Doktor Fathimah Thabathabai Mengisahkan Tentang Imam Khomeini (7)
-
Imam Khomeini ra
Kami juga melihat bahwa Imam Khomeini benar-benar menganggap penting masalah doa. Khususnya terkait munajat Sya’baniyah. Beliau menyebutkan masalah ini dengan berbagai topik dan dalil dalam pembicaraannya. Beliau berkata:
“Munajat Sya’baniyah adalah salah satu doa yang dibaca oleh semua maksum.”
Terutama ketika sampai pada kalimat ini, maka wajahnya berubah, “Ilahi Hab Li Kamalal Inqitha’i Ilaika.”
Pada hakikatnya, pandangan beliau adalah dalam ibadah, dalam cinta dan kasih sayang, penghambaan, perlu adanya Kamalul Inqitha. Yakni pecinta hakiki ingin sampai pada yang Zat dicintainya. Yakni kelaziman l Inqitha seperti ini. Pada dasarnya, ini adalah membakar diri. Yaitu keluar, dan terputus dari diri, menyatu, menuju kepadanya, dan kekal dalam kekekalannya dan menjadi fana dari dirinya sendiri. Oleh karena itu beliau berkata:
“Aku terbakar bak kupu-kupu di atas lilin seumur hidup
Hilang bak orang yang mabuk di atas kebaikannya.”
Kesimpulannya, menurut Imam Khomeini, cinta hakiki hanya cinta kepada Allah dan perangkat cinta ini adalah ibadah dan waktunya menjelaskan cinta ini adalah di pertengahan malam dan tempatnya cinta ini adalah hati.
Ketika kami di Najaf bersama beliau, mata beliau sakit. Setelah dokter memeriksanya, berkata kepada beliau, “Anda jangan membaca al-Quran dalam waktu beberapa hari dan istirahatkan mata Anda.”
Imam tertawa dan berkata:
“Dokter! Aku menginginkan mataku untuk membaca al-Quran. Apa faedahnya aku punya mata tapi tidak membaca al-Quran? Anda lakukan sesuatu sehingga aku bisa membaca al-Quran.”
Salah seorang dokter Qom menukil bahwa, ketika dikabarkan bahwa Imam Khomeini sakit jantung, saya langsung mendatanginya dan memeriksa tekanan darah beliau. Alat periksa menunjukkan angka lima dan ini menurut kedokteran sangat berbahaya. Saya melakukan pertolongan pertama dan setelah dua jam kondisinya membaik, tapi pada saat yang sama masih berbahaya bila bergerak. Saya melihat Imam Khomeini mau bergerak. Saya katakan, “Imam! Mengapa Anda bangkit? Beliau berkata, “Saya mau salat! Saya katakan, “Anda seorang mujtahid dalam bidang fikih dan saya dalam bidang kedokteran. Menurut fatwa saya, bergerak bagi Anda hukumnya haram! Sebaiknya Anda salat dengan tidur. Beliau pun mengamalkan pendapat saya dengan detil.”
Masalah lainnya yang sangat diperhatikan oleh Imam Khomeini adalah masalah salat di awal waktu. Beliau menukil sebuah hadis dari Imam Shadiq as bahwa bila seseorang meremehkan salatnya, maka ia tidak mendapatkan syafaat dari beliau.” Sekali saya katakan kepada beliau, “Meremehkan salat mungkin bermakna bahwa seseorang terkadang mengerjakan salatnya dan terkadang tidak mengerjakannya.”
Beliau berkata:
“Tidak. Kalau ini dosa. Maksud Imam Shadiq adalah ketika tiba waktunya Zuhur dan seseorang tidak mengerjakan salat di awal waktu, pada hakikatnya dia telah mendahulukan yang lainnya.”
Dengan satu contoh, masalah ini bagi saya menjadi gamblang. Ketika kami mau keluar melalaui pintu, kami mempersilahkan yang lebih tua untuk keluar terlebih dahulu. Bila kami tidak mengutamakan yang lebih besar, pada hakikatnya kita telah mengutamakan yang lebih kecil. Meremehkan salat juga bermakna demikian.
Imam Khomeini juga punya pembahasan terpisah tentang ta’abbud [peribadatan] dan ketaatan yang perlu dianalisa secara benar sehingga inti permasalahan bisa dipahami. Bila kalian memperhatikan makna fatwa-fatwa Imam Khomeini dengan detil, kalian akan melihat bahwa beliau memberikan sisi spiritual pada semua perintah agama. Bukan berarti hanya memperhatikan sisi spiritualnya saja dan mengesampingkan makna lahiriyahnya. Imam Khomeini menganggap penting dua-duanya. Menurut beliau, syariat memiliki sisi lahiriyah yang perlu dan harus dilaksanakan dan pada saat yang sama memiliki kedalaman inti yang juga harus diperhatikan.
Dalam salah satu karyanya beliau mengatakan:
“Ibadah adalah sebuah pintu yang dibuka oleh Allah karena rahmat-Nya. Yakni, misalnya terkait salat, kita bisa mensyukurinya karena telah memberikan pelajaran dan izin kepada kita untuk mengerjakan salat.”
Pada hakikatnya beliau memandang salat dengan pandangan ini:
“Kita ini tidak sempurna, dan setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh orang yang tidak sempurna adalah tidak sempurna. Untuk itu, tidak termasuk dalam bingkai Wajib, yaitu Allah. Yakni tidak ada jalan untuk ke lingkup Dia. Oleh karena itu, ketika kita melakukan salat, jangan pernah berpikir apa yang telah kita lakukan. Lalu, bagaimana seseorang yang tidak sempurna ingin bersambung dengan yang Maha Sempurna? Ini adalah sebuah pintu yang dibuka oleh Allah karena rahmat-Nya dan pintu itu adalah ibadah dan salat. Dengan salat, manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah melalui pintu-Nya. Lihatlah surat Fatihah; memangnya akal kita bisa mengatakan pujian seperti ini dan lanjutannya? Tapi Allah-lah yang membuatnya dengan bahasa kita dan mengajarkannya dan mengatakan bahwa ketika kalian ingin berbicara dengan-Ku, maka berbicaralah demikian. Bila kalian memperhatikan doa-doa yang ada, semuanya ya seperti ini.”
Imam Khomeini mengatakan:
“Bila kalian mau detil, kalian akan melihat bahwa tidak satu pun dari kata-kata yang ada di dalam doa itu bisa kita katakan. Yakni kita tidak punya keberanian untuk mengatakan satu pun dari kata-kata yang ada dalam doa. Kecuali karena rahmat dan kasih sayang-Nya yang diajarkan kepada kita, sehingga melalui jalan itu kita bisa naik ke atas.”
Imam Khomeini terkait bulan Ramadan yang merupakan perjamuan Allah, mengatakan:
"Ini adalah sebuah perjamuan umum dan undangan dari Allah. Ini juga dari Allah. Nikmat dan rahmat yang diberikan kepada makhluk yang lemah dan hina supaya dia bisa menarik dirinya ke atas.”
Dari pandangan ini, ibadah dan taklif syar’i menemukan makna yang lain. Salah satu pesan yang disampaikan kepada saya di akhir usianya adalah bacaan doa ‘Ahd yang ada di akhir buku Mafatih. Beliau berkata:
“Di pagi hari, usahakanlah untuk membaca doa ini, karena ia punya andil pada nasib seseorang.” (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Doktor Fathimah Thabathabai, menantu Imam Khomeini; istri Sayid Ahmad Khomeini
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh