Imam Khomeini Dalam Penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani (1)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i38256-imam_khomeini_dalam_penuturan_hujjatul_islam_wal_muslimin_ali_akbar_ashtiyani_(1)
Imam Khomeini ra benar-benar menunjukkan perhatiannya kepada masalah politik masyarakat. Dalam hal ini beliau luar biasa cerdas.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
May 26, 2017 08:16 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Imam Khomeini ra benar-benar menunjukkan perhatiannya kepada masalah politik masyarakat. Dalam hal ini beliau luar biasa cerdas.

Pemilihan presiden Republik Islam Iran seiring dengan opname Imam Khomeini di rumah sakit jantung. Semua pejabat sangat khawatir akan kondisi beliau. Mereka terus menerus menjenguk Imam Khomeini di rumah sakit. Semua berusaha tidak memaparkan kesulitan yang dihadapi oleh negara karena kondisi Imam. Oleh karena itu mereka berhati-hati dalam berbicara. Tapi Imam Khomeini meski dalam kondisi sakit, tetap saja menanyakan dan mencari informasi tentang semua masalah yang ada.

Masyarakat setiap hari berkelompok-kelompok datang ke rumah sakit untuk menjenguk dan menanyakan kondisi Imam Khomeini. Di setiap sudut negara Islam ini, diselenggarakan acara doa dan munajat dengan niat akan kesembuhan Imam. Namun, di saat semua orang memikirkan kesehatan Imam Khomeini, beliau sendiri menanyakan kondisi negara.

Dari sisi lain, tanggal pemilihan presiden telah dekat. Imam Khomeini terkait sensitivitas penyelanggaraan pemilihan umum, berkata kepada Haj Agha Ahmad:

“Bila ada masalah terjadi pada diriku, maka sembunyikanlah dan umumkan setelah selesai diselenggarakannya pemilihan.”

Kejadian ini menunjukkan bahwa betapa besarnya perhatian Imam Khomeini dalam menjaga pemerintahan Republik Islam Iran. Untuk itu, wajib bagi generasi saat ini dan yang akan datang yang harus menjaga pemerintahan ini, sehingga Republik Islam Iran sebagai sarana bagi pemerintahan Islam Internasional Imam Mahdi af, insyaallah.

---

Beberapa tahun setelah kudeta Nojeh, telah dirancang kudeta yang lain. Hanya saja para perancang kudeta ini adalah para anasir yang mengekor pada Timur.

Pada dasarnya, pemerintahan Republik Islam Iran yang baru berdiri ini setiap hari menghadapi konspirasi baru. Seluruh kekuatan dunia tidak tahan melihat pertumbuhan negara Islam dan bebas. Oleh karena itu mereka mengerahkan segala usahanya untuk menjadikan negara Islam ini setiap hari menghadapi kesulitan baru. Selain itu mereka juga tidak segan-segan untuk merancang konspirasi penggulingan. Namun, di hadapan kekuatan besar ini ada seorang lelaki yang tak kenal lelah, tak mau berdamai dan yang paling penting adalah mendekat kepada Allah. Bila saya katakan mendekat kepada Allah dan sisi ini kita tonjolkan, alasannya adalah saya meyakini bahwa di pelbagai tahapan Revolusi Islam, hanya ciri khas inilah yang mendatangkan pertolongan kepada kami.

Pada pertengahan malam dikabarkan bahwa kudeta akan terjadi. Yang mulia Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Ahmad Agha segera menemui Imam Khomeini. Sebagaimana biasanya, setiap malam di jam-jam itu Imam Khomeini sedang melakukan salat tahajud. Haj Ahmad Agha dalam waktu lama menunggu. Namun Imam Khomeini tenggelam dalam doa dan munajat kepada Allah. Akhirnya setelah selesai salat, Haj Ahmad Agha menyampaikan kejadian yang ada kepada Imam Khomeini. Beliau yang senantiasa berwibawa dan tenang berkata:

“Tidak masalah. Pergilah kalian dan tenanglah!”

Selanjutnya, izinkan saya untuk mengisyaratkan reaksi Imam Khomeini di masa-masa sensitif Revolusi Islam terkait fitnah Bani Sadr dan para pendukungnya dan Imam Khomeini telah menggagalkanya.

