Biaya Kekerasan terhadap Wanita Capai $1,5 Triliun
-
Stop kekeraan terhadap wanita
ParsToday – Seminar ilmiah Universitas Tehran mengungkap kekerasan terhadap wanita menelan biaya 1,5 triliun dolar AS per tahun. Para pakar menekankan perlunya mendefinisikan ulang wacana hijab dengan pendekatan ilmiah.
Melaporkan dari FNA, ParsToday pada Rabu, 18 Februari 2026, Hamzeh Mansouri, Kepala Pusat Keluarga dan Pernikahan Universitas Tehran serta Wakil Koordinator Lembaga Kepemimpinan di Universitas Tehran, dalam seminar ilmiah elit tentang kajian kesucian dan hijab dari perspektif neurologi, biologi, dan psikologi sosial, menekankan perubahan sikap generasi muda terhadap literatur tradisional di bidang isu-isu sosial.
Ia mengatakan, "Generasi muda dan remaja saat ini tidak lagi sejalan dengan literatur yang bersifat umum, instruktif, dan berbasis ancaman. Jika kita ingin berbicara tentang hijab dan isu-isu terkait wanita, kita harus menghadirkan model wacana baru yang didasarkan pada ilmu pengetahuan empiris dan penelitian global yang kredibel."
Mansouri merujuk pada hasil penelitian interdisipliner selama empat tahun dan menambahkan, "Dalam penelitian ini, lebih dari 20 ribu sumber ilmiah di bidang kedokteran, psikologi, studi wanita, dan ilmu sosial telah dikaji. Sebagian dari sumber ini diterjemahkan secara khusus untuk pertama kalinya di Iran."
Wakil Koordinator Lembaga Kepemimpinan di Universitas Tehran, merujuk pada studi internasional, mengumumkan bahwa meskipun ada klaim luas tentang kebebasan sosial, pelecehan dan kekerasan seksual merupakan tantangan terbesar wanita di dunia. Biaya tahunan masalah ini diperkirakan mencapai sekitar 1,5 triliun dolar AS.
Dimensi Sosial dan Psikologis Kekerasan terhadap Wanita
Kepala Pusat Keluarga dan Pernikahan Universitas Tehran, mengutip laporan Badan Hak Fundamental Uni Eropa (FRA), mengatakan, "Sekitar 50 persen wanita Belanda setelah usia 15 tahun setidaknya sekali seumur hidup mengalami pelecehan atau kekerasan seksual. Delapan puluh tiga persen wanita muda Eropa membatasi kebebasan bergerak atau kehadiran mereka di ruang publik demi menjaga keamanan diri."
Mansouri menegaskan bahwa konsekuensi kekerasan seksual meliputi depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma, penurunan konsentrasi, penurunan harga diri, dan bunuh diri. Ia menambahkan, "Tiga puluh tiga persen wanita yang mengalami kekerasan seksual pernah berpikir untuk bunuh diri, dan sekitar 13 persen telah melakukan percobaan bunuh diri."
Mansouri menyebut akar fenomena ini dalam teori "objektifikasi wanita". "Lelucon seksual, pandangan instrumental, komentar dan pesan tidak pantas di media sosial telah mengubah wanita menjadi objek dan berujung pada kekerasan seksual," jelasnya.
Ia melanjutkan dengan merujuk pada seksualisasi anak perempuan di media, sinema, animasi, dan olahraga. "Tubuh wanita menggantikan identitas kemanusiaannya. Proses ini, terutama pada remaja dengan harga diri rendah, meninggalkan dampak psikologis serius."
Mansouri menegaskan bahwa isu wanita dan hijab bukan sekadar persoalan fikih atau hukum, tetapi tantangan ilmiah, psikologis, dan sosial global yang harus dikemukakan dengan bahasa ilmu pengetahuan dan data empiris.
Kepala Pusat Keluarga dan Pernikahan Universitas Tehran, merujuk pada kesenjangan antara citra media tentang kebebasan wanita dan realitas kehidupan mereka, mengatakan, "Jika kesenjangan ini tidak dilihat, kekerasan seksual sebagai krisis senyap akan terus terulang kembali."(sl)