasa bangun untuk salat malam. Pagi itu ia bangun, salat Subuh, dan membaca Al-Qur’an. Ia sempat hendak membangunkan Mohammad Hossein untuk salat, tapi urung, berkata akan membangunkannya nanti. Lalu, tiba-tiba ledakan besar mengguncang rumah...”

Gelombang kedua melemparkannya ke kamar anak perempuannya.

“Begitu sadar, aku memanggil-manggil suami dan anakku, tapi tak ada jawaban. Rumah hancur, debu menutupi segalanya. Kami diselamatkan oleh warga sekitar. Tanpa sadar aku berjalan ke makam dua syuhada tak dikenal di kompleks kami untuk memohon pertolongan.”

Teman dan Penumpang Abadi

Mohammad Hossein dikenal sangat dekat dengan ayahnya; ke mana pun ayahnya pergi, ia selalu menemani. Kedekatan itu pun berlanjut hingga ke liang syahadah.

Reyhaneh mengenang:

“Untuk mengidentifikasi jenazah suamiku, aku tidak diizinkan melihat langsung. Saat Idul Ghadir, menjelang azan Magrib, adikku mengenali pakaian suamiku, lalu jasadnya dibawa ke Ma’raj as-Syuhada. Tapi jenazah Mohammad Hossein baru ditemukan beberapa hari kemudian.Tiga minggu sebelum syahid, keduanya sempat mewarnai kaki mereka dengan henna. Tanda itulah yang membantu identifikasi jasad Mohammad Hossein. Gigi bagian atasnya juga memiliki kawat gigi — dan adikku mengenalinya dari ciri itu. Meskipun uji DNA sempat menunjukkan hasil negatif, akhirnya dipastikan bahwa jasad itu memang putraku. Kini, suamiku dan anakku dimakamkan berdampingan di taman makam syuhada di Qom.”

Anak 13 Tahun dengan Jiwa yang Dewasa

Reyhaneh menggambarkan putranya sebagai anak yang lebih dewasa dari usianya:

“Sejak kecil, perilakunya selalu matang. Pernah suatu kali ia memintaku membantu mengadakan majelis doa kecil bersama teman-temannya, dan acaranya berlangsung sangat baik. Ia anak yang aktif, tekun, dan sangat menghormati guru serta orang yang lebih tua.”

Selain berprestasi di bidang akademik, Mohammad Hossein juga memiliki sabuk dan gelar nasional dalam olahraga karate.Ia meraih juara pertama cabang madah (lantunan religius) dalam Kompetisi Al-Qur’an dan Ahlulbait ke-42 tahun 1403, serta juara ketiga pada tahun-tahun 1401 dan 1402.

Mohammad Hossein, remaja 13 tahun yang penuh semangat, kini telah menjadi penumpang abadi langit, bersama sang ayah — dua jiwa yang tak terpisahkan, di dunia dan di surga.(PH)