Sebagian besar teman-teman masih ingat bahwa pada prinsipnya Imam Khomeini senantiasa bersikap semacam sikap nabi di hadapan fenomena politik-sosial dan budaya. Dengan kata lain, Imam Khomeini bersikap sebagaimana sikap yang telah dilakukan oleh para nabi dalam menghadapi masalah sosial. Imam Khomeini memiliki sikap khas dalam menghadapi orang-orang seperti Bani Sadr yang sakit dari sisi sosial dan kepribadian. Imam Khomeini meyakini bahwa orang yang sakit harus diobati dan pengobatannya memiliki banyak cara; dengan nasihat dan kesabaran dan lain-lain. Bila langkah pengobatan tidak berpengaruh, sebagaimana tidak berpengaruh pada Bani Sadr, maka beliau menggunakan cara terakhir.

Pada tahapan ini, Imam Khomeini tidak memperhatikan kasus yang menurut istilah umum disebut sebagai kebaikan sosial-politik. Perhatian asli beliau pada kebaikan Islam dan kaum Muslimin.

Kita semua tahu bahwa Bani Sadr telah menipu kaum awam untuk mendukung dirinya dan dia meyakini telah memiliki dukungan dari masyarakat. Suatu hari beberapa orang dari imam salat Jumat berbagai kota menemui Imam Khomeini; termasuk para syuhada mihrab Ayatullah Sadughi, Ayatullah Madani dan sejumlah orang lainnya. Sejumlah orang ini tampak gembira setelah kembali dari menemui Imam Khomeini. Saya penasaran dan bertanya, “Apa yang terjadi, Anda semua tampak gembira?”

Mereka menjawab, Imam Khomeini berkata:

“Bila hujjat syar’i selesai, saya tidak akan berlama-lama dan ketahuilah bahwa mencopot Bani Sadr tidak lebih dari hanya satu menit.”

Imam Khomeini berkata kepada para udiensnya:

“Kalian jangan anggap saya takut pada keributan. Bila semua orang yang ada di huseiniyeh ini siap dan bersuara, “Salam untuk Khomeini” dan suatu masa mereka berbalik dan mengatakannya, maka tidak ada bedanya sama sekali bagi saya. Saya tidak menganggap penting sedikitpun segala keributan yang ada. Saya juga tidak berurusan dengan keributan dan pengucapan salam. Tapi saya hanya menjalankan kewajian syar’i; inilah dan cukup.”

---

Keteguhan dan resistensi Imam Khomeini ra di berbagai periode sulit setelah kemenangan Revolusi Islam, tidak tersembunyi bagi siapapun.

Kami menyaksikan bahwa ketika syahadah syahid mazlum Behesht dan para sahabatnya terjadi oleh tangan para munafikin [MKO] juga syahadahnya Doktor Bahonar dan Syahid Rajai, Imam tidak menunjukkan kelemahan sama sekali dan sikap tepat dan kegigihan beliau telah menenangkan hati umat yang telah berduka. Dengan model seperti ini, setiap musibah yang terjadi di setiap negara lain yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan dan sistemnya, tidak sedikitpun mengganggu pemerintahan baru Republik Islam Iran. Namun, Imam Khomeini yang tidak meneteskan air mata sedikitpun dalam menghadapi duka orang-orang yang dicintainya dan para sahabatnya, juga duka putranya yang seorang mujtahid besar syahid Mostafa Khomeini, pecahnya haram keamanan ilahi begitu mempengaruhi beliau sehingga dalam sehari beliau menangis sepuluh kali.

Kami berkali-kali menyaksikan Imam Khomeini tidak menangis kecuali karena musibah yang menimpa Aba Abdillah al-Husein as. Namun bagaimana beliau benar-benar sedih karena peristiwa berdarah yang terjadi di musim haji. Alasannya tidak lain adalah Imam Khomeini benar-benar sedih saat ayat-ayat ilahi diinjak-injak oleh para pengkhianat haram keamanan ilahi [Ka’bah] (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani, Pengurus Kantor Imam Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh