Drone Arash; Drone Pembunuh Iran Menghadapi AS dan Zionis
-
Drone Arash; Drone Pembunuh Iran Menghadapi AS dan Zionis
Pars Today – Setelah serangan terbaru Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai tindakan balasan telah memulai Operasi “Janji Sejati 4” terhadap posisi-posisi musuh.
Menurut laporan Pars Today, menyusul serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam dengan partisipasi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran memulai operasi balasan “Janji Sejati 4”, yang hingga kini telah mencapai 52 tahap dengan menggunakan berbagai jenis rudal balistik dan berbagai drone, termasuk drone penghancur Arash.
Iran, dalam upaya mengembangkan berbagai jenis drone dengan ukuran, dimensi, dan misi yang berbeda, selama beberapa tahun terakhir telah mencapai teknologi drone penghancur (loitering munition). Drone-drone penghancur tersebut telah dipamerkan dalam berbagai latihan militer yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam dan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran.
Salah satu drone penghancur yang sangat efektif dan memiliki kemampuan tinggi adalah drone penghancur Arash. Dengan diperkenalkannya drone penghancur dan penekan radar Arash oleh Angkatan Bersenjata dalam latihan militer Januari 2021 (Dey 1399) yang memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer, Republik Islam Iran mencatat rekor dunia baru dalam bidang drone khusus dan modern atas namanya.
Drone Arash, yang merupakan drone penghancur sekaligus anti‑radar, dikenal sebagai drone penghancur dengan jangkauan terjauh di dunia. Drone ini lebih maju dibandingkan drone sejenis dari luar negeri dan memiliki kemampuan operasional yang signifikan.
Tinjauan Umum
Drone Arash, yang dikenal sebagai drone penghancur (loitering munition) untuk menargetkan radar sistem pertahanan udara musuh, memiliki kemampuan melakukan serangan presisi terhadap titik‑titik sensitif dan vital milik musuh.
Drone Arash merupakan versi pengembangan dari seri drone Kian. Dari segi bentuk, tampilan, dan ukuran, drone ini sangat mirip dengan drone Kian‑2. Pada dasarnya, Arash dikembangkan berdasarkan seri Kian, yang memiliki dua anggota dalam keluarganya.
Anggota pertama adalah Kian‑1, yang pada tahun 2014 (1393 kalender Persia) mulai digunakan dalam organisasi tempur Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran dengan misi sebagai target terbang untuk pengujian sistem radar.
Sementara itu, Kian‑2 mulai beroperasi pada tahun 2020 (1398 kalender Persia) dengan misi anti‑intersepsi dan serangan terhadap target darat dalam bentuk drone penghancur. Dibandingkan model awal, ukurannya jauh lebih besar. Berdasarkan informasi yang diumumkan, Kian‑2 memiliki jangkauan lebih dari 1.000 kilometer dan diperkirakan menggunakan booster bahan bakar padat serta mesin turbojet.
Dari segi ukuran dan tampilan, drone Arash hampir sama dengan Kian‑2, tetapi terdapat perbedaan penting di antara keduanya. Selain berfungsi sebagai drone penghancur, Arash juga memiliki kemampuan untuk menekan sistem pertahanan udara musuh (SEAD). Informasi rinci mengenai sistem yang menyertainya belum dipublikasikan, namun tampaknya drone ini dilengkapi penerima gelombang radar, sehingga dapat mendeteksi radar musuh dan menyerangnya dengan sistem pencari sumber radar (radar‑homing). Berbeda dengan seri Kian, drone Arash menggunakan mesin baling‑baling (propeller).
Dalam latihan drone besar pertama Angkatan Darat Iran pada Januari 2021, drone penghancur Arash diluncurkan dari pantai Makran, kemudian setelah menempuh jarak sekitar 1.400 kilometer, berhasil mengenai targetnya di wilayah latihan di Provinsi Semnan. Dalam latihan tersebut, drone Arash diluncurkan dari kontainer yang dapat dipasang pada kendaraan komersial, yang meningkatkan mobilitas dan kemampuan penyembunyian saat pemindahan.
Setelah uji coba yang sukses ini, Laksamana Amir Mousavi, Wakil Operasi dan juru bicara latihan besar drone Angkatan Darat tahun 2021, menyatakan bahwa dengan upaya para peneliti dan personel militer Iran, jangkauan operasional drone penghancur milik Angkatan Darat secara berkelanjutan telah ditingkatkan hingga 2.000 kilometer. Mencapai angka 2.000 kilometer pada drone penghancur/anti‑radar menjadikan Republik Islam Iran sebagai pemilik drone jenis ini dengan jangkauan terjauh di dunia.
Dalam Latihan Zolfaghar 2022 (1400 kalender Persia) juga, dalam sebuah operasi yang cepat dan presisi, drone bunuh diri Arash milik Angkatan Darat menempuh jarak jauh dari titik peluncuran dan mengenai titik yang telah ditentukan, menunjukkan tingkat akurasi drone Iran di medan tempur.
Spesifikasi Drone Arash
Dengan mempertimbangkan kesamaan struktur antara drone Kian‑2 dan drone Arash, panjang drone Arash diperkirakan sekitar 4,5 meter, dengan panjang sayap sekitar 3,5 hingga 4 meter.
Bentuk sayapnya dirancang agar sesuai untuk penerbangan pada kecepatan subsonik (di bawah kecepatan suara).
Sayap drone Arash berjenis delta wing, yang secara umum digunakan untuk penerbangan berkecepatan tinggi.
Berkat desain ini, drone Arash dapat mempertahankan bahan bakar lebih lama, sehingga mampu terbang menempuh jarak yang lebih jauh.
Untuk memperoleh kecepatan awal guna menyalakan mesin dan memulai penerbangan, drone Arash menggunakan booster bahan bakar padat.
Perbedaan utama antara mesin Arash dan drone dari seri Kian adalah bahwa Arash memakai mesin baling‑baling (propeller engine), yang menghasilkan suara khas saat diaktifkan.
Drone Arash dilengkapi dengan sistem penerima gelombang radar, dan bersama dengan kemampuan radar‑homing (penguncian arah sumber sinyal radar), drone ini memiliki kemampuan serangan presisi terhadap target (point‑strike capability).
Fitur penting lainnya adalah kemampuan peluncuran dari peluncur berbentuk kotak yang dipasang di bagian belakang truk.
Drone Arash tidak hanya dapat diluncurkan dari platform yang dipasang di kendaraan pengangkut seperti seri Karrar, tetapi juga dari peluncur kotak berposisi di belakang truk.
Kemampuan ini membuat drone lebih sulit dideteksi.
Kombinasi antara mobilitas tinggi pembawanya dan sistem peluncuran yang tersembunyi secara drastis meningkatkan tingkat survivabilitas (kemampuan bertahan).
Mekanisme peluncuran semacam ini juga mudah dipasang pada berbagai jenis kapal Angkatan Laut, baik milik Angkatan Darat maupun Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sehingga menjadi keunggulan strategis dalam misi tempur.
Jenis peluncuran ini juga mengurangi peluang deteksi oleh sistem pengawasan musuh.
Selain itu, drone ini dapat diluncurkan dari berbagai lokasi, baik dari darat maupun dari laut, untuk menghancurkan target.
Salah satu karakteristik unik drone Arash adalah kemampuannya untuk menghancurkan target tetap maupun target bergerak di permukaan air, sehingga drone ini memiliki kapabilitas anti‑kapal (anti‑ship capability).
Secara umum, rudal anti‑radar juga dapat digunakan sebagai senjata anti‑kapal, dengan cara mengunci radar milik kapal perang, karena kecepatan kapal relatif rendah.
Drone penghancur dan anti‑radar lain memang memiliki kemampuan serupa, tetapi karena kepala peledak (warhead) mereka kecil, efektivitasnya terbatas untuk misi tersebut.
Namun, drone penghancur/anti‑radar Arash mampu menimbulkan kerusakan yang jauh lebih besar pada kapal musuh.
Terakhir, salah satu spesifikasi terpenting drone Arash adalah jangkauan operasionalnya, yang jauh lebih panjang dibandingkan drone Kian, yakni mencapai 2.000 kilometer. (MF